Setelah Fahmi dan Anisa menikah, tentu saja pasti ada perbedaan dalam hari-hari yang Syakia lalui.
Seperti sekarang, biasanya setiap subuh ketika dia bangun dia akan melihat suaminya terlelap di sampingnya, atau wajah tersenyum berseri suaminya saat pulang sholat subuh dari mesjid, atau saat suaminya menyantap makanan dengan lahap yang bahkan rasanya saja tidak enak. Hah Syakia merindukannya bahkan saat sehari saja laki-laki itu tidak ada.
Sekarang suaminya itu harus bersama Anisa istrinya yang lain karena itu memang kewajiban Fahmi harus adil, jadi satu hari di rumah Syakia dan satu hari di rumah Anisa meskipun sekarang Anisa masih tinggal bersama Sufyan dan Sadiah.
Sulit memang bagi Syakia untuk terbiasa dengan keadaan itu, keadaan dimana dia harus ikhlas membagi cintanya juga membagi waktu dengan perempuan lain. Bahkan Syakia terkadang iri pada kakanya–Najwa yang bisa memiliki hati, raga, dan cinta Alfi sepenuhnya, hanya dirinya. Namun apakah dia menyesal telah menikah dengan Fahmi? Tidak. Rasa cinta Syakia untuk Fahmi lebih besar daripada rasa sakitnya. Jika memang dirinya tidak akan pernah bisa seperti istri-istri nabi, namun bukankah meneladaninya merupakan sebuah keharusan? Karena sifat, sikap, dan prilaku mereka sangat patut untuk di tiru atau di teladani.
Ketika Syakia berjalan untuk pergi ke madrosah atau aula untuk mengajar para santriawati, ia kerap melihat Fahmi sedang bermain bersama Ilham putra Anisa. Fahmi terlihat bahagia sekali ketika bermain dengan anak itu, sepertinya Fahmi sangat menyayangi Ilham meskipun Syakia pun demikian. Mengingat mereka belum dikaruniai seorang anak setelah dua tahun menikah, maka tentu saja Fahmi akan bahagia jika ada seorang anak dalam kehidupannya dan itu Ilham. Syakia juga turut bahagia akan hal itu.
Meskipun begitu Fahmi tidak pernah mengeluh atau bicara pada Syakia bahwa dia menginginkan seorang anak, karena tentu saja Fahmi takut itu akan menyakiti hati istrinya. Jadi kehadiran Ilham seperti anugrah baginya dan dia menyayangi Ilham seperti anaknya sendiri.
Syakia pun begitu, bukan hanya Fahmi yang menginginkan seorang anak, Syakia pun sama halnya. Karena itu setiap hari dia selalu menyempatkan waktu untuk pergi ke rumah mertuanya hanya untuk bertemu dengan Ilham. Masih ingatkan, bahwa Syakia sudah jatuh cinta pada anak itu semenjak pertama kali melihat anak itu.
Seperti sekarang, usai mengajar Syakia pergi ke rumah mertuanya untuk bertemu Ilham, wajahnya akan berseri ketika akan mengunjungi anak itu. Dan rupanya saat ini Ilham tengah bersama Anisa di depan rumah, dia sedang diberi s**u dari dot/botol.
Syakia segera menghampiri Ilham dan Anisa. "Assalamualaikum, Anisa" Ucap Syakia dengan tersenyum lebar.
"Waalaikumsalam, Syakia" Jawab Anisa. "Ada apa kamu kesini?" Lanjut Anisa bertanya.
Syakia pun mendudukan dirinya di samping Anisa, tangannya hendak mengelus kepala Ilham di gendongan Anisa, namun terhenti karena Anisa keburu bilang "Maaf Syakia sekarang Fahmi tidak ada di rumah, dia masih mengajar....," Ucap Anisa tanpa menatap Syakia "Dan aku tidak mau kamu menjadikan Ilham sebagai alasan untuk bertemu Fahmi, kita sudah mempunyai hari masing-masing untuk bersama dengan Fahmi" Lanjut Anisa.
Tangan yang tadinya akan mengelus kepala Ilham, Syakia tarik kembali termasuk senyumnya. "Maaf Anisa jika kedatanganku kesini membuatmu tidak nyaman. Namun, aku ke sini bukan karena ingin bertemu dengan Fahmi, tapi ingin bertemu dengan Ilham" Ucap Syakia lembut dan penuh hati-hati.
"Syakia, setiap orang mempunyai penanggapan yang berbeda-beda, apa yang kamu pikirkan belum tentu sama dengan orang lain. Dan yang aku pikirkan kamu kesini hanya agar bisa bertemu Fahmi!" Tegas Anisa.
"Maaf Anisa, baiklah kalau begitu aku akan segera pulang" Ucap Syakia mengusap bahu Anisa dengan senyum di paksakan. Lalu setelah itu dia beranjak pergi.
Syakia terus bertanya-tanya dalam hatinya, apakah benar kedatangan dirinya ke rumah mertuanya untuk bertemu Ilham adalah hal yang salah? Karena ternyata itu menimbulkan fitnah dan kesalahpahaman antara dirinya dan Anisa.
Syakia sibuk dengan pemikirannya, hingga saat dirinya berpapasan dengan Fahmi yang baru pulang mengajar tidak Syakia sadari, dan Fahmi pun heran karenanya.
Fahmi menghentikan Syakia dan menggenggam lengannya "Syakia" Panggil Fahmi.
Syakia pun terperanjat dan ketika sadar dia mendapati dua bola mata Fahmi "A Fahmi?" Ucap Syakia kebingungan.
Fahmi terkekeh melihat reaksi Syakia "Apa yang sedang kamu fikirkan Syakia, hingga berjalan sembari melamun?"
"Ah tidak, tidak ada" Ucap Syakia kikuk.
"Kamu dari rumah abi?" Tanya Fahmi.
Syakia tidak menjawab "Aku pulang dulu a" Pamit Syakia sembari berlalu menghiraukan Fahmi yang masih menatapnya heran.
Fahmi kembali melanjutkan langkahnya, kemudian setelah sampai ia mendapati Anisa tengah duduk di depan rumah bersama Ilham. Fahmi kemudian bertanya "Anisa, apa tadi Syakia dari sini?"
"Maaf Fahmi, aku harus menidurkan Ilham" Anisa pun segera pergi membawa Ilham yang tengah tertidur di gendongannya meninggalkan Fahmi.
Fahmi semakin heran, ada apa dengan dua istrinya itu. Tadi Syakia yang tak menghiraukan pertanyaannya dan sekarang Anisa. Perempuan memang sulit di tebak.
Sedangkan Syakia kini telah tiba di rumahnya. Perasaan ini dan itu kian menghinggapi hatinya. Sepertinya, setelah ini dan kedepannya Syakia tidak boleh terlalu sering menemui Ilham. Syakia juga sadar dia tidak berhak akan hal itu.
°°°
Hari ini Fahmi ke rumah Syakia, karena memang hari ini adalah harinya bersama Syakia. Entah kenapa perasaannya selalu bahagia saat akan bertemu dengan Syakia, dan hatinya selalu berdebar seperti saat ketika pertama kali bertemu.
Tok tok tok
Tak lama pintu pun terbuka, dan tampaklah seorang wanita yang selalu Fahmi rindukan. Wanita yang selalu sederhana dengan gamis longgar dan pasminanya juga senyum di wajah teduhnya.
Fahmi pun membalas senyum dia "Aku ingin memelukmu Syakia" Ucap Fahmi pelan.
Syakia terkekeh "Masuklah" Ucap Syakia melebarkan pintu.
Setelah Syakia menutup pintu Fahmi langsung menghamburkan dirinya pada pelukan Syakia. Pelukan yang hangat dan nyaman. "Mengapa aku selalu merindukanmu, Syakia?"
"Hal yang aku rasakan pun sama" Ucap Syakia menenggelamkan kepalanya pada d**a Fahmi.
"Syakia, ada hal yang ingin kubicarakan dan kutanyakan padamu" Ucap Fahmi setelah melepas pelukannya.
"Baiklah, mari duduk" Ucap Syakia menarik tangan Fahmi menuju sofa. Diam-diam Fahmi tersenyum kala tangannnya di genggam dan di tarik Syakia di depannya. Hah manis sekali pikirnya dalam hati.
"Syakia, apakah kemarin kamu menemui Anisa?" Tanya Fahmi ketika mereka sudah duduk.
Syakia terlihat canggung "Apa Anisa mengatakannya?"
Fahmi menggeleng "Umi yang bilang".
"Umi?" Heran Syakia, karena seingatnya saat kemarin dia bertemu dengan Anisa tidak ada ibu mertuanya di sana.
Fahmi mengangguk "Jangan heran, kemarin umi tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian" Ucap Fahmi.
"Tentang apa?" Tanya Syakia pelan.
"Tentang kesalahpahaman Anisa padamu?" Ucap Fahmi tersenyum samar.
"Maaf Fahmi, bukan maksudku untuk..."
"Aku tahu" Fahmi mengelus pipi kanan Syakia. "Rupanya itu yang membuatmu melamun kemarin. sudah, jangan terlalu dipikirkan" Ucap Fahmi lembut.
"Aku menyayangi Ilham, A" Ucap Syakia lirih "Dan aku juga senang melihatmu bahagia ketika bermain bersama Ilham"
"Aku mengerti..." Fahmi membawa
Syakia kedalam pelukannya, dia sangat mengerti apa yang tengah istrinya rasakan saat ini.