Berlahan kedua kelopak mata Layla terbuka dan kini wajah lelap Arfan lah yang menyambutnya. Cukup lama Layla menelisik wajah pria tampan di hadapannya, pria itu adalah sumber cinta dan kekuatan terbesarnya hingga ia berada di titik ini. Belum puas ia mengagumi wajah tampan suaminya tiba-tiba rasa penasaran mengusiknya kembali. Ia tilik jarum jam dinding yang berhenti tepat diangka 4 dini hari lalu tanpa berpikir panjang ia tarik laci di sebelah ranjangnya kemudian dengan hati-hati ia mengambil 1 testpack dari dalam laci tersebut dan masuk ke dalam kamar mandi tanpa menimbulkan suara yang bisa membangunkan Arfan. "Bismillah," gumam Layla dengan jantung berdebar keras saat testpack tersebut ia celupkan alat tersebut dalam wadah kecil berisi air urinnya. Ia angkat testpack tersebut berlahan

