Bab 11 - Si Nenek Sihir

1758 Kata
“Oh, Kak Jenny,” ujar Calandra terkejut. Ia tak menyangka ternyata Jenny menunggunya di dekat lift.              “Aku janji ngajakin kamu turun bareng tadi,” ujar perempuan itu sambil tersenyum.              Calandra balas tersenyum. “Makasih ya, Kak. Yuk, kalau gitu kita turun bareng.”              “Ayo,” ujar Jenny.              Mereka berdua pun melangkah beriringan menuju lift.              “Aku nggak nyangka kamu sama Darrel bisa akrab begini,” kata Jenny saat mereka masuk ke dalam lift dan menekan tombol basement.              Calandra menekan tombol lantai tempat divisinya berada. “Oh, ya dia sih yang mulai sok akrab duluan,” ujar Calandra jujur.              “Wajar sih dia bersikap begitu, toh kamu sekarang beda banget dari yang dulu. Darrel yang playboy mana mau melepas tangkapan besar seperti kamu,” ujar Jenny sambil terkekeh. “Kamu udah nggak norak kayak dulu lagi.”              “Iya,” ujar Calandra sambil tertawa hambar. Entah mengapa, kalimat terakhir yang Jenny ucapkan menusuk jantungnya.              Calandra mengamati pantulan bayangannya dan Jenny di dinding lift. Dulu, ia selalu merasa minder berada di dekat Jenny yang punya tatanan rambut salon dan pakaian bermerk. Namun kini, ketika melihat mereka berdampingan, Calandra merasa dirinya tidak perlu lagi merasakan hal yang sama. Saat ini ia sudah tampak sama cantiknya dengan Jenny.              “Jadi... Gimana rasanya baikan sama suami yang ninggalin kamu di malam pengantin kalian?” tanya Jenny lagi.              Pertanyaan Jenny entah mengapa membuat Calandra semakin tidak nyaman. “Yah, begitulah. Dia berubah seratus delapan puluh derajat,” ujar Calandra, mencoba terkekeh agar pembicaraan mereka terasa lebih santai meski mendadak atmosfer di sekitar mereka terasa tidak nyaman. Ada dorongan lain di dalam diri Calandra yang membuatnya menahan diri untuk bercerita lebih banyak pada Jenny.              Ting...              Lift berdenting dan membuka di lantai tujuan Calandra. “Eh, udah nyampe aja. Aku duluan ya, Kak,” ujar Calandra dan langsung melangkah keluar.              “Calandra...” panggil Fina dan Josephine dari arah berlawanan. Keduanya tampak sedang membawa gelas kopi sekali pakai. Mata keduanya lalu melirik ke belakang Calandra, pada sosok Jenny yang masih tampak sebelum pintu lift menutup.               “Dari tempat big bos ya,” ujar Josephine.              “Gila, ngapain lo barengan sama nenek sihir?” serobot Fina.              “Nenek sihir?” tanya Calandra bingung.              “Itu lho, si Jenny,” ujar Finna.              “Hush, sembarang. Itu kan sepupunya Pak Darrel. Artinya, sepupunya Calandra juga dong,” ujar Josephine.              “Eh, iya. Maaf ya, Calandra,” ujar Fina yang mendadak menyesal sudah menyebut Jenny nenek sihir.              “Nggak apa-apa, santai,” kata Calandra untuk menenangkan rekan kerjanya. “Kenapa sampai disebut nenek sihir?” tanyanya penasaran.              “Kamu mungkin nggak tahu ya betapa menyebalkannya Jenny itu,” ujar Fina sambil geleng-geleng.              “Wajar lah Calandra nggak tahu, nenek sihir mungkin akan bersikap baik sama Calandra karena mereka masih keluarga,” ujar Josephine.              “Eh, barusan gue denger lo nyebut dia nenek sihir juga lho,” tuding Fina.              Josephine tampak serba salah. Ia menyentuh ujung rambut sebahunya dengan ekspresi tak enak pada Calandra.              “Menyebalkan gimana?” tanya Calandra penasaran. “Sejujurnya aku nggak terlalu akrab sama dia sih.”              “Nah, kalau gini kan enak,” ujar Fina semringah. Gadis berambut pendek itu lalu memajukan tubuh mendekati Calandra. “Dia tuh belagu banget, merasa udah kayak tuan putri di sini. Suka merintah-merintah sembarangan, marah-marah sembarangan. Kalau ada sesutau yang nggak dia suka, nggak peduli siapa pun itu, dia pasti langsung ngamuk.”              “Gue pernah jadi korbannya,”  Josephine mengaku.              “Kejadian di lift waktu itu ya,” tukas Fina.              Josephine mengangguk.              “Ada apa?” tanya Calandra tertarik.              “Waktu itu gue nggak sengaja nabrak dia di lift karena lagi buru-buru dan takut telat. Eh dianya langsung marah dan nyuruh gue minta maaf sambil berlutut dong.”              “Apa?” Calandra benar-benar terkejut mendengar informasi ini. “Terus kamu berlutut?” tanya Calandra lagi.              “Iya lah berlutut, memangnya gue punya pilihan lain?” ujar Josephine.              “Hanya karena dia keponakannya Pak Presdir, dia bisa banget berbuat semena-mena ke orang-orang di sini,” gumam Fina. “Gue juga pernah jadi korbannya dulu. Disuruh bawain tas dia yang seringan bulu angsa itu ke ruangan Pak Darrel. Penting banget kan ya.”              “Kenapa nggak nolak aja?” tanya Calandra.              “Astaga... lo beneran nggak tahu ya semenjijikkan apa Jenny itu kalau keinginannya nggak terkabul?” ujar Fina.              Calandra menggeleng. Ya, ia memang benar-benar tidak tahu karena mereka tidak pernah akrab, kecuali hanya di malam itu.              “Dia bakalan menjerit-jerit marah dan bikin kehebohan kalau udah ngamuk. Pernah lho dia nampar sekuriti hanya karena dilarang naik ke ruangannya Pak Darrel,” tutur Fina. “Pernah juga dia nyiram air di gelas yang dibawa OB ke muka siapa itu kemarin, anak HRD apa ya? Ah, gila deh pokoknya.”              “Apa nggