"Kayaknya kita telat deh Key" bisik Gilang saat mereka melihat wanita paruh baya dengan baju yang cukup minim sambil menatap mereka tajam.
Tubuh Keyra menegang ditempat. Jika mamah nya sudah menatap mereka seperti itu ia yakin bahwa sebentar lagi akan ada sesuatu yang tak di inginkan.
"Loh anak mamah udah pulang" sindir Hana
"Mamah masih sering ke tempat itu?"
"Bukan urusan lo! Mana duit?!" bentak Hana.
"Tapi aku belum gajian mah"
"Halah boong! Tuh buktinya lo jalan sama nih cowo pasti abis dari hotel kan"
"Astagfirulah mah, aku ga semurah yang mamah pikir" mohon Keyra sambil menahan isak tangis nya.
"Gue ga peduli! Yang gue butuh cuma duit dari lo bukannya air mata buaya lo! Siniin duit lo cepet!"
"Mah, aku--" ucapannya terpotong saat tiba tiba Gilang memberikan lima lembar uang bernilai seratus ribu rupiah kepada Hana.
"Nih tan"
Mata Keyra membulat. Sudah kesekian kalinya Gilang selalu melakukan hal ini. Bahkan Keyra sendiri tak tau harus membayar nya dengan cara apa, karena setiap ia ingin mengembalikan uang kepada nya Gilang selalu menolak keras uang tersebut.
Gilang membalas tatapan Keyra dengan senyum meyakinkan.
"Nah gitu dong! Sering sering deh lo bawa dia pulang malem. Ngapain kek gitu. Kalo bisa sih ampe ga pulang ya" sinis Hana sambil menatap jijik Keyra lalu memasuski rumahnya.
"Nangis aja gapapa kali" sindir Gilang.
Namun diluar dugaan nya tangis Keyra pecah.
"HUAAAA GILANGG!!"
Gilang terkejut bukan main. Ia hanya bercanda namun Keyra malah menganggap nya serius.
"Duh mampus gue! Key sumpah gue becanda!"
"HUAAAAAA!!"
Dengan reflek Gilang memeluk Keyra
"Sssttt cup cup cup anak papiii diem dong cantikk nanti atu dikira jadi tukang cabull" ucap Gilang sambil mengelus rambut Keyra.
"Hikss LANGGG!! Gue capek Langggg! Apa gue se sampah itu sampe tante Hana jijik liat gue?!" Keyra memeluk Gilang dengan erat.
"Hey, siapa yang bilang gitu? Kalo lo sampah ga mungkin gue rela meluk lo kayak gini mana baju gue basah noh ingus lu semua" ejek Gilang.
"Ish lo mah!" ia melepaskan pelukannya. Gilang tertawa
"Inget ya, se jelek apapun lo dimata mereka bagi gue lo itu berlian buat gue. Ngerti?" ucap Gilang sambil menangkup wajah Keyra.
"Siap Bu!" hormat Keyra.
"Bu?"
"BABU HIYAAAA!!" ejek Keyra sambil berlari memasuki rumahnya.
Namun langkahnya terhenti saat Gilang memanggilnya.
"WOI SATU LAGI!"
Keyra membalikan tubuhnya.
"Apaan?"tanya nya.
"In secret u're beautiful" Gilang tersenyum tulus
"Kirain apaan, siap deh b***l!"
"Heh! Apaan lagi tuh?!"
"BABU GILA!! HAHAHAHA!" ia berlari meuju rumahnya.
"Ngadi ngadi aje bocah nya"gumam Gilang lalu meninggalkan rumah Keyra.
• • • •
"Etdah nih muka breakout apa kena azab yak" ejek Keyra pada pantulan dirinya di cermin kamarnya.
"Kaga salah sih kalo si tante bilang gue mirip macan tutul emang kenyataan nya gitu" lanjutnya.
"Bodoamat dah mending gue chat Rayhan yuhuuuu ayem kamingggg"
Bubuuu
Assalamualaikum calon imam
Mau dimasakin apa nich besok?
Aku masakin roti bakar mauu?
Yahh ko centang satu
Udah tidur ya?
Yaudah good night hihiww
Mimpiin kita lagi di pelaminan yaa☺❤
Key sayang sama Rayyy
"Chat Rayhan udah. Skuyy skincare an biar glowing shimmering splendid melilit uhuyy" ucapnya sambil berjalan meuju meja riasnya.
Dengan perlahan ia mengoleskan segala krim perawatan miliknya ke wajahnya.
"Skincare ga skincare sama aja muka gue. Badan juga tetep aja kayak gajah Thailand. Emang udah kodratnya gue jadi manusia hasil collab ama kentang." lirihnya.
Pandangan nya terhenti saat melihat sebuah figura di ujung meja riasnya lalu mengambilnya sambil mengusap figura tersebut dengan tersenyum sendu.
"Gue kangen sama lo bang. Gue kangen sama keluarga kita yang kayak dulu. Semenjak lo pergi semuanya berubah. Ga ada mamah yang sering jadi partner masak. Ga ada papah yang sering kasih lawakan receh kayak dulu" air matanya turun ketika harus mengingat awal masa kelam keluarganya.
13 tahun yang lalu..
"La! Main perang perangan yuk!" ajak seorang anak laki laki bernama Radian Hartono, kakak dari Keyra sambil membawa pedang mainan miliknya.
"Ayoo! Tapi tungguin Lala ya! Lala mau ambil senjata punya Lala" gadis itu berlari meuju dapur rumahnya dan mengambil sebuah pisau.
Setibanya ia di dapur. Gadis itu melihat sebuah pisau yang terletak di ujung meja makan rumahnya. Dengan cepat ia berjinjit untuk mengambil pisau tersebut dan langsung berlari menuju ruang tamu.
"Udah! Ayo bang main!"
"Siap ya! 1..2..3!"
Mereka mulai saling melawan satu sama lain dan saling menghindar agar tak terkena oleh senjata masing masing.
"Nakk makan dulu yuk! Papah udah masakin nasi goreng kesukaan kalian loh!" ucap seseorang dari dapur
"Iya pah bentar lagi udahan nih!" sahut Radian.
Saat Radian mulai lengah, Keyra memanfaatkan kesempatan itu dengan menusuk bagian perut Radian dengan pisau dapur miliknya.
"Horee Lala menangg abang kalah yuhuuu..abang mati duluann yeyy" sorak Keyra.
"Udahan yuk mainnya kita makan dul--" piring yang dibawa sang papah jatuh ke lantai saat melihat putranya tergeletak di lantai dengan banyak darah dibagian perutnya.
"Ya Allah Radian!"
"Pah aku keren kan bisa kalahin abang?!" tanya Keyra dengan senyum bahagianya.
"Selamat ya La, k-kamu menang" ucap Radian dengan suara yang terbata bata sambil tersenyum tipis.
"Pah, jangan salahin Lala ya" lanjutnya sebelum pandangan nya menggelap.
"Radian! Nak bangun nak!" panik Rama sambil mengguncangkan tubuh Radian.
"Loh?Abang kenapa pah?" tanya Keyra.
"Ayokita ke rumah sakit sekarang! Nanti papah jelasin!"
"Maaf pak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Tuhan lebih sayang sama anak bapak. Sekali lagi saya minta maaf pak" mohon sang dokter yang baru saja keluar dari ruangan operasi.
"Ga. Ga mungkin. Dokter pasti bohong kan?" Rama tertawa hambar.
" Maaf pak. Tapi memang ini kenyataan nya. Sekali lagi saya minta maaf pak. Permisi" pamitnya.
Senyum Rama memudar digantikan oleh isak tangis dan derasnya air mata. Tubuhnya meluruh hingga ia terduduk lemas di lantai rumah sakit.
"GA MUNGKIN! INI PASTI MIMPI!RADIAN MASIH HIDUP!"
Keyra menghampiri Rama dengan perasaan takut.
"Pah? Papah gapapa?" tanya Keyra.
Rama mendongak dan langsung memeluk Keyra dengan erat.
"Maafin papah nak" cicit Rama.
"Maksud papah?"
"Kalau aja papah ga ninggalin dapur waktu itu mungkin papah ga akan biarin kamu ngambil pisau itu dan ga akan papah biarin kalian mainan kayak gitu" ucap Rama dengan penuh penyesalan.
"Aku ga ngelti maksud papah" ucap Keyra sambl menahan isak tangis nya yang pecah
"Kamu ga salah nak" Rama menghapus air mata Keyra.
"Aku yang salah pah" lirih Keyra. "Kalau ajau aku ga sembarangan ngambil pisau itu dulu mungkin kondisi keluarga kita ga akan se ancur ini" lanjutnya
• • • •
"Apa gue harus ngelakuin itu ya?"