Mencintaimu Untuk Selamanya

1122 Kata
Syakia tengah duduk di pinggiran ranjang ketika Fahmi memasuki kamar. Fahmi menghampiri istrinya itu kemudian duduk di sampingnya. "Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanya Fahmi lembut. Syakia hanya diam menunduk "Bicaralah, aku sudah menunggu mendengar suaramu sejak dulu" Pinta Fahmi. "Bukankah kau sudah mendengar suara ku tadi" Ucap Syakia sebentar kemudian menundukan kepalanya lagi. Fahmi terkekeh "Itu saat kamu bicara dengan orang lain bukan denganku" "Lalu apa bedanya?" "Tentu saja beda, aku ingin istriku berbicara pada suaminya, padaku." "Bukankah sekarang pun dan dari tadi aku sedang berbicara padamu?" "Mashaallah, heheuh iya, kamu benar? Fahmi terkekeh dengan kekonyolannya, apa dia segugup itu hingga seolah bertingkah bodoh di depan Syakia. "Sebenarnya aku malu" "Karena?" "Ibumu begitu baik, sikapnya begitu lembut" "Itu karena dia menyayanginyamu. Tahukah, dia sudah menyiapkan segala sesuatu menunggu kehadiranmu di rumah ini" Ucap Fahmi tersenyum lembut. "Iya, aku tersanjung dengan perlakuan dia padaku" Ucap Syakia tersenyum hangat "Dan aku juga menyukai kak Ulfa" Syakia semakin melebarkan senyumnya "Oh ya benarkah?" "Iya, dia sangat baik dan asik aku menjadi cepat akrab dengannya, dia sama seperti teh Najwa aku sangat menyukainya" Ucap Syakia semakin semangat "Dia juga bilang bahwa dulu saat dia menikah, dia sama sepertiku tak berhenti menangis saat pergi kemari bersama kak imran" Tanpa sadar tangannya menggenggam tangan Fahmi karena saking semangatnya bercerita. Fahmi tersenyum mendengarkan cerita istrinya. Syakia pun buru-buru mengangkat tangannya dari tangan Fahmi dan salah tingkah ketika menyadarinya. Suasana pun kembali hening "Lalu apa lagi, yang kalian bicarakan?" Ucap Fahmi mencairkan suasana. "Dia bilang, dia bisa berhenti sedih karena sikap lembut kak Imran padanya, dan...." "Dan?" "Dan Kak Ulfa bilang kamu lebih manis dan lembut dari kak Imran, kamu pasti bisa membuatku selalu tersenyum" Ucap Syakia pelan. Fahmi mengelus kepala Syakia sayang sembari tersenyum hangat dan tulus. Seolah mengatakan bahwa dia akan benar-benar menyayangi Syakia. "A Fahmi, bolehkah aku bertanya?" Ucap Syakia hati-hati. "Hm tentu saja katakan kamu mau bertanya apa?" "Apa kamu pernah menyukai perempuan lain sebelum atau setelah bertemu denganku?" Ucap Syakia pelan. "Sebelum ketemu dengan mu mungkin aku sudah menikah dengan salah satu santriawati di sini jika aku menyukai mereka, lalu jika setelah bertemu denganmu, bagaimana aku bisa menyukai gadis lain jika di hatiku hanya ada satu perempuan, yaitu kamu" Ucap Fahmi tersenyum tulus. Sekarang tampak senyum malu dan semburat merah di wajah Syakia. "Lalu bagaimana denganmu?" "Di dunia ini hanya ada dua laki-laki yang aku temui dan yang aku cintai" Tutur Syakia. "Siapa mereka?" "Dia adalah ayahku dan....kamu" Ucap Syakia tulus, Fahmi senang sekali mendengarnya. "A...?" "Hmm" "Kenapa kak Imran bisa tinggal di tempat kak Ulfa, sedangkan kamu tidak?" "Mm maksud kamu, kamu ingin kita tinggal di rumahmu?" "Tidak, bukan seperti itu" Fahmi tersenyum "Aku bisa saja tinggal di rumahmu setelah kita menikah, tapi pekerjaan aku lebih dekat dari sini, aku juga terkadang membantu abi mengajar para santri" Tutur Fahmi. "Dan aku juga sudah menyiapkan rumah untuk kamu, untuk kita" Fahmi tersenyum membelai kepala Syakia. "Terimakasih Fahmi" Ucapnya menatap mata Fahmi. "Fahmi?" "Hmm" "Ini kamar kamu kan?" "Hmm" "Bolehkah aku merubah dekor kamar ini, aku tidak suka warna hitam dan abu" "Iya..." Seketika Syakia tersenyum lebar, seolah begitu senang. "Syakia" Panggil Fahmi. "Iya" Jawab Syakia lembut. "Ayo wudhu dan solat sunnah" Ajak Fahmi, Syakia mengangguk mengiyakan. Setelah itu mereka melaksanakan solat sunnah dengan di imami Fahmi dan setelahnya mereka memanjatkan doa untuk kebaikan mereka dan semuanya. Selepas solat Fahmi dan Syakia kembali berbincang. "A Fahmi, apa kamu akan selalu mencintaiku?" Tanya Syakia. Fahmi menjawab dengan bergumam dan tersenyum. "Apa kamu berjanji?" "Aku tidak mau berjanji Syakia, aku ingin membuktikannya" Ucap Fahmi tanpa melepas senyumnya. Syakia teramat senang mendengar itu. Sungguh. "Syakia, bolehkah aku melihat rambutmu" Tanya Fahmi. Syakia diam sebentar sebelum akhirnya mengangguk. Fahmi perlahan meraih kerudung Syakia, lalu melepas kerudung itu, dan tampaklah rambut lurus ikal, hitam pekat Syakia, rambutnya begitu tebal tanpa poni, jujur saja Fahmi kagum dengan kecantikan Syakia hingga berkali-kali dia mengucap syukur "Aku berharap akhlaq kamu juga secantik wajahmu" Itu hanya di ucapkan Fahmi dalam hati, ia hanya tersenyum. Kemudian setelah itu, apa yang terjadi malam itu selanjutnya hanya mereka yang tahu. °°° "Syakia" Panggil Fahmi lembut "Syakia bangun yuk, sholat subuh" Ucap Fahmi menepuk pipi Syakia. Syakia mengerjapkan matanya ketika membuka mata tampak mata teduh suaminya. Syakia pun bangkit dari tidurnya. Setelah itu dia pergi ke kamar mandi. Setelah beberapa saat di kamar mandi, terdengar ketukan dari luar. Tok tok tok "Syakia, aku pergi ke mesjid dulu" Ucap Fahmi dari luar. Syakia tersenyum mendengar itu, padahal jika hanya pergi ke mesjid Fahmi tidak perlu ijin. "Baiklah" Sahut Syakia dari dalam. Saat Fahmi pulang dari mesjid, dia tidak mendapati istrinya di kamar. Fahmi mencari ke kamar mandi juga tak ada. Kemudian saat Fahmi mengedarkan pandangannya tampak Syakia tengah membereskan ruang tengah. Fahmi menghampiri Syakia. "Kia" Panggil Fahmi, Syakia menoleh "Ini masih pagi kenapa sudah membereskan rumah?" "Tadi aku hendak memasak, tapi sepertinya umi bangun lebih pagi dan telah menyiapkan sarapan sebelum mengajar para santri, aku tidak enak pada umi jadi aku melakukan ini agar ada kegiatan" Ucap Syakia. "Aku senang kamu melakukan ini, tapi ini masih pagi kamu sebaiknya juga sarapan dulu. Umi memang biasa memasak sebelum subuh agar tidak kerepotan" Ucap Fahmi halus. "Justru karena itu a, umi masih saja harus mengerjakan sendiri di saat dia sudah memiliki menantu" Wajah Syakia merenggut. "Kalau begitu, cobalah besok untuk bangun lebih pagi, bukan untuk menggantikan tapi untuk membantu umi hm" Fahmi mengusap kepala Syakia lembut. Saat umi Sadiah kembali dari madrosah, semua makanan yang dia masak tadi sudah tertata rapih di atas meja makan. Tampak juga Sufyan dan Fahmi mendekati meja. "Mana Syakia A?" Tanya Sadiah saat mereka sudah duduk. "Tadi Ami lihat dia sedang mencuci di belakang" Jawab Fahmi. "Ya Allah, cepat panggilkan dia A" Titah Sadiah. "Iya Mi" Tak lama tampaklah Fahmi berjalan beriringan dengan Syakia. mereka mendudukan dirinya di kursi. "Tadi Syakia bilang, dia malu karena umi yang menyiapkan ini semua" Ucap Fahmi. Sadiah tersenyum "Tidak papa Syakia, umi tidak keberatan melakukannya" "Lagian kamu baru satu hari di sini" Tambah Sufyan. "Benar, Syakia bisa membantu umi besok" Ucap Sadiah lembut. Syakia pun tersenyum. "Bukankah tadi aku sudah bilang seperti itu" Fahmi memiringkan kepalanya menatap Syakia yang duduk di sebelahnya membuat Syakia salah tingkah dibuatnya. °°° "Umi, apa makanan kesukaan A Fahmi?" Tanya Syakia pada sadiah sembari mencuci piring setelah selesai makan. "Mmm sebenarnya Ami itu vegetarian, semua makanan dia suka, tapi makanan yang paling dia sukai kentang balado" Sadiah tersenyum "Sederhana sekali kan" "Dulu Syakia pernah memasak itu, tapi aku gak yakin apakah rasanya akan enak" Ucap Syakia ragu. "Bagaimana kalau besok kita masak itu" Ucap Sadiah semangat. "Iya umi" Jawab Syakia tak kalah semangat. "Umi, bolehkah Syakia manggil umi dengan umma soalnya Syakia sudah punya umi" Tanya Syakia. "Mmmh boleh, kenapa tidak" Balas Sadiah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN