“Sayaaanggg...” Darrel mengerang di lantai. Perlahan, ia pun berusaha bangkit dan duduk. Sikunya terasa nyeri saat menghantam lantai tadi.
“Semalam kamu bilang kamu nggak akan macam-macam, tapi pagi ini kamu malah masuk ke bawah selimutku!” kata Calandra marah.
“Aku nggak bermaksud macam-macam.” Darrel duduk dan membela diri. “Semalam aku kedinginan. Jadi aku terpaksa bergabung sama kamu di tempat tidur dan masuk ke balik selimut. Aku nggak mau jatuh sakit.”
“Bohong,” kata Calandra masih tidak terima dengan alasan Darrel.
“Aku bersumpah, Sayang,” kata Darrel sungguh-sungguh. “Demi titidku yang unyu ini, kalau aku bohong, dia akan dikutuk nggak bisa berdiri.”
Calandra membuang muka mendengar ucapan vulgar Darrel. Dasar gila. Bisa-bisanya dia menggadaikan bagian tubuhnya yang “itu” dalam sumpahnya. Calandra kemudian melirik pakaiannya yang masih tampak utuh. Setidaknya, jika Darrel tidak membuka pakaiannya semalam.
“Aku memang salah karena semalam lupa bawa selimut,” sambung Darrel lagi.
“Kamu bawa kasur tapi lupa bawa selimut? Lucu sekali,” dengus Calandra sarkastik.
“Aku takut ketahuan sama mata-mata Papa,” jelas Darrel. “Kamu tahu sendiri kan, semua mata di rumah ini berpihak ke Papa. Buktinya Papa saja bisa tahu kalau kamu tidur di kamar tamu.”
“Takut ketahuan?” tanya Calandra masih tidak mengerti. Apa hubungannya membawa selimut dengan ketahuan? Darrel kan sudah berhasil membawa kasur untuknya sendiri, kenapa selimut bisa jadi masalah juga?
“Sayang, aku masih belum menemukan cara yang pas untuk membawa selimut tambahan tanpa dicurigai. Ukurannya cukup besar untuk menarik perhatian dan membuat yang melihatnya curiga. Kamu pikir kenapa aku bawa kasur angin ini di sini? Tentu saja karena kepraktisannya, hingga tidak perlu menarik perhatian orang.”
Calandra diam. Ucapan Darrel ada benarnya. Kasur angin memang jauh lebih praktis dari kasur biasa. Jika Darrel membawa kasur biasa, tentu saja satu rumah pasti akan heboh. Sementara kasur angin yang dalam keadaan belum dipompa bisa ia sembunyikan di dalam paper bag.
“Kamu kan bisa menyelundupkan selimut tipis ke sini,” kata Calandra.
“Aku nggak suka selimut tipis. Nggak hangat.”
Calandra menghela napas. Darrel memang selalu punya jawaban menyebalkan untuknya. Kenapa sih mereka harus mengawali pagi seperti ini.
“Terserah,” kata Calandra sambil merebahkan kembali tubuhnya ke kasur. “Pokoknya aku nggak mau tahu, malam ini kamu harus punya selimut sendiri karena aku nggak akan ngasih kesempatan untuk kedua kalinya kamu bergabung denganku di sini.”
“Iya, Sayang,” ujar Darrel lembut. “Suami kamu adalah pria jujur yang bisa dipercaya. Aku nggak mungkin melanggar janjiku. Tadi juga aku nggak nyentuh kamu kan, cuma numpang menghangatkan diri di bawah selimut aja. Kalau aku nggak jujur, kamu pasti udah aku raba-raba.”
Geli mendengar panggilang sayang dan penjelasan panjang lebar dari Darrel yang berbau mes*m tersebut, Calandra segera membalik tubuhnya untuk membelakangi pria itu.
“Sayang, kamu berdarah!” Darrel tiba-tiba langsung bangkit dari lantai dan meraih tubuh Calandra dengan cemas.
“Apaan sih?” Calandra langsung menepis tangan Darrel yang menyentuhnya.
“Kamu berdarah. Ayo kita ke dokter,” ujar Darrel masih sangat panik.
Setelah mendengar ucapan Darrel untuk kedua kalinya, Calandra langsung menyadari apa yang baru saja dilihat suaminya itu.
Ya Tuhan!
“Stop!” Calandra langsung duduk dan menghentikan Darrel yang berusaha menggendongnya. “Aku nggak apa-apa.”
“Apanya yang nggak apa-apa, kamu berdarah!” ujar Darrel cemas setengah mati.
“Aku sedang datang bulan, Darrel. Itu darah menstruasiku yang tembus ke kasur.”
Tangan Darrel yang sedang berusaha menggendong Calandra seketika terhenti. Seolah kehilangan tenaga, ia pun langsung menarik kembali tangannya dan terduduk di kasur.
“Sudah paham sekarang?” tanya Calandra. “Bisa kan kamu berhenti panik dan bersikaplah lebih masuk akal.”
“Aku belum pernah melihat darah menstruasi,” aku Darrel pada akhirnya.
“Oh, benarkah? Bukannya kamu selalu dikelilingi perempuan?” tanya Calandra sinis.
“Mereka tidak pernah memperlihatkan darah menstruasinya. Mereka selalu tampil sempurna,” ujar Darrel jujur.
Calandra menghela napas panjang.
“Ibuku meninggal saat aku masih SMP. Beliau nggak pernah memberitahuku soal ini juga.”
“Ya, untuk apa beliau memberitahu kamu soal ini. Kamu kan laki-laki,” sambung Calandra tanpa pikir panjang.
Setelah menyadari ucapannya, Calandra seketika menyesal. Tanpa sadar ia sudah menyatakan pemakluman pada Darrel.
“Terima kasih pengertiannya,” kata Darrel.
Calandra kembali memalingkan wajah. Ia pun melirik jam digital yang ada di atas meja samping tempat tidur. Masih pukul empat pagi ternyata. Ia pikir tadinya sudah cukup siang.
“Masih jam empat. Sebaiknya kamu tidur lagi. Aku mau lepasin seprai ini dan membersihkan noda darahnya,” kata Calandra.
Sejujurnya ia cukup malu harus dilihat Darrel saat sedang tembus seperti ini. Tapi ya apa boleh buat. Ia harus mengesampingkan rasa malunya dan membereskan semua ini.
Darrel mengangguk. Pria itu kemudian beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam walk in closet. Saat Calandra berhasil melepaskan seprai dari tempat tidur, Darrel kembali dalam balutan hoodie berwarna merah dan mengenakan sepasang kaus kaki. Suaminya itu kembali merebahkan diri ke kasur angin yang ada di lantai.
“Kamu juga harus kembali tidur,” kata Darrel saat Calandra hendak melangkah menuju kamar mandi. “Biarkan pelayan yang mencuci itu besok.”
“Nggak,” kata Calandra sambil menggeleng. “Noda darah ini menjadi tanggung jawabku. Aku nggak mau menyusahkan pelayan dengan ini.”
Darrel mengembuskan napas panjang. “Aku benar-benar baru menyadari kalau kamu ternyata keras kepala.”
“Bodo amat,” jawab Calandra, dan langsung berlalu dari sana.
***
“Hey, Bu Bos,” sapa Kamal saat Calandra baru tiba di kantor pagi ini.
“Jangan panggil begitu dong, nanti aku jadi nggak nyaman kerja,” kata Calandra.
Sejak kejadian kemarin, Kamal selalu memanggil Calandra dengan panggilan Bu Bos. Beruntungnya hanya pria itu saja yang memanggilnya demikian. Josephine dan Fina tetap bersikap seperti biasa.
“Yeee.. Tapi kan kamu memang istrinya bos besar. Gimana sih?” protes Kamal.
“Tapi di sini aku kan rekan kerja kalian. Jadi nggak ada bedanya,” kata Calandra lagi.
“Udah, Calandra, biarin aja. Kamal mah gitu, nggak suka kalau diatur. Suka-suka dia aja,” kata Josephine dari meja kerjanya.
Calandra akhirnya tidak mendebat lagi dan beranjak ke mejanya sendiri.
“Pagi semua...” sapa Fina yang baru datang.
“Pagi semuanya,” sapa Andre.
Keduanya datang bersamaan.
“Eh, apa tuh? Kok ada kopi,” tunjuk Kamal ke tangan Fina dan Andre yang sama-sama memegang gelas kopi sekali pakai.
“Oh, ini, tadi nggak sengaja ketemu Pak Andre pas mau beli kopi di bawah, jadi gue ditraktik deh,” jelas Fina.
“Ih, Fina doang nih, Pak?” protes Kamal.
“Kamu mau?” tanya Andre.
“Ya mau lah, Pak. Malah nanya pula.”
“Nih,” Andre langsung menyerahkan gelas kopinya ke Kamal. “Baru saya minum sedikit.”
Kamal melongo sambil memegang gelas kopi yang diberikan Andre barusan. “Pak, kok bekasan sih. Yang baru dong.”
“Calandra, ayo ikut ke ruangan saya. Ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan,” ujar Andre pada Calandra, mengabaikan protesan Kamal.
“Oke, Pak,” jawab Calandra.
“Paakk...” tuntut Kamal masih tidak terima.
Andre pun kembali menoleh pada pria itu. “Besok saya traktir yang baru.”
Mendengar janji yang barusan diucapkan Andre, mata Kamal langsung berbinar. “Bener ya, Pak.”
“Iya,” ujar Andre mengangguk, lalu langsung melangkah ke ruangannya.
“Jangan kayak orang susah lu.” Josephine mencubit perut Kamal.
“Iri bilang bosss...” ujar pria itu, lalu beranjak menuju mejanya.
Calandra menggeleng melihat tingkah rekan kerjanya tersebut, lalu segera menyusul Andre ke ruangannya.
“Ayo duduk, Calandra.” Andre mempersilakan Calandra duduk di kursi yang ada di depan mejanya.
Calandra pun langsung mengikuti istruksi Andre.
Pria yang duduk di hadapannya itu langsung menyerahkan sebuah berkas yang cukup tebal ke hadapan Calandra.
“Kamu pelajari ini ya. Pak presdir minta aku untuk bimbing kamu mempelajari ini.”
“Apa ini, Mas, eh, Pak?” tanya Calandra.
Andre terkekeh mendengar Calandra yang masih sering salah memanggilnya. “Nggak apa-apa kamu bersikap nggak formal kalau kita lagi berdua begini,” kata Andre. “Yang lain juga tahu kok kalau kamu juni*rku dulu.”
Calandra tersenyum merasa bersalah. “Jadi, ini apa?”
“Itu data-data yang kamu butuhkan untuk mempelajari seluk-beluk cabang perusahaan. Kamu nggak berpikir selamanya akan jadi asistenku di sini kan?”
“Papa mau aku mempelajari ini?” tanya Calandra.
“Iya, mertua kamu sepertinya ingin membagi perusahaan ini untuk kamu dan Pak Darrel,” jawab Andre. “Omong-omong, aku boleh nanya yang agak pribadi nggak?”
“Soal apa, Mas?” tanya Calandra balik.
“Soal Pak Darrel,” jawab Andre. “Aku masih ingat dulu kamu pernah bilang kalau kamu kabur darinya. Sekarang, apa dia sudah bisa memperlakukan kamu dengan baik? Atau yang kemarin kulihat itu hanya akting?”
***