✍ PART 5 :| Somethin’ Stupid — Sesuatu yang Bodoh

1972 Kata
◦•●◉✿❁ 2006 ❁✿◉●•◦ ⠀ ✒️ ❝ Langkahmu bergantung pada hatimu berharap berada di mana.  Pilihannya hanya berjalan lurus.  Jika yang ingin kamu tuju berada di persimpangan jalan,  mungkin nantinya kamu akan memilih berbelok. ❞  ⠀ { Notes 6 - Roselva Walen — Romantic Dance (Dansa Romantis) } ✒️  ⠀ ⠀ Selva meratap pilu. Masa sih, nggak ada yang datang ke toilet ...? Masa nggak ada yang mendengarku?  Oh ... ayolah ... datang. Siapa saja, help me!!! I'm dying here (bantu aku!!! Aku sekarat di sini)! Selva tersedu lagi.  Entah sudah berapa lama Selva termenung di sana. Sampai akhirnya ia mendengar langkah seseorang mendekat. Semangatnya kembali timbul.  "TOLONG ...!!! AKU TERKUNCI DI DALAM ...!!!" jeritnya dari dalam toilet.  Diam sejenak.  "Tolong dong, buka pintunya!" seru Selva dengan suara sengau.  Diam lagi.  Jangan-jangan itu setan, Selva bergidik ngeri.  "Loe dimana?"  Suara cowok? Selva terkesiap. Kenapa ada cowok masuk ke sini? pikirnya heran. Tapi, mungkin cowok itu dengar teriakanku dari luar kemudian berniat menolong. Positive thinking (Berpikir positif), Selva! Semoga orang itu bukan cowok c***l yang berniat mengintip perempuan di toilet.  "Hello ...," panggil suara di luar sekali lagi.  "Di sini," balas Selva sambil menepuk-nepuk dinding bilik yang ditempatinya.  "Tunggu, ya. Gue dobrak aja," kata suara itu sedikit menjauh. "Loe bego, sih. Nggak lihat apa, di pintunya ada tulisan, 'nggak bisa dipake, lagi rusak'!"  Selva menghembuskan napas keras. Aku memang nggak lihat, batinnya. Gara-gara cowok itu!  "Bisa naik ke atas jamban, gue takut ntar loe kena."  Selva menuruti kata-kata cowok tadi. Ia naik ke atas jamban dengan patuh. Tidak lama kemudian terdengar dobrakan di pintu. Satu kali, kelihatannya gagal. Dua kali, engselnya mulai renggang. Lalu yang ke tiga, akhirnya pintunya jebol.  Selva memekik kaget. Pintu itu roboh ke lantai dengan bunyi gedebuk keras, tetapi malang, si cowok tidak bisa lagi mengontrol tenaganya sehingga ikut terseret masuk dan menubruk Selva. Tentu saja Selva ikut-ikutan jatuh. Terhimpit di bawah badan cowok itu.  Napasnya yang hangat memenuhi wajah Selva. Hidung mereka saling beradu. Mereka sama-sama terpaku. Dengan tiba-tiba cowok itu segera bangkit. Mukanya kelihatan memerah, walau tidak semerah wajah Selva.  Si cowok mengulurkan tangannya untuk membantu Selva bangun.  Setelah berpandangan beberapa saat, cowok itu tersenyum.  "Hei, kamu yang tadi sore, 'kan?" tanyanya lembut. Sudah tidak menggunakan kata 'loe-gue' lagi.  Selva mengangguk. Lalu menunduk begitu merasa tak bisa menangkis tatapan cowok itu. Namun, si cowok malah mengangkat dagunya, sehingga mereka kembali beradu pandang.  "Kamu habis nangis ya?" tanyanya dengan alis bertaut.  Selva menggeleng cepat.  "Bohong! Mascara kamu beleber tuh!" kekehnya sambil menghapus mascara yang belepotan di sekitar pipi Selva.  Selva tercenung. Baru saja ia ditolong cowok yang membuatnya menangis tadi dan mereka benar-benar bicara.  Berdua saja!  Di toilet pula!  Dengan maskara yang beleber pula!  Kenapa juga Selva harus pakai maskaranya Elga! Malunya dobel!  Selva menatap ubin. Aduh ..., jerit hatinya. Kenapa jadi deg-degan begini .... Ya Tuhan, jantungku rasanya mau copot. Duh ... jangan dong, kok rasanya jadi panas begini, sih, pikir Selva. Ia menggigit bibir. Jangan-jangan mukaku jadi kelihatan merah. Aduh ... keringatan lagi. Selva menghapus keringat yang tiba-tiba mengalir di dahinya.  "Panas, ya?" tanya cowok itu lagi. "Kalau gitu kita keluar, deh."  "Tapi ... pintu toiletnya?" tanya Selva ragu. Cemas saat sambil melirik bilik yang sudah tak berpintu lagi.  Cowok itu berbalik, kemudian meletakkan jari telunjuknya di bibir sambil bilang, "Sttt ... ini rahasia kita," katanya sambil mengedipkan mata.  Selva tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat punggung cowok yang sudah berjalan mendahuluinya. Cowok aneh! batin Selva. Tapi menarik.  Ia mempercepat langkahnya, menyusul satu meter di belakang.  Kok gitu, sih?! protes Selva dalam hati. Mestinya dia menggandeng aku, dong! Kalau penari latar itu bisa dia cium, kenapa jalan di dekat aku aja nggak bisa?!  Namun, Selva tetap berjalan mengikutinya. Berusaha menyamakan langkahnya dengan si cowok, meski kelihatannya cowok itu sengaja mempercepat jalannya.  "Meja kamu di mana?" tanyanya lagi. Kali ini Selva sudah persis berada di sampingnya.  "Nomor tujuh."  Si cowok menggumam kecil. Lalu kembali berjalan duluan, tetapi tiba-tiba ia berbalik ke sisi Selva. Ia menggenggam jemari Selva, membuat Selva terperanjat kaget. Tidak menduga akan diperlakukan semanis itu. Jantungnya kembali berlomba menabuh kencang. Ia menggigit bibir, berharap cowok itu tidak mendengar suara detak jantungnya.  Selva terus memperhatikan setiap gerakan cowok itu. Kelihatan lembut namun jantan. Apalagi ketika menuntunnya, menerobos orang-orang yang masih sibuk berdansa. Sekarang Selva mengerti. Tadi dia ditinggal di belakang karena di sana nggak rame. Kalau di sini 'kan, bisa-bisa Selva dilibas orang.  ⠀ "Sel ...!!!" sorak Nabel ketika mereka sampai ke meja tujuh. Mata cewek tomboy itu menatap heran. Kenapa Selva bisa sama-sama cowok itu lagi? pikirnya.  Yadine tersenyum usil. "Kita pikir loe kemana, taunya nyariin dia, ya?" godanya seraya melirik nakal ke arah mereka berdua. "Gerak cepat ...."  Selva mendelik, enak aja gerak cepat! Selva ngedumel dalam hati. Ia menunduk, lalu duduk ke bangkunya.  "Boleh aku gabung di sini?" tanya cowok itu lagi diikuti anggukan teman-teman Selva. Kemudian ia menarik kursi kosong di sebelah mereka. Duduk mengangkang dengan dagu bertumpu pada sandaran kursi. Ala cowok banget.  Cowok itu tersenyum sekilas. Setelah duduk, matanya kembali menatap Selva.  "Sorry, ya. Dua kali kita ketemu, kamu selalu kubuat jatuh," ujarnya.  Iya bener, batin Selva. Bukan jatuh biasa. Tapi, jatuh cinta.  "Oh, ya? Kenapa bisa gitu?" tanya Yadine yang kelihatannya berminat sekali sama si cakep itu.  "Pertama, waktu di pantai, aku nggak sengaja nyenggol dia ...," – (lebih tepatnya 'nyeruduk', batin Selva lagi), – “... karena aku juga didorong orang dari belakang.  Trus, tadi ... I'm so sorry (Aku sungguh menyesal). Aku bener-benar nggak sengaja. Kamu nggak ngerasa sakit, 'kan?" tanyanya perhatian.  Cowok itu menatap muka pucat Selva yang sontak memerah ketika ditatap lekat-lekat begitu.  "Tuh, muka kamu merah!" ujarnya seraya menyentuh dahi Selva dengan punggung tangannya.  Selva merinding. Ini bukan sakit, namanya. Mukaku merah karena kamu pelototi terus!  "Eh, kayaknya kita belum paham, deh. Emang tadi kalian ngapain?" selidik Nabel lagi.  Si cowok sudah mau menjawab, tapi Selva segera menyela.  "Tadi aku mau ke toilet. Habis itu nggak sengaja dia, eh ... bukan, aku, kita ..., jangan melotot begitu!" ujarnya karena melihat mata teman-temannya menyipit dan kening mereka berkerut mendengar penjelasannya.  "Habis, loe ngomong yang bener, dong. Dia, loe, atau loe berdua, sih!" ujar Nabel galak, lalu terdiam sekejab dengan mata melebar. "Kalian janjian di toilet ...???!!!"  "BUKAN ...!!!" jerit Selva histeris, sementara cowok itu tertawa terpingkal-pingkal sampai memperlihatkan lesung pipinya. "Kita, tabrakan. Iya ..., saling tabrak," jelas Selva, menggigit bibirnya.  Teman-temannya menoleh pada cowok tadi. Meski tidak melihat kode dari Selva, kelihatannya dia paham dan langsung mengangguk. "Like she said (Seperti yang dia bilang)," senyumnya ceria dengan mata menggoda.  Cowok itu mengalihkan pandangannya pada DJ di panggung, yang mulai memutar lagu My Lecon – JtL. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama.  "Eh, loe vokalis Blazes Star, ya?" tanya Yadine.  "Iya, yang narinya hot di atas."  Elga, kok ngomongnya gitu, sih ... batin Selva panik.  Cowok itu menatap mereka gugup. Berdehem sebelum mengangguk meng-iya-kan. Selva kembali merasa shock. Lebih parah daripada tadi.  Hatiku jadi kepingan puzzle!!! jerit hatinya getir.  "Elga bener, tadi tarian loe bener-bener sexy banget, Men!" komentar Yadine sok gaul. "Jarang-jarang gue liat performance kayak gitu. Loe sering manggung di sini?"  "Kadang. Kapan suka aja."  "Cewek loe banyak pastinya," sela Elga lagi dengan tatapan kagum.  "Nggak. Gue nggak punya pacar. Manusia bisa hidup, 'kan, meski tanpa pacar."  "Oh ... berarti sekarang loe jomblo dong?" tanya Yadine genit.  Cowok itu tersenyum tipis.  "Masa iya sih. Playboy cap kampak juga bakal ngomong gitu kali," ketus Nabel.  Cowok itu hanya angkat bahu, cuek. Seakan tidak peduli dengan pendapat siapa pun tentangnya.  ⠀ Mereka kembali larut dalam obrolan. Terkesan agak lebih kaku dibanding saat di pantai. Mungkin karena teman-teman Selva, dan Selva sendiri sudah melihat gimana gilanya cowok yang baru mereka kenal ini.  Mungkin Yadine, Nabel maupun Elga bisa dengan mudah menanyakan berbagai hal pada cowok itu, tapi Selva nggak bisa menanyakan apa yang sejak tadi memenuhi pikirannya.  Bagaimana kamu bisa mencium dancers tadi? tanyanya dalam hati.  ⠀ "Hello Selva, are you there (Halo, Selva, apa kamu di sana)?"  Selva gelagapan. Terperanjat kaget saat ada tangan yang melambai-lambai di depan wajahnya.  "Eh ... apa?" tanyanya masih linglung.  "I asked you. Didn't you hear it (Aku nanya kamu. Apa kamu nggak dengar)?"  Selva menatapnya bingung.  "Okay, I repeat. Do you wanna dance (Oke, aku ulangi. Apa kamu mau menari)?"  Serius?  Cowok ini ngajak Selva dansa ...?  Selva belum sempat menjawab saat tangannya langsung di tarik ke dance floor (lantai dansa).  "Tunggu, aku nggak bisa nari," protesnya.  Cowok itu tersenyum. "It's okay (Tidak apa-apa). Ikuti iramanya aja. Just relax and follow my steps (Santai aja dan ikuti langkahku)."  Cowok itu meraih pinggang Selva, membuat jantungnya semakin berdebar lebih cepat. Mengarahkannya bergerak dan berputar mengikuti irama lagu Somethin' Stupid (Robbie Williams dan Nicole Kidman). Untungnya iramanya slow. Paling tidak, Selva tidak jadi tampak terlalu konyol.  Selva mendongak. Matanya langsung bertatapan dengan mata amber cowok itu. Mulut Selva terasa kering. Ia menunduk. Cowok itu juga mengalihkan pandangan ke arah lain. Berdehem salah tingkah.  "Temen-temen kamu pada bawel ya," ucapnya. Ini pernyataan, bukan pertanyaan. "Aku habis di interogasi tadi."  Selva mendengus, terkekeh pelan. "Mereka memang gitu," ujarnya.  "Aku sudah ngode kamu dari tadi. SOS. Kamu malah nunduk ... aja. Ngelamun."  Selva menatap wajah yang merengut itu.  "Makanya aku ajak kamu dansa. Nggak apa-apa, 'kan ...?" lanjutnya.  Selva mengangguk. Jadi dia ngajak aku dansa supaya nggak ditanya-tanya. Kirain ..., hati Selva mencelos sakit. Teringat lagi bagaimana cowok ini berdansa dan mencium penari latar tadi.  "Emangnya mereka nanya apa aja ke kamu?" tanya Selva lagi.  "Hmm ...," Cowok itu berpikir sejenak. "Pertanyaan mulai dari yang simple, kayak aku suka warna apa, sampai pertanyaan paling horror, apa aku pernah ml (make love - bercinta), berapa kali. Gitu."  Selva menganga, matanya membulat lebar. Pantas saja cowok ini pengen kabur dari sana.  Cowok itu terkekeh. "Kamu lucu banget kalo kaget gitu."  "Apaan, sih," bantah Selva. "Maafin temen-temen aku ya. Mereka emang tertarik banget sama kamu."  Cowok itu mengangkat kedua alisnya.  Mereka terdiam beberapa saat, seperti tidak punya topik pembicaraan lagi.  "Hei ... kamu bisa nyanyi?" tanya cowok itu lagi.  "Hah?"  ⠀ “I practice every day (Aku berlatih setiap hari)  to find some clever lines to say (Tuk temukan kata-kata pintar untuk diucapkan)  to make the meaning come through (Agar maknanya menjadi nyata).”  ⠀ Cowok itu mulai menyanyi mengikuti alunan musik. Membuat senyum Selva mekar. Ia pun ikut bernyanyi.  ⠀ “But then I think I’ll wait (Tapi kemudian kupikir aku 'kan menunggu)  until the evening gets late (Hingga malam makin larut)  and I’m alone with you (Dan aku hanya berdua denganmu).         The time is right (Waktunya tepat)         Your perfume fills my head (Parfummu penuhi kepalaku),         The stars get red (Bintang semakin merah)          And oh, the night's so blue (Dan oh, malam semakin biru).  And then I go and spoil it all (Dan lalu aku mulai merusak suasana)  By saying something stupid (Dengan mengatakan sesuatu yang bodoh)  Like: 'Love You' (Seperti: 'Aku mencintaimu').”  ⠀ Tubuh Selva bergerak sendiri, berputar seirama dengan gerakan cowok itu. Ia tidak lagi canggung saat menari. Sama sekali tidak terpikirkan sedang berada di mana. Ia hanya menikmati lagunya sambil memandangi pasangan dansanya yang tampan. Perasaannya seakan melayang-layang. Begitu tenang. Serasa di lantai dansa ini hanya ada mereka berdua.  ⠀ “The time is right  Your perfume fills my head,  The stars get red  And all the nights so blue.         And then I go and spoil it all         By saying something stupid like  I Love You  I Love You  I Love You  I Love You.”  ⠀ Selva tidak tahu siapa yang memulai. Ia hanya tahu wajah cowok itu semakin dekat dengan wajahnya. Tiupan nafas mereka menyatu.  ⠀ "WIM ...!!!"  . . . ◦•●◉✿❁♥❁✿◉●•◦
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN