Memori

1276 Kata
Dua gadis kecil berlarian sambil membawa jaring kecil di tangannya di sebuah taman. Mereka berlarian kesana-kemari mengejar seekor kupu-kupu cantik yang sedang terbang kesana-kemari. Dua gadis kecil itu tak mau menyerah. Mereka terus mengejar kupu-kupu itu sampai dapat. Tetapi sayang, bukannya mendapatkan kupu-kupu, salah satu gadis itu jatuh terjerembab ke tanah karena tersandung batu. Ia berlarian tanpa memperhatikan jalan di depannya yang menyebabkan dirinya jatuh. Gadis satunya lagi terkejut melihat teman bermainnya jatuh. Dia langsung berlari menolongnya. Gadis kecil itu meringis kesakitan ditambah lagi darah yang keluar dari lututnya. Gadis satunya mencoba menolong dengan cara membalut lukanya dengan bando kain yang melingkar indah di kepalanya. “Sakit ya? maaf ya tadi aku gak jagain kamu.” Ucap gadis yang menolong itu dengan wajah menyesalnya. “Nggak kok. Aku yang ceroboh lari-lari tanpa melihat jalan tadi.” Ucap gadis satunya berusaha tenang agar gadis  di depannya tak merasa bersalah. “Yaudah kita pulang aja yuk, aku takut nanti dimarahin Ibu.” Gadis itupun mengangguk setuju. Merekapun berjalan sambil salah satunya memapah gadis yang terjatuh dengan sabar. Tak lama mereka sampai di rumahnya, mereka sengaja berjalan mengendap-endap lewat belakang rumah agar tidak ketahuan ibu mereka. Perlahan salah satu gadis berkucir kuda itu membuka pintu dengan perlahan sambil mengawasi sekitarnya. Setelah yakin aman ia mengisyaratkan kepada gadis di belakangnya untuk ikut masuk ke dalam.  mereka menghela napas lega ketika telah berhasil sampai ke dalam rumah tanpa ketahuan. Tapi kelegaan itu tak berlangsung lama ketika ibunya telah berdiri di dekat tangga. Kedua gadis itu hanya mengembangkan senyumnya lebar kearah ibu mereka. “Maisha...Shafiiya. darimana kalian?" tanya bu Sarah kepada kedua putrinya. Ya, dua gadis kecil itu adalah Maisha dan Shaffiya. “Cuma ke taman kok bu, lihat kupu-kupu tadi.” ucap Shaffiya mencoba meyakinkan ibunya. “Iya bu. Cuma ke taman kok.:” Maisha membantu menimpali. “Terus itu kenapa lutut kamu di perban Mai?” tanya Bu Sarah ketika melihat lutut Maisha dibalut dengan bando kain milik Shaffiya. Kedua gadis itupun saling tatap. Mereka tak tahu lagi harus menjawab apa. Sedangkan bu Sarah sudah berjongkok dan memeriksa luka Maisha. “Astaghfirullah. Kenapa bisa begini?” tanya bu Sarah khawatir. Dengan takut mereka pun mengaku kalau tadi Maisha jatuh karena berlarian di taman. Bu Sarah menghela napasnya dalam lalu mengajak kedua putrinya untuk duduk di sofa ruang tengah. Bu Sarah mengambil kotak P3K dan juga air kompresan untuk membersihkan luka Maisha dengan sabar. Kedua gadis itu bahkan menunduk takut dimarahi. Melihat itu bu Sarah merasa tak tega. Ibu tiga anak itu mengusap lembut kepala kedua putrinya dan tersenyum lembut kepada mereka. “Lain kali kalau main hati-hati ya. jangan lari-larian nanti bisa jatuh lagi seperti Maisha. kalau jatuh siapa yang merasakan sakitnya? Janji ya, kalau main lain kali hati-hati.” Ucap bu Sarah lembut kepada kedua putrinya. Keduanya pun mengangguk lalu berhambur ke pelukan ibunya. Bu Sarah mencium kedua gadisnya penuh rasa sayang.                                                                                             *** “Maisha..Mai.” panggil seseorang membuat Maisha tersadar dari lamunannya. Tanpa sadar pipinya telah basah oleh airmata. Ya, kenangan masa kecil bersama Shaffiya masih lekat dalam ingatannya. Masa-masa kebersamaan mereka begitu erat di memorinya. Sulit bagi Maisha untuk lupa. Mengingat semua itu membuat rasa sedih kembali membuncah di dadanya. Sekarang ia tak bisa lagi merasakan kebersamaan itu. ia sudah tak bersama Shaffiya lagi. bahkan Shaffiya tampak membuat jarak diantara mereka. “Kamu kenapa Mai? Bilang sama Mas kamu kenapa?” tanya Mas Hanan dengan raut wajah khawatir. Ia tak tega melihat adiknya seperti ini. “Shaffiya Mas, aku tadi bertemu dengannya.” Ucap Maisha dengan suara bergetar. “Apa yang dia katakan padamu Mai? Apa dia menyakitimu?” tanya Hanan dengan wajah yang mengeras menahan amarah. “Bukan Mas, Shaffiya tidak menyakitiku sekalipun.” bantah Maisha tak rela jika kakaknya menjelekkan saudara kembarnya. Bagaimanapun sikap Shaffiya terhadapnya, mereka masih memiliki gen dan darah yang sama. Mereka bahkan memiliki ikatan yang kuat. “Lalu apa? Kenapa kamu menangis seperti ini? bahkan kamu juga tak merespon ketika Mas mengetuk pintu mu tadi.” cecar Hanan penasaran. “Aku Hanya rindu dengannya. Mengingat masa kecil kita dulu membuatku begitu merindukan masa-masa itu. kadang aku juga bertanya-tanya kenapa kita tidak seperti itu selamanya. Kenapa harus ada kata perpisahan di keluarga kita.” Ucap Maisha menggebu. Hanan memejamkan matanya mencoba meredam rasa sakit dan kecewa yang dengan lancangnya menyelusup ke dadanya. Ya, dia juga merasakan apa yang dirasakan Maisha. rasa sakit dan kecewa itu juga ia rasakan. Tapi sebagai kakak, sebisanya dia mencoba memberi semangat kepada adiknya. dia tak mau ikut lemah di depan adiknya. “Dek, bukankah kamu tau kalau semua yang terjadi itu juga takdir dari Allah. Apa manusia bisa seenaknya merubah takdir dari Allah itu. apa kita bisa membuat kehidupan kita sendiri dengan sesuka hati?” Maisha menggeleng atas pertanyaan itu. “Ya begitulah dek. Kita hanya bisa pasrah menerima semua takdir Allah. Yang bisa kita lakukan hanyalah berikhtiar dan berdoa.” Ucap Hanan menasihati adiknya. “Mungkin menurut kita hal ini begitu menyakitkan dan buruk bagi kita. Tapi belum tentu itu juga buruk bagi Allah. Mungkin ini jalan terbaik untuk keluarga kita dik. Buktinya kita masih bisa hidup berkecukupan tanpa tekanan sampai sekarang.” Maisha tersenyum kemudian menganggukkan kepala membenarkan ucapan kakaknya. Memang benar, apa yang menurut kita baik belum tentu baik bagi kita begitu juga sebaliknya, apa yang menurut kita buruk belum tentu buruk bagi kita. Itu semua tergantung bagaimana kita menyikapi setiap apa yang terjadi pada diri kita. Senyum Maisha yang sempat pudar kini terbit kembali. Beruntungnya Maisha memiliki kakak seperhatian Hanan. Kakaknya itu memang selalu ada untuknya. Tak hanya disaat suka saja tetapi juga selalu menjadi pelipur laranya. Tanpa memberitahukan masalahnya pun Hanan pasti tau kalau adiknya sedang tidak baik-baik saja. sedikit saja melihat hal aneh dari adiknya itu pasti Hanan akan tahu. Kakaknya itu selalu saja mempunyai obat untuk segala laranya. Selalu bisa mengembalikan senyum yang hilang entah kemana. selalu bisa mengubah air mata menjadi tawa bahagia. Walau hanya dengan untaian kata penyejuk jiwa. Ya, she’s lucky with him. “Makasih ya mas. Mas selalu bisa membuat Maisha sadar bahwa selalu ada Allah yang membersamai kita. Ada Allah yang punya segala solusi atas masalah kita.” Ucap Maisha tulus sembari memeluk Kakaknya erat. Sedari kecil ia senang sekali berlindung di pelukan hangat Hanan. Menghirup wanginya aroma tubuh Kakaknya itu. “Sama-sama dik. Itu sudah menjadi kewajiban Mas untuk membimbing adik Mas yang manjanya minta ampun ini.” ucap Hanan dengan nada jenakanya sambil mengacak puncak kepala Maisha yang tidak tertutup jilbab karena hanya di kamarnya sendiri. Bukannya marah Maisha malah semakin mengeratkan pelukannya dengan Hanan. Entah sampai kapan sifat manjanya itu hilang. Tok..tok tokk.. Baru saja Maisha menikmati nyamanya dekapan Hanan, kini suara pintu menginterupsinya. Tak lama suara Mbak Haura terdengar dari luar. “Assalamualaikum. Apa Mas Hanan ada di dalam Mai?” tanya Mbak Haura dari luar dengan nada yang tak bisa diartikan. “Waalaikumsalam. Iya Ra. Buka aja aku di dalam.” jawab Mas Hanan mendahului. Maisha pun melepaskan pelukannya dari Hanan dan menatap kakak iparnya yang baru saja masuk ke dalam dengan ekspresi tak bisa diprediksi. “Ada apa Ra? Kenapa wajahmu terlihat cemas?” tanya Hanan kepada istrinya yang masih berdiri mematung di hadapannya. Haura ingin mengatakan sesuatu tapi sangat sulit untuk keluar dari mulutnya. “Emm.. itu Mas. ada tamu.” Ucap Haura ragu. Hanan dan Maisha mengerutkan keningnya bingung. hanya mengatakan itu saja kenapa Haura gugup seperti itu. “Siapa mbak?” tanya Maisha penasaran. Haura tampak diam cukup lama. Ia sepertinya bingung harus mengatakannya atau tidak. “Sayang, siapa tamunya?” tanya Mas Hanan lembut sambil menggenggam tangan Mbak Haura. Sedangkan Maisha tak sabar ingin mendengarkan siapa tamu yang datang. “Pak Hans Harumanjaya.”                                                                                                       ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN