17. Imajinasi Liar

1262 Kata
"Mike, sini bentar," panggil Rich. Mike tengah berhadapan bersama seorang lelaki dari HR. Ponselnya masih menyala menampilkan sederet riwayat panggilan tak terjawab. Hampir saja mulut Mike mengatakan nama Feyra dan mengadukan ketidak beradaan wanita satu itu. Untungnya, Rich memanggil Mike di waktu yang tepat. "Sini bentar, penting. Urgent," ucap Rich lagi. Rencana awal, Rich akan naik ke kabinnya dan membawa Feyra keluar dari sana. Dia akan menunda briefing dan beralasan untuk mengambil berkas yang tertinggal. Namun, sepertinya ada hal yang lebih mendesak. Jika Rich pergi dari sana, kemungkinan besar Mike akan melaporkan kealpaan Feyra. Jangan sampai hal itu terjadi. "Iya?" tanya Mike yang telah mendekat ke arah Rich. Masih dengan pembawaan yang teramat tenang, Rich lantas beralih ke arah Kai. Dia menyerahkan beberapa lembar kertas, kemudian menyalakan layar bergambar peta pelayaran. "Kai, tolong jelasin soal jadwal pelayaran besok. Aku naik dulu sebentar. Ada yang ketinggalan," pinta Rich. "Sure." "Thanks," ucap Rich yang kemudian beralih menatap Mike. "Mike, ikut naik bentar." Tanpa berpikiran macam-macam, Mike mengekor ke arah tangga. Dia sempat mengira mungkin saja Rich sedang sakit atau semacamnya. Terkadang lelaki tak ingin mengeluh di depan banyak orang. Jadi, Mike menyimpulkan bahwa atas dasar itulah Rich membawanya kesini. "Ada sesuatu?" tanya Mike sembari terus berjalan. Sebenarnya Rich tak ingin ada siapa pun yang tahu mengenai hubungan dirinya dengan Feyra. Namun, karena masalah sudah terlanjur rumit, Rich akhirnya memilih untuk mengambil keputusan dengan resiko terkecil. Setidaknya, jangan sampai nama baik Feyra buruk, jangan sampai wanita itu bermasalah, dan jangan sampai dia diturunkan dari kapal. Begitu Rich yakin bahwa posisi mereka berdua sudah aman, dia akhirnya berbalik. Rich sempat menatap kanan dan kiri, lalu kembali terfokus pada kedua mata Mike. Ini berat, tapi tak apa. Rich sudah mengenal Mike sejak sekian lama, dan dia yakin kalau Mike bisa dipercaya. "Feyra ada di kabin aku." "What?!" pekik Mike. Wajah Mike menampakkan ekspresi kaget sekaligus tak percaya. Dia kehilangan kata-kata untuk sekedar bertanya tentang apa, bagaimana, dan mengapa. Pengakuan yang Rich katakan terlalu spontan, tiba-tiba, dan sulit dicerna. "Udah, aku cuma mau ngomong itu doang. Nggak perlu lapor HR. Kalo ada yang tanya, bilang aja dia lagi istirahat kecapekan atau apalah. Ok?" Mike mengangguk walau masih tak menyangka dengan apa yang ia dengar. "Ok." "Dia aman sama aku. Mike, cuma kamu yang tau soal ini, dan aku percaya sama kamu. Kalo sampe bocor, kamu bakalan abis Mike," tegas Rich. "Ok, I see." "Satu lagi, hp dia mati. Aku yang matiin karena satu dan lain hal. Kamu udah spam chat dia, 'kan? Kalo nanti Feyra tanya kenapa, bilang aja semuanya udah aman." "Ok," jawab Mike lagi. "Good. Yuk balik, kita briefing." Rich langsung beranjak tanpa memberikan penjelasan. Dia meninggalkan Mike yang berdiri mematung dengan wajah bingung. Selang sekian detik, Mike kemudian berlari menyusul. Dalam hati, dia mengumpat. Mike merasa seperti baru saja terpengaruh hipnotis. Bisa-bisanya dia iya iya saja saat Rich mendiktenya. Sialann! Teman sekaligus atasannya itu memang terkadang berpembawaan seperti seorang dominann yang selalu berhasil membuat orang lain menurut dan menghamba. Untung saja Mike segera sadar dari kebodohannya. "Wait! Rich!" pekik Mike. "Kamu apain tu cewek?" Rick memberhentikan ayunan kakinya, kemudian berbalik. Kedua bola matanya sempat berputar, menandakan bahwa dia malas menjelaskan semua. "Panjang ceritanya. Dah, kita harus turun," ucap Rich. "Nggak. Big no. Ceritain dulu singkat. Dia bukan tipe cewek yang bisa 'dibawa'." "Nein. Emang enggak. Aku sama dia nggak ngapa-ngapain. Cuma perlu ngobrol penting." Rich hendak berbalik, tetapi Mike terus mendesak agar Rich berbicara lebih banyak. Dia merasa aneh saat wanita yang sudah seperti adik harus masuk ke dalam kehidupan Rich. Ini semua terlalu tidak masuk akal. Apalagi Feyra sama sekali tak pernah menginjakkan kaki ke dalam kabin lelaki. "Bukan Feyra yang minta masuk ke kabin aku, tapi aku yang maksa dia kesana." Mike menatap Rich sangsi. "Dan dia