"Aboeji, bolehkah aku ikut melihat upacara pernikahan Han Byeol?" tanyaku hati-hati. Seperti biasa, aboeji langsung menatapku tajam. Aku tak peduli jika harus mendengar kemarahan atau pun merasakan tamparan aboeji lagi. Yang kuingin hanya keluar dari rumah ini dan bertemu dengan namja itu. Setidaknya sekali sebelum akhirnya aku membusuk di rumah tua ini. Aku tak salah kan? "Apa? Kau ingin melihat pernikahan Han Byeol? Di istana? Mustahil. Kau tak boleh ke sana!" ujar aboeji. Sudah kuduga ia akan mengatakan hal sedemikian rupa. "Aboeji takut orang tau bahwa seorang putri mahkota adalah anak kembar? Tenang saja aboeji, aku akan menyembunyikan wajahku. Aku berjanji. Tapi beri aku kesempatan aboeji. Aku tak diperbolehkan menikah sampai ajal menjemput, lalu apakah aku ta

