Drrrttt!
Drrrttt!
Sebuah pesan baru saja masuk ke aplikasi wechat dari handphone Arya.
Dengan malas ia menjulur tangan melalui celah dari balik selimut. Meraba untuk mencari benda pipih itu. Lalu benda itu senyap, lenyap bersama tangannya ke dalam balutan selimut.
[Ar, lu di mana sih? Jangan bilang lu masih molor?]
Sebuah chat dari kontak bernama Boby berhasil mengusik ketenangan Arya yang tengah sibuk bersemedi dalam balutan sutra tebal. "Sial! Mau ngapain sih nih anak ngecha3 malam- malam!" rutuknya.
[Iya, aku masih molor? Ngapain sih, ganggu aja!]
[Eh buset dah bos satu nih, ini kan tanggal 25]
[Trus, emang kenapa dengan tanggal 25]
[Woyyy! Masih muda jangan pikunan amat dong! Kita semua udah di dermaga nih. Kapal bakal berangkat sejam lagi! Lu di mana???]
[Tapi, ini kan masih malam]
[Malam apanya? Lihat dong jam lu! Jangan bilang lu di rumah gak punya jam!!!]
Mata Arya melirik ke dinding di hadapannya. Terpampang jelas jam yang bergambar captain amerika menunjukkan pukul 07.00, sementara tiket keberangkatan pukul 08.00.
Deg! Mata Arya terbelalak.
"Whaaat?"
Ia terlonjak dari kasur setelah melihat langsung kenyataan bahwa waktu keberangkatan tinggal satu jam, bahkan dalam pandangannya, jam dinding pun terlihat seolah menertawai kelalaiannya. Mendadak suhu tubuh Arya naik hingga 38°. "Sial!"
Tak tahu lagi betapa berserakan kamar pagi itu. Selimut yang mendadak terbang dan tersangkut di pintu lemari, sendal yang hilang entah ke mana, juga baju yang bertebaran akibat dibongkar paksa dari dalam lemari.
Setelah drama mandi yang hanya memakan waktu lima menit. Kini Arya tengah siap mengenakan kaos oblong, jaket hoodie, jeans dan sepatu cats murah.
Ia sengaja mengenakan semua barang bermerk standar, demi menutupi identitas. Tak luput, sebuah kaca mata terpaksa ditanggalkannya.
Para pengawal tampak siap di halaman menunggu sang bos. Juga seorang supir yang sudah sedari subuh siap di dalam lambourghini milik Arya.
Arya berjalan tergesa, tak dipedulikannya beberapa pelayan yang menanyakan tentang kabar cacing- cacing yang demo dalam perutnya. Ia hanya meminum jus pahit yang setiap hari dikonsumsi sebagai suplemen.
"Tuan, tolong sarapan dulu, anda bisa sakit jika pergi dalam keadaan perut kosong!"
"Tak perlu, sarapannya untukmu saja!"
"Tapi, Tuan. Bibi bilang ...."
"Sudah kubilangkan, untukmu saja. Tolong jangan membantah!" Arya bergegas pergi setelah menjawab salah satu pelayan tanpa memandang sedikitpun. Sikapnya membuat mereka mematung dengan raut cemas.
"Silahkan naik, mobilnya sudah siap sedari tadi, Tuan!" seru salah satu pengawal pribadi. Namun, Arya mengangkat salah satu tangannya, mengisyaratkan bahwa ia menolak.
"Tapi, Tuan?"
"Orderkan aku gocar, sekarang!"
"Ba-baik!" jawab salah seorang dari mereka yang langsung mengotak-atik kontak untuk menelpon taksi online.
Meski pandangan Arya ke depan. Namun, ia dapat melihat sekilas beberapa pengawalnya tampak berbisik menggosip.
"Yang berani menggosipiku, akan kupecat!" Sontak mereka berhenti menggosip. Kali ini yang terlihat hanyalah wajah mereka yang pucat, bahkan sebagian mengeluarkan keringat dingin. Spontan Arya mendekatinya. Mereka yang tadi bergosip, segera berlutut seraya memohon.
"Ampuni kami, Tuan. Tolong jangan pecat kami!"
"Bersikap sopanlah jika tak ingin kehilangan pekerjaanmu!" bisiknya di sela daun telinga mereka. Dan berhasil membuat keduanya mengangguk dengan raut melas.