mau?" "Awalnya nggak mau. But, well. Dia ada disana sekarang." Mike menggelengkan kepala seraya melengkungkan bibirnya. Mike sudah cukup mengenal Feyra dengan baik. Wanita itu tak mungkin melakukan semua ini tanpa sebab yang pasti. Mike yakin ada sesuatu di antara Rich dan Feyra. Sejak awal, Mike sudah mengendus tentang hal ini. "Kalian ada hubungan apa?" tanya Mike. "Temen. Kita ada masalah, dan kita coba cari solusi." "Cari solusi dengan berduaan di kabin? Making love emang kadang nyelesein masalah sih," sindir Mike. Rich mengumpat pelan. "Mana ada. Nyentuh dia aja aku nggak pernah." "Kenapa harus di dalem kabin?" tanya Mike. "Aku nggak bisa cerita detailnya, Mike. Kita berdua cuma perlu ruang. Kamu pasti setuju kalo semua lebih baik disembunyiin." Mike meremas rambutnya yang semula tersisir rapi. Selama ini, dia mengenal Feyra adalah seorang wanita yang sangat memegang teguh kesetiaannya pada suami. Namun, saat Feyra sudah terlibat dengan Rich, Mike yakin bahwa mereka berdua pasti lebih dari sekedar teman biasa. "Jangan mikir aneh-aneh soal Feyra," pinta Rich. "Enggak. I know she's good. But, ... why?" "Ok, gini," ucap Rich yang menjeda penjelasan dengan sebuah tarikan napas panjang. "Dulu aku sama dia pernah punya hubungan." Mendengar satu pernyataan itu, Mike akhirnya mengangguk paham. Segala kejanggalan mulai tampak masuk akal. Kecanggungan Feyra saat dia membahas tentang Rich, keanehan Rich saat Kai membahas tentang Feyra, dan suasana kaku saat mereka bertiga berada dalam satu meja, semua terjawab sudah. "Ok, I got it. Poor you, Feyra. Anak baik kayak dia bisa-bisanya dapet modelan Freddy sama kamu," canda Mike. "Eat shitt! Aku udah tobat, Mike." Mike tertawa kencang. "Pantesan mendadak nggak doyan cewek. Ternyata lagi ngincer istri orang." "Damn you! Nggak kayak yang kamu pikir, Mike." "Up to you, tapi abis ini lepasin tu cewek, suruh absen ke bawah. Udah dikurung, hp dimatiin, diiket-iket juga nggak?" "Shut up, Mike." "Terus apa kabar penangkaran betinamu, Rich?" tanya Mike dengan nada jahil. "Bubar. Hpku udah dimakan paus." "Maksudnya?" Tak menjawab, Rich lantas mengeluarkan ponsel dari saku celana. Dia menjepit sudut gawainya dengan dua jari tangan sambil berucap bahwa hanya tinggal benda satu ini yang Rich punya. Dia tak lagi berkomunikasi dengan sederet kontak bernama baby. Mike tergelak dengan lebih kencang. "Thank God. Ini jauh lebih ajaib dibandingin sama sepuluh keajaiban dunia." Rich seketika mengumpat, lalu berbalik. Dia berjalan meninggalkan Mike yang masih tertawa dengan begitu puasnya. Selesai bicara, keduanya turun dan kembali bergabung bersama officer lain. Berbagai arahan dan himbauan Rich berikan setelah Kai membeberkan sederet penjelasan rencana perjalanan. Semua wajah tampak serius dan antusias. Hanya Mike yang sedari tadi terlihat seperti sedang menahan sebuah senyuman. "Kai, titip anjungan. Aku istirahat bentar," pinta Rich begitu semuanya selesai. "Sure, take your time." Kai menurut tanpa sedikit pun menaruh curiga. Berbeda dengan Mike yang justru tersenyum geli. Dia sampai harus pura-pura batuk demi bisa menyamarkan gelak tawa. Ingin rasanya Rich memukul dokter berkebangsaan Belanda itu. Jika saja sedang tidak dalam mode sandiwara, mungkin Rich sudah menghajar wajah Mike. Ekspresinya terlalu mengesalkan untuk diabaikan. Tak mau bertambah geram, Rich memilih mengabaikan Mike dan naik ke kabinnya. Dia berjalan sambil mengamati jalan mana yang terbilang sepi. Rich harus membawa Feyra turun sebelum kapal mereka berlayar. Sialnya, saat Rich masuk dan menuju kamar utama, dia justru dikejutkan dengan penampakan Feyra yang tidak biasa. Feyra tengah duduk di tepi tempat tidur dan masih menggunakan bathrobe. Sepertinya, dia baru saja mandi. Terlihat dari bagaimana kedua tangannya menggerakkan handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah. Rich sudah berdiri cukup lama di ambang pintu. Tidak masuk, tidak pula keluar. Dia hanya diam dan mengamati. Namun sejak tadi, Feyra seolah tak sadar bahwa dirinya sedang menjadi objek imajinasi liar. Damn it! Apakah Rich harus menunda lagi untuk mengeluarkan Feyra dari kabinnya? Wanita itu terlampau menggoda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN