✍ PART 14 :| The Grueling Tour — Tur yang Melelahkan

1855 Kata
◦•●◉✿❁ 2006 ❁✿◉●•◦ ⠀ ✒️ ❝ Dunia mimpi memang begitu luas. Bolehkah kurahasiakan mimpiku dari mu? Untungnya tak kusebut namamu di alam bawah sadarku. ❞ ⠀ { Notes 15 - Roselva Walen — Stay with me (Tetaplah bersamaku) } ✒️ ⠀ ⠀ Wim ketiduran. Ia baru sadar ketika mencium bau lembut di dekatnya. Ia membuka mata. Benda pertama yang terlihat ternyata rendang. Lalu nasi. Disusul sambal. Lalu pada urutan terakhir … Selva. Yang sedang tersipu-sipu. Ada apa gerangan? pikir Wim, mengangkat sebelah alisnya. “Kamu ketiduran. Jadi aku beli makanan aja. Apalagi sekarang sudah jam setengah satu siang,” tukas Selva. Jantungnya berdetak cepat. Ia takut Wim sadar apa sebenarnya yang membuat Wim terbangun tadi. “Hmm … wangi,” ucap Wim seraya mengangkat bungkusan berisi rendang. “Tapi kayaknya, pertama kali bangun … bau rendang kok, jadi mirip sampo, ya?” tambahnya sambil mengendus rendang itu lagi. Selva terkesiap. Mati gue! Jangan sampai Wim tahu, tadi Selva menciumnya. Cuma pipi, sih …. “Ah … sudahlah. Yang penting makan!” lanjut Wim seraya membuka nasi bungkus dan mengambil rendang. “Kamu juga! Jangan cuma melototin. Aku nggak mau nyuapin kamu lagi.” “Siapa yang minta disuapin!” Bikin kesel aja! batin Selva. “Udah … makan. Cerewet banget.” Selva membuka nasi bungkusnya dengan gemas. Cowok ini bener-bener aneh. Kadang baik banget, kadang bikin jutek. Dasar alien! “Kalau kamu capek, nanti biar yang beli barang-barangnya aku aja,” kata Wim disela-sela kunyahannya. “Tapi aku juga mau milih benda seperti apa yang aku mau.” Wim berpikir sejenak. Jalan sama cewek biasanya makan waktu lama. Paling cepat tiga jam. Kalau melihat cewek satu ini, bakalan makan waktu tujuh jam. Bisa-bisa toko alat-alat besi, cat dan lainnya pada tutup. Tapi kalau nggak dibawa, gue makan apa? Dapur nggak jadi ngepul. Ingat! Ngepul bukan berarti meledak! “Gimana kalau aku nganterin kamu ke mall, lalu aku pergi ke toko alat-alat tukang?” “Nggak mau!” Damn (Sial)! Jalan buntu. “Nanti aku jemput lagi. Kamu telepon aja atau SMS, kek,” bujuk Wim. “Aku mau nanya-nanya pendapat kamu selama di sana.” Wim berpikir lagi. Suapan terakhir akhirnya Wim membuat keputusan. Kemarin ia sudah memberitahu empat anggota yang lain. Mereka setuju membantu. Sekarang dia akan menghubungi salah satunya. Yup! Satu-satunya yang paling cocok adalah Ruli. Anak Ekonomi itu pasti pintar tawar menawar. Selain itu ketampanannya bisa menggoda adik pelayan toko langganan Wim. Siapa tahu, karena yang jadi kasir adiknya, bisa-bisa uang kembaliannya lebih banyak ketimbang yang dikasih, pikir Wim licik. “Okay. Aku akan menemani kamu membeli apa aja yang kamu suka, sementara catatanku dibelikan Ruli.” Wim mengalah. “Deal?” Selva mengangguk setuju. Wim menampung. Duit tentunya. “Karena aku udah selesai makan dan kamu masih belum menghabiskan separuhnya, aku pamit dulu. Mau ke kosan Ruli ngasih contekan ini sama ada beberapa hal yang mau aku omongin ke dia," katanya seraya memperlihatkan memo book. “Aku ikut.” “Jangan. Cuma sebentar. Aku bisa balik dalam waktu setengah jam. Lalu kita berangkat kira-kira jam satu. Okay?” “Tapi ….” “Nggak usah takut. Cuma sebentar.” “Aku sendirian. Nanti kalau ada orang jahat yang ….” “Nggak ada ...,” tegas Wim lagi. Anak ini makin merepotkan, pikirnya. “Nggak ada yang akan berniat jahat,” ujarnya meyakinkan sambil menggosok-gosok atau mungkin mengacak-acak rambut Selva. Lalu memberi kecupan di pipi sebagai obat penenang. Kemudian langsung beranjak pergi. Selva memerah. Berasap. Ia mengusap pipinya sembari menatap punggung Wim dari beranda kamarnya. Mobil yang dikendarai Wim terus menjauh. Aku lupa bilang hati-hati, pikir Selva. Jangan sampai Wim ngebut kayak tadi. Bisa-bisa bukan hanya truk yang melindasnya. Jangan-jangan berikutnya giliran kereta api. Selva menggelengkan kepalanya kencang. Menepuk-nepuk pipinya seolah menyuruhnya jangan membayangkan hal itu lagi. Benar-benar khayalan yang buruk! ⠀ ◦•●◉✿❁♥❁✿◉●•◦ ⠀ Selesai makan, Selva berbaring di ranjang yang tadi ditiduri Wim. Sebenarnya tidak baik buat kesehatan kalau sehabis makan langsung tidur. Tapi mata Selva sendiri sudah perih. Ia hanya tidur tiga jam kurang. Angin ikut-ikutan melambai sepoi. Selva makin hanyut dalam mimpi. Lama. Lama … sampai ia merasakan sedang memeluk guling. Hah? Guling? Tadi nggak ada! Selva terbangun kaget. Bukan guling yang berada di sampingnya. Ternyata Wim sudah kembali dari pengembaraannya dan sedang berbaring dengan tangan menopang kepala. Sedang memperhatikan Selva yang sedang tertidur. “Kamu mimpi apa, sampai senyum-senyum begitu? Main peluk segala lagi!” ujar Wim dengan cengiran meledek. “Siapa? Aku nggak mimpi apa-apa.” “Mimpi dikelonin cowok, ya?” Kurang ajar! Darimana dia tahu??? “Masih ngantuk?” tanya Wim lagi. “Bisa aku tahan. Aku udah biasa, kok, nahan kantuk,” jawab Selva. Pengalaman syuting dengan jadwal tak tentu telah membuat ia kebal meskipun kadang rada berat juga musuhan dengan kantuk. “Siap berangkat?” “Iya. Tapi, aku sisiran dulu, ya?” Wim menghembuskan napas. Mengangguk. “Ingat, jangan lama-lama. Aku tunggu di bawah,” tukasnya seraya berjalan ke bawah. Selva memulas bedak dan menyisir rambutnya. Ia memandangi wajahnya di cermin. Sepertinya perlu menambah lip gloss sedikit biar mengkilap. Siapa tahu dilirik Wim. Siapa tahu juga dia bakalan muji, ‘kamu cantik banget Selva.’ Selva tersenyum girang seraya mengoles lip gloss ke bibirnya. ⠀ Wim sedang memeriksa arlojinya ketika Selva akhirnya turun ke bawah. Ia melirik Selva tanpa komentar apa-apa, membuat Selva mengernyit sebal. Wim malah sibuk menyetel lagu, The Books is on the Table -nya Mc Serginho. Lalu mereka diam selama perjalanan. Selva juga tidak tahu harus bicara apa. “Kamu kalem banget, ya? Kalau nggak aku ajak ngomong, pasti nggak ngomong duluan,” ujar Wim memecah kebisuan. “Aku memang begini. Aku takut bikin orang lain tersinggung kalau aku ngomong.” “Kenapa? Kamu mau menyinggung aku, aku nggak keberatan. Ditubruk juga nggak apa-apa.” Selva tergelak. Mana bisa nyenggol Wim. Bisa-bisa dia yang kebanting sementara Wim tetap berdiri kokoh kayak di pantai kemarin. Wim bersiul sambil menggeleng-gelengkan kepala mengikuti alunan musik. Selva ingat kembali kelakuan Wim di Club. Rasa dongkol itu muncul kembali. “Kamu mau kamar kamu dikasih cat warna apa? Atau mau di tempeli wallpaper?” tanya Wim. Selva menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sebelum menjawab pertanyaan Wim tadi. “Aku sih dominan ke pink. Tapi itu terserah kamu, mau dikasih wallpaper atau di cat biasa, nggak pa-pa juga. Lagian aku pengen tukar pemandangan. Cuma aku minta, suasananya masih menyisakan nuasa pink. Biar maching sama koleksi di apartemen lamaku yang rata-rata berwarna pink.” “Okay. It’s easy (Oke. Gampang),” jawab Wim seraya menjentikkan jarinya. Mereka memasuki area Plaza. Wim memarkir mobil, kemudian mereka berjalan bergandengan memasuki plaza. “Kenapa pakai kacamata?” tanyanya. “Suka saja,” jawab Selva. Agak berkesan misterius. Wim mengernyit. “Masa?” “Pakai kacamata nggak mengganggu siapa-siapa, kan?” ujar Selva balas bertanya. Aslinya ia takut bertemu dengan fans, paparazi, atau malah haters di sini. Bisa heboh ntar. Ia juga takut Wim yang jadi sasaran mereka. “Trus kenapa melihat kiri kanan kayak orang ketakutan begitu?” Selva menatap Wim dengan mata membola. Sekarang ia tahu kelemahan Wim. Dia bergerak kalau sudah dibuat penasaran. Selva tersenyum misterius, sementara Wim makin kesal dibuatnya. “Nggak kenapa-napa,” balas Selva cuek. Wim mendengus. “Aku juga punya,” cetus Wim sambil mengeluarkan kacamata-nya dari saku jaket. Lalu memakainya dengan lagak angkuh. Selva nyengir. ⠀ Sudah lama Wim tidak jalan-jalan ke Plaza. Mungkin juga malas ke sana. Kalaupun pergi ke shopping, tujuannya hanya toko buku untuk mencari referensi dekorasi ruangan, design baju atau juga ke toko kaset/DVD. Sedangkan sekarang, Wim harus menemani Selva menjarah seluruh pelosok Plaza. Ingin rasanya Wim bertukar tempat dengan Ruli, mencari cat dan peralatan tukang lainnya dari pada dibawa ke sini. Dan memang benar-benar sial! Orang-orang pada menatap Wim ketika Selva menyeretnya ke toko underwear (pakaian dalam), hanya karena cewek itu tertarik dengan lingerie cantik. Gosh (Astaga)! Apa yang ada di pikiran Selva saat cewek itu sengaja menanyai pendapat Wim soal mana lingerie yang harus ia beli. Wim memohon menunggu di luar saja, ketika melihat pandangan dan kikikan untuk ke sekian kalinya dari cewek-cewek yang ada di sana. Benar-benar horror! Bukan hanya itu, Selva mengajaknya menjarah butik. Mana belanjaannya banyak banget lagi. Selva bahkan memutuskan mengganti pakaian yang ia kenakan sekarang dengan salah satu stelan baju yang ia beli tadi. Wim menarik napas sebal. Kenapa sih, cewek kayak Selva itu seneng banget belanja! Boros! Wim menunggu Selva kemudian membawakan belanjaannya layaknya gentleman. Membukakan pintu ketika Selva ingin masuk ke toko berikutnya. Kali ini Wim tidak keberatan ikut ke sana. Mereka membawa kereta dorong. Selva sedang memilih benda-benda pajangan yang pantas untuk rumah barunya. Wim memberi pendapat. Saat dia akan membayar ke kasir, Selva menyerahkan credit-card-nya pada Wim. “Kamu saja yang bayar. Biasanya cowok yang baik, 'kan yang bayarin cewek.” Wim setuju. Ia melangkah ringan ke kasir. Whoa (Tunggu dulu)! Tadi Selva menyebutnya apa? Cowok? Waduh … makin salah paham, nih. Dijelasin nggak, ya? Tapi tetap saja selama belanja Wim tidak punya kata pembuka yang tepat untuk mengatakan sebenarnya dia juga cewek. Wim terus mengikuti Selva ke lantai dua. Selva belanja bedak, kosmetik sementara Wim setelah mendapat persetujuan Selva, pergi ke sudut berikutnya. Memborong bahan makanan. Lalu mereka beranjak entah ke lantai yang ke berapa. Mereka memesan lemari di sebuah toko perabotan terbesar. Sebanyak tiga buah. Dua diantaranya adalah lemari baju delapan pintu (gila nggak tuh!). Lalu yang satu lagi lemari buku. Selva juga memesan bufet untuk televisi di kamarnya. Lalu ada juga kursi-kursi rotan untuk beranda. Kemudian tak ketinggalan ranjang baru. Ambalan untuk pajangan gantung. Bunga dan daun imitasi. Pokoknya banyak sekali yang dibeli Selva. Tapi ngomong-ngomong Selva dapat duit darimana, ya? batin Wim. Selva tidak melakukan perkerjaan yang aneh-aneh, 'kan? Secara anak-anak zaman sekarang banyak yang rela melakukan apapun demi mendapatkan uang. Selva bukan simpanan om-om, 'kan? Wim menelisik wajah Selva yang cantik. Nope (tidak)! Wim menggelengkan kepala. Sikap Selva terlalu polos untuk menjadi perempuan simpanan maupun ... yeah ... begitulah. Wim sudah bergaul dengan siapapun, ia kenal bagaimana membedakan wanita baik-baik dan wanita yang bisa dipakai main. Ia bahkan yakin Selva belum pernah ciuman. Wim teringat dirinya yang mengecup pipi Selva setelah makan siang tadi. Wajah gadis itu dengan cepat memerah. Rasanya agak aneh bertemu cewek secantik Selva yang masih nampak begitu polos. Sangat jarang ditemukan. ⠀ “Gimana kalau kita makan malam di restoran?” kata Selva ketika senja itu mereka telah mengakhiri tour-nya. “Terserah,” Wim menjawab ogah-ogahan. Seharian ia capek mengekori Selva terus. Cewek itu nggak ada lelah sedikitpun berkeliling toko. Rasanya hampir seluruh lantai mereka jelajahi. Mending kalau lihat langsung beli. Ini malah harus keliling-keliling dulu dari lantai atas sampai bawah. Ternyata yang di beli malah di lantai atas. Ck! “Kamu maunya ke mana?” tanya Selva pada Wim. "Ke tempat yang kamu suka aja," balas Wim. “Nggak mau. Di tempat biasa kamu makan aja, ya?” Selva mengerucutkan bibirnya. Menatap Wim penuh harap. Ekspresi apa ini? Imut banget. Wim mengulum senyumnya. “Kamu mau kesana? Tapi aku makannya nggak di restoran.” Wim menatap Selva heran. Ia ragu kalau harus mengajak Selva ke tenda-tenda makan tepi pantai. “Ya, nggak pa-pa, dech.” “Aku biasa makan di tenda-tenda tepi pantai. Di sana ada yang jualan pangsit, bakso, sate, jagung bakar, roti bakar. Nggak ada CFC, Pizza, burger, donat. Emang kamu mau?” “Aku mau, kok,” jawab Selva cepat. . . . ◦•●◉✿❁♥❁✿◉●•◦
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN