13 Juni
Hari Minggu yang biasa ia gunakan untuk bangun siang dan malas-malasan kini mendadak berubah 180 derajat. Pukul enam pagi, Sky sudah siap dengan pakaian olahraganya. Hari ini ia, Junio, dan Syifa memutuskan untuk jogging bersama di stadion yang tidak jauh dari sekolah mereka.
“Pa, Sky mau ke stadion dulu ya.”
Mama dan papanya yang sedang berada di ruang makan terheran-heran dengan penampilan Sky. Namun, mereka tetap mengizinkan anaknya itu untuk olahraga pagi di stadion bersama dua temannya yang lain.
Sky mengendarai motor seorang diri menuju stadion. Jarak yang tidak terlalu jauh membuat papanya membolehkannya berkendara sendiri. Tidak sampai 15 menit, Sky sampai di parkiran stadion. Ia mengambil ponsel dari drawstring backpacknya. Ia melakukan panggilan kepada Syifa yang lima menit kemudian tidak menunjukkan batang hidungnya.
Duduk di atas motor dengan matahari yang perlahan terik membuat Sky mengaduh. “Katanya jogging jam enam. Udah mau setengah tujuh belum juga datang.”
“Kalo yang lo omongin itu gue, sorry gue kelewat tepat waktu sampai harus sarapan duluan,” ucap Junio yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya. Sky hampir terperanjat dibuatnya.
“Kurang ajar ya lo, ngagetin aja.” Sky memukul ringan lengan laki-laki itu. Junio terbahak ringan setelah menegak air yang ia ambil dari drawstring backpack milik Sky.
“Mana Syifa?” tanya Junio pada Sky yang sedang menatap pemandangan yang berada di depan dekat pintu masuk stadion. Junio mengerutkan kening ketika mengikuti arah pandang perempuan di sampingnya itu.
“Lo ngliatin apa sih, Sky?” tanyanya heran karena tidak mendapati sesuatu yang salah.
Sky mengalihkan pandangan, kemudian menggeleng. “Nggak. Bukan apa-apa.” Junio hanya mengendikkan bahu tidak peduli.
Ia melihat seseorang yang membuatnya tertegun selama beberapa detik. Ia melihat wajah itu meski samar karena jaraknya yang cukup jauh. Sky akui wajah laki-laki tadi lumayan dan jarang ditemui di daerah ini. Tidak heran membuat Sky terpana.
Sky kembali memasang wajah tak acuhnya. Ia menarik paksa tangan Junio yang terpasang jam. Sudah hampir 30 menit ia menunggu Syifa yang tidak kunjung datang. Karena kesal, ia pun menyuruh Junio untuk jogging sendirian lebih dulu, sedangkan Sky memilih untuk memasang earphone pada kedua telinganya.
“Yaudah gue duluan deh ya,” ucap Junio melambaikan tangan setelah mengatur smart watchnya.
Saat Sky baru saja memasang earphone pada telinga, terdengar suara sekelompok perempuan yang usianya kira-kira masih 15 sampai 17 tahun. Salah satu dari mereka ada yang menyeletuk, “Kemarin gue dikasih bonus sama yang waktu itu.”
Sky mulai mengerutkan kening, penasaran dengan pembahasan mereka. Sky memilih untuk membiarkan earphone itu terpasang tanpa musik dan ia pun melanjutkan pemanasan ringan. Seluruh tubuhnya bergerak mengikuti ketukan, tapi telinganya juga jeli mendengar pembicaraan mereka.
Seorang perempuan dengan legging abu-abu menyahut, “Berapa bonus lo? Gue kemarin lama banget.”
Satu kelompok itu tertawa. Sky menyeringai mulai mengerti pembahasan mereka. Ingin rasanya ia menyudahi kegiatan mengupingnya, tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya.
“Sejuta doang katanya gue enak bawanya.” Perempuan yang tadi menyombongkan bonusnya tertawa bangga.
“s****n lo,” ucap perempuan dengan crop top hitam di sebelahnya.
“Nyokap gue kemarin ketemu sama cowok gue semalam,” ungkap perempuan lain yang mengenakan sepatu running yang cukup mahal. Sky tahu karena kakaknya punya sepatu merk Gel-Cumulus 21 Winterized.
“Gila! Tuh cowok jemput lo depan rumah?” seru teman-teman yang lain terperangah. Sky yang mendengar penuturan itu turut menyunggingkan senyum samar. Nyalinya besar sekali untuk mendatangi dan meminta izin seperti yang dikatakan itu.
Sky makin bersemangat mendengarkan sekelompok perempuan itu mengobrol meski gerakan pemanasan ia lakukan berulang-ulang. Namun, niatnya itu pupus karena tepukan di bahu membuatnya sedikit terperanjat.
“Syifa! Lama banget, sih!” serunya kesal. Sky hampir mengumpat kaget karena kedatangan Syifa yang tiba-tiba itu.
Syifa terkekeh. “Sorry, Sky. Gue tadi nganter bokap ke bandara dulu, trus malah macet.”
Sky mendengkus, kemudian pandangan beralih pada sekelompok perempuan tadi. Mereka masih di sana, duduk sambil berbincang ditemani semangkuk bubur. Syifa mengikuti arah pandang Sky. “Lo liatin apa?”
Sky menaruh telunjuk ke depan bibirnya, kening perempuan di sebelahnya itu mengernyit tidak paham. “Kenapa, sih?” tanyanya berbisik.
Sky melepas earphonenya dan memutar bola matanya malas. “Lari dulu yuk, gue ceritain ntar. Junio udah hampir kelar dua putaran kayaknya.”
“Ya udah, yuk.” Syifa berlari mengikuti langkah Sky yang tidak terlalu cepat, tetapi stabil.
“Jadi, kenapa lo tadi liatin mereka?”
Sky tersenyum lebar. “Itu tadi gue nggak sengaja denger mereka ngobrol.”
“Mereka ngobrolin hal yang menurut gue wow banget, sih. Nggak nyangka aja kalo pembahasan kayak gitu udah nggak tabu di kalangan mereka.”
“Kenapa sih emangnya?” Keningnya berkerut.
“BO, Syif. Lo tahu?”
Syifa ikut memelankan kecepatan larinya demi bisa mendengar lebih jelas cerita Sky. “Serius lo? Segitunya?”
Sky mengendikkan bahunya. “Mereka dapat bonus kadang-kadang. Gue dengernya gitu, sih.”
“That’s was so suprisingly,” ungkap Syifa yang benar-benar terkejut dengan cerita Sky. “Tapi emang kayaknya hal gitu udah nyebar nggak sih? Kayak udah biasa buat mereka.”
“Agreed. s*x tuh nggak tabu sebenernya, Cuma kalau yang diceritain itu pengalaman mereka kayak weird banget.”
Mereka kembali berlari dengan tempo sebelumnya. “Ngeri banget, sih,” sahut Syifa.
“Dah lah itu urusan mereka, lari aja yuk.” Sky mulai mempercepat lajunya meninggalkan Syifa.
Mereka berlari mengitari stadium sebanyak lima putaran. Pada putaran terakhir, mereka melihat Junio yang sedang duduk berselonjor kaki di tempat Sky sebelumnya. Mereka menghampiri Junio dan dengan segera laki-laki itu menyodorkannya botol mineral.
“Nggak lagi-lagi deh gue jogging sama lo berdua,” ungkap Sky setelah menegak habis botol mineral itu.
Syifa tersenyum sambil meringis menyadari kesalahannya. “Sorry Sky. Bokap minta dianterin ke bandara tadi, eh nggak tahunya jalanan macet parah.”
Sky memutar bola matanya. “Lo juga, rumah paling deket malah ngaret,” ujarnya pada laki-laki di depannya dengan mata sinis.
“Yah, sewot banget sih. Iya sorry gue bangun kesiangan tadi baru ingat kalo kita janjian jogging,” kekehnya. “Jangan marah-marah ntar cepet tua,” ledek Junio yang makin menyebalkan. Sky mendesis malas.
“Ya udah sebagai permintaan maaf, gue traktir makan deh.” Syifa merangkul lengan kiri perempuan yang masih merapikan isi drawstringnya. Sky meliriknya dengan penuh selidik. Tangannya sibuk memsukkan botol minum, earphone, dan ponsel ke dalam tais. “Yakin lo?”
Syifa mengangguk yakin. Hitung-hitung ini sebagai penebusan atas kesalahannya. “Iya, sarapan gue bayarin yuk.”
Tidak mau membuang kesempatan, Sky lantas menganggukkan kepalanya setuju. Junio kebingungan melihat mereka berdua. “Gue?” tanyanya sambil menunjuk diri sendiri. “Gue gimana? Gue ikut deh, ya.”
“Bayar sendiri tapi lo,” jawab Syifa yang diikuti tawa renyah Sky. Junio memutar bola matanya. “Fine!”
Mereka bertiga menaiki kendaraan masing-masing menuju outlet McD terdekat. Jarak yang mereka tempuh hanya memakan waktu lima menit perjalanan. Mereka menempati meja yang letaknya berada di ujung dekat taman.
“Lo nasi uduk kan?” tanya Syifa memastikan.
“French fries sama cone yang oreo juga jangan lupa,” pesan Sky sembari membuka drawstring miliknya.
Junio menyela ketika Syifa hendak beranjak dari tempat duduknya. “Gue pesenin sekalian dong, ntar duitnya gue ganti.”
“Kebiasaan lo,” dengkus Syifa, kemudian antre memesankan makanan.
Sky memainkan Candy Crush pada ponselnya sambil menertawakan Junio yang dimarahi oleh sahabatnya tadi. “Mampus lo digalakin Syifa,” celetuknya membuat Junio berdecak.
“Lo berdua kalo soal makanan pelit banget anjir. Kesel gue.” Junio mengalihkan pandangannya menatap taman kecil di samping mereka duduk.
Sky mendesah kesal ketika nyawa pada permainannya itu habis. Ia mengunci layar ponsel dan bersedekap. Pandangannya mengitari seluruh isi restoran. Matanya terkunci pada sosok laki-laki yang dilihatnya pagi tadi.
Laki-laki itu mengenakan kaos kasual berwarna biru muda dengan topi yang menghiasi kepalanya dan tas ransel di salah satu bahunya. Wajahnya masih tidak terlihat jelas oleh Sky, tapi ia yakin kulit laki-laki itu bersih dan tidak gelap.
Tampak laki-laki itu balik berbalik badan dan melihat ke arah Sky. Ia pun lantas membuang muka seolah tidak terjadi apa-apa. Beruntung Syifa tepat waktu membawa senampan makanan pesanannya tadi. Dengan sigap, ia mengambil alih nampan itu dan meletakkannya di atas meja.
“Thankyou, Cip!” Sky mengambil seporsi piring dan mendekatkannya. Ia sengaja melirik ke arah tadi untuk mengecek apakah laki-laki tadi masih ada atau tidak.
Sky mendesah kecewa setelah tidak mendapatinya di sana. Matanya mengelilingi kembali seluruh restoran, tapi nihil. Laki-laki itu tidak ditemukannya sama sekali. Wajahnya tertekuk sebentar, tapi tak lama ia mengalihkan pikiran terhadap makanan lezat di depannya.
“By the way lo jadi dibolehin ke Jakarta, Sky?” tanya Syifa menggigit ayam.
Sky mengendikkan bahu. Tangannya menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya. “Asal sama lo gue sih dibolehin. Lo bantu ngebujuk tapi,” jawab Sky tersenyum unjuk gigi.
“Lo berdua ke Jakarta?” tanya Junio setelah menyeruput soda.
Sky mengangguk. “Iya, lagian gue daftar SNMPTN kemarin rada ngasal isinya,” kekehnya. Junio menggeleng tidak habis pikir. “Gila lo nyia-nyiain kesempatan.”
“That’s not what I need, though!” dengkus Sky.
Junio lagi-lagi menggeleng. “Orang pintar mah bebas,” cibirnya.
Syifa menyela. “Kadang pilihan orang tua emang nggak sesuai sama yang lo mau. Kalau lo lakuin sesuatu yang nggak lo suka ya nggak bakalan berhasil ke depannya. Lo bakal merasa tertekan terus. Gue sih mending cabut dan nentuin pilihan gue sendiri, terlepas nanti pasti ada risikonya, tapi nggak ada salahnya nyoba, ‘kan?”
Sky bertepuk tangan dengan antusias. Wajahnya seolah mengatakan, “Tuh dengerin kata-katanya Syifa!”
Laki-laki itu hanya memutar matanya. “Terserah lo pada, deh. Asal lo kuliahnya rajin, gue sebagai teman yang baik dan berbudi ini dukung terus.”
“Gitu lebih baik,” balas Sky sambil melanjutkan makannya.
“Habis ini temenin gue packing pesenan dong,” pinta Junio. Keluarganya memiliki usaha catering dan kue. Sky dan Syifa sangat suka mengerjakan bagian bungkus-membungkus. Kedua mata mereka selalu berbinar setiap Junio meminta bantuan.
“Oke!”
“Siap!”
Kadang-kadang kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Menjalani sesuatu yang tidak menjadi minat kita hanya akan membuang waktu, tenaga, pikiran, dan hati. Jujur sama diri sendiri adalah kunci kebahagiaan. Pun kita tidak bisa menggantungkan harapan kepada orang lain karena semua orang ada waktunya datang dan pergi.