Ruangan terasa hening, padahal ada tujuh kepala di ruang tengah Raya. Semua perhatian tertuju pada Agastya yang duduk dengan bahu luruh. Pilihannya untuk duduk di sofa tunggal menjadikannya semakin terlihat rapuh dan kesepian. " Kenapa kalian berdua gak bilang sih ?”" Andra menatap Raya. " Hubungan kamu ama Jendra dulu gak ada hubungannya dengan Tya dan apa yang dialaminya. Kami sepakat gak ada gunanya menimpakan masalah dengan menceritakan semuanya dan akan mengganggu hubungan kalian.” Raya menatap Agastya yang hanya terdiam , " Tya berharap yang terbaik untuk kalian, makanya dia selalu berusaha memberikan solusi setiap kalian bertengkar.” " Dan aku selalu ribut dengan kutukan itu.” Andra menutup wajahnya. " Bukan salahmu, kamu kan gak tau .".. “ sahut Agastya tersenyum tipis. " La

