Feyra menuruti kemauan Snow untuk turun ke geladak bawah. Di sana ada sebuah bar khusus untuk para kru kapal dan tidak boleh diakses oleh penumpang ataupun tamu dari luar. Sama halnya dengan di darat, sebuah kapal pesiar juga memiliki fasilitas hiburan malam seperti ini.
Setelah memesan segelas minuman, Snow memutuskan untuk membaur di lantai dansa, sedangkan Feyra memilih untuk tetap duduk di kursi bar. Sambil menyesap sedikit demi sedikit minuman, matanya memindai dari kiri ke kanan. Ada beberapa orang yang tengah bernyanyi dan menari, ada yang hanya duduk sambil menikmati alkohol, ada pula yang sibuk mengobrol.
Tempat ini memang bisa dikatakan sebagai surga bagi para kru kapal. Mereka rata-rata bekerja hampir seratus jam setiap minggunya. Jadi, pepatah work hard play hard, memang benar adanya. Rasanya memang perlu pelampiasan untuk sejenak melepas penat.
"Mau cocktail?" tawar seorang pelayan bar yang kini berdiri di hadapan Feyra.
"Enggak, makasih. Aku nggak bisa minum alkohol," jawab Feyra yang lebih memilih segelas soft drink.
"I see. Dokter emang harus selalu standby on call," jawabnya.
Feyra tersenyum sekedarnya. Ya, benar. Walau jam kerjanya terjadwal, Feyra tetap harus selalu siap siaga dua puluh empat jam jika saja ada seorang pasien yang membutuhkan pertolongan darurat. Jadi, dia tidak ingin mengambil resiko mabuk karena toleransi alkoholnya yang terbilang rendah.
Sebenarnya Feyra tidak terlalu nyaman berada di sini. Selama bekerja di kapal, mungkin hanya dua atau tiga kali dia ke tempat ini. Bukan tak butuh hiburan, hanya saja dia merasa sudah terlalu lelah untuk berada di sebuah pesta dan semacamnya.
Sedangkan malam ini, Feyra hanya ingin sekedar membunuh waktu. Terlalu bosan rasanya saat setiap hari harus melakukan hal yang sama, bersama orang yang sama, dan di tempat yang sama. Terlebih lagi, Feyra menjalani pekerjaannya tanpa hari libur. Sama sekali tak pernah libur.
"Tumben kesini," sapa seorang lelaki yang merupakan Staff Captain.
Feyra menoleh ke sumber suara kemudian menjawab sekenanya. Sama halnya dengan beberapa kru lain, officer satu ini juga sudah menanggalkan seragamnya saat mengunjungi tempat ini.
"Butuh refreshing?" tanya Kai lagi.
"Kurang lebih gitu. Sering kesini?" ucap Feyra bertanya balik.
Setahu Feyra, Rich bersama para senior officer memiliki tempat mereka sendiri. Biasanya mereka menghabiskan waktu luang mereka di sana. Hanya ada segelintir officer saja yang terkadang ikut membaur bersama para kru kapal di bar geladak bawah.
"Enggak juga. Cuma kadang-kadang kalo butuh 'temen'," jawab Kai. "Mau ke lantai dansa?"
"Enggak, makasih. Terlalu berisik," jawab Feyra.
"Kalo gitu aku bisa ajak kamu ke tempat yang lebih tenang. Kabinku cukup luas buat kita tinggal berdua."
Feyra tertawa renyah. "Aku yakin kabinku jauh lebih nyaman."
"Maksudmu, kamu ngajak aku buat ke kabinmu? Why not? Kita bisa ngobrol-ngobrol, minum kopi, atau mungkin melakukan banyak hal yang menyenangkan."
Damn! Feyra sudah sekian bulan terjun di dunia perkapalan, namun dia masih saja terheran dengan cara seseorang mengajak lawan jenisnya untuk menjalin hubungan dekat. Sepasang lawan jenis, berada di atas tempat tidur, hanya berdua saja, tak mungkin hanya mengobrol dan minum kopi bukan?
"No, kabinku nggak menerima tamu, dan aku nggak berminat bertamu di kabin orang lain. So sorry, Kai," ucap Feyra.
"It's ok. Aku bisa ngerti."
Feyra mengangguk dan masih berusaha tersenyum ramah. Berlawanan dengan batinnya yang merutuk kesal. Dia tahu bahwa Kai sudah beristri. Kai pun pasti tahu bahwa Feyra sudah bersuami. Namun seperti kehidupan romantisme di perkapalan pada umumnya, para penghuni kapal cenderung tak ingin membahas dan membawa nama keluarga saat berada di atas kapal.
Memang tak semua orang seperti itu. Seorang first officer asal Belanda terkenal sangat setia dan bahkan beberapa kali membawa istrinya ke atas kapal. Namun begitu, tidak bisa dipungkiri bahwa ada banyak juga yang menjalin perselingkuhan dengan sesama pekerja kapal.
Beberapa dari mereka berprinsip bahwa pasangan mereka adalah partner selama mereka berada di darat. Sementara di laut, mereka merasa bebas. Mereka bisa menjalin hubungan singkat dengan orang lain sepanjang kontrak kerja.
Hebatnya, ada juga yang melanjutkan hubungan mereka hingga mereka turun ke darat. Walau begitu, jumlahnya tidaklah banyak. Mayoritas dari mereka memilih putus dan menjalin hubungan baru dengan orang lain di pelayaran selanjutnya.
Tak bisa dipungkiri, Feyra juga mengakui bahwa godaan untuk tidur bersama lelaki lain memang sangat tinggi. Apalagi hubungan rumah tangganya dengan Fredy terbilang kurang harmonis.
Feyra sempat tergiur dengan tawaran kebahagiaan sementara yang secara cuma-cuma datang kepadanya. Tak hanya Kai, beberapa senior officer lain mulai dari yang beristri hingga yang masih lajang pun pernah menawarkan diri untuk memberikan penghiburan.
Sayangnya, Feyra seolah kehilangan hasrat dan ketertarikan dengan semua lelaki itu. Dia memang butuh seseorang, namun bukan mereka orangnya. Hatinya seolah sudah terpatri pada satu nama.
"Aku duluan ya," ucap Kai setelah menenggak habis minumannya.
Feyra mengangguk dan membiarkan lelaki itu berlalu. Dari kejauhan, lamat-lamat Feyra masih bisa menangkap bayang tubuh Kai yang tengah merangkul seorang wanita Indonesia. Kalau tidak salah, dia adalah seorang cook helper.
Tak berselang lama, kedua matanya menangkap sosok lelaki lain. Feyra lupa namanya, namun dia adalah seorang third officer. Dan tak perlu heran, lelaki itu juga membawa pergi seorang kru kapal. Bedanya dia lebih memilih wanita asal Belgia yang merupakan kru dari entertainment department.
Rich kayak gitu juga nggak ya, batin Feyra tiba-tiba.
Entah mengapa hatinya menjadi tidak tenang. Ada rasa tak rela saat membayangkan Rich melakukan hal yang sama seperti beberapa rekan kerjanya.
But, wait!
Mengapa Feyra justru mengkhawatirkan Rich? Bukankah seharusnya dia memikirkan dan merisaukan tingkat kesetiaan suaminya sendiri?
Freddy juga seorang third officer di kapal pesiar. Bukan hal yang sulit baginya untuk membawa seorang wanita naik ke atas ranjang, atau mungkin Freddy yang mendatangi tempat tidur mereka.
Oh God. Ini memang gila. Namun jujur Feyra akui, dia lebih tidak rela jika membayangkan Rich bersama wanita lain dibandingkan dengan melihat Freddy mengkhianati kesetiaan dirinya.
Tak ingin lebih berpikiran macam-macam, Feyra lantas memutuskan untuk kembali ke kabin miliknya. Sepertinya dia perlu segelas s**u hangat kemudian mencoba untuk tidur dengan nyenyak.
Sayangnya, baru saja ia ingin sejenak menenangkan pikiran, otaknya kembali kacau saat melihat Rich berjalan ke arahnya. Semakin dekat jarak di antara keduanya, semakin cepat pula suara degup jantung Feyra.
Ah, sial! Sulit sekali rasanya hidup tenang.
Berada dunia perkapalan yang sesempit ini seolah membuat keduanya tidak pernah tidak bertemu. Setiap harinya, ada saja momen yang membuat mereka berada di satu lingkup ruang yang sama. Terkadang di geladak, terkadang di main deck, terkadang di sundeck, bahkan terkadang di area bermain.
Nyapa enggak nyapa enggak nyapa enggak nyapa enggak, batin Feyra dalam hati.
Bahkan hanya untuk sekedar menimbang antara menyapa Rich atau tidak saja Feyra sudah kewalahan.
Berada di jarak sekitar lima meter, Feyra bisa menangkap jelas tubuh Rich yang masih menggunakan seragam lengkap. Dia terlihat berjalan dengan cukup terburu ke arah yang berlawanan dengan Feyra.
"Malam," sapa Feyra saat mereka hendak berpapasan.
"Malam."
Feyra sudah berusaha tersenyum ramah dengan kepala yang sedikit ia anggukan. Demi bisa bersikap sopan, Feyra bahkan sedikit memundurkan tubuhnya untuk memberikan Rich jalan.
Harus profesional, batin Feyra.
Dia tak henti mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak lagi membahas hal pribadi. Perbincangan terakhir antara Feyra dan Rich beberapa waktu yang lalu tidak pernah Feyra lupa. Dia harus menciptakan sebuah batasan di mana di antara mereka hanya boleh ada interaksi layaknya rekan kerja. Tak boleh lebih dari itu, tetapi tak boleh juga tampak bermusuhan.
Beberapa hari terakhir, Feyra memang berhasil menampakkan ekspresi normal saat tak sengaja berpapasan atau bertemu dengan Rich. Feyra bisa membawa diri dan membangun hubungan baik layaknya seorang dokter dan kapten kapal.
Sayangnya, justru sikap Rich-lah yang terlihat berbeda. Lelaki itu cenderung bersikap acuh, tak peduli, dan bahkan beberapa kali sengaja menghindari.
Seperti yang sudah-sudah, kali ini Rich juga enggan membalas dengan respon yang ramah. Jangankan untuk membalas senyum. Sekedar menatap mata Feyra pun tidak.
Lelaki itu memilih untuk membuang wajah. Dia mengambil langkah lebih cepat, tidak menoleh, dan menolak membuka peluang untuk berinteraksi lebih lama dengan Feyra.
"Ya Tuhan. Aku salah apa lagi sih sama dia. Perasaan aku udah nurutin kemauan dia, tapi kok ya seolah-olah aku masih salah. Tu manusia liat aku kayak liat hantu," gerutu Feyra seorang diri.
Masih berusaha bersikap tak peduli, bayang tubuh Rich lantas menghilang di balik pintu penghubung. Tanpa Feyra ketahui, di balik sana badan Rich sedang mematung. Dia bersandar pada dinding dengan tatapan mata kosong. Napasnya terengah seolah baru saja melakukan olahraga berat. Bibirnya bergetar, tapi tak ada satu pun kata yang terucap.
Perlahan sorot mata Rich mulai meredup. Benaknya sedang terbang entah kemana. Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Seolah ingin mencurahkan rasa sesak dalam dadanya, manik abu-abu milik Rich mulai tampak berkaca. Tidak sampai menangis, tapi terlihat jelas bahwa di sana ada seberkas rasa perih.
Rich sebenarnya tak ingin bersikap seperti ini kepada Feyra. Berhari-hari dia sudah mencoba bersikap biasa saja. Sayangnya, Rich selalu gagal.
"Aku masih sayang kamu, Fey," lirih Rich dengan suara yang teramat pelan.