Handoko marah. Paginya hancur oleh sebuah map berwarna cokelat yang ditujukan untuk dirinya. Isinya benar-benar tidak terduga. Meski dari awal sudah dirinya katakan bahwa perempuan bernama Senja memanglah murahan. Tapi fakta pada foto-foto yang tercetak, jelas memperkuat penilaiannya. Yang Handoko jadikan sasaran utama adalah Diayu. Menyambangi langsung di mana istrinya berada—tidak peduli pada larangan pemerintah—Handoko berdiri penuh kebencian di hadapan Diayu. “Pulang!” titahnya tegas. Mata kelamnya menatap Radit dan Senja awas. “Urus perceraian kalian!” Bukan Senja yang terhenyak. Melainkan Diayu. Wajahnya kentara tidak suka pada apa yang suaminya katakan. “Romo nggak pernah berubah.” “Diam!” “Romo nggak bisa ngatur kehidupan Radit.” “Dia anakku.” “Bukan berarti hidupnya punya Romo.”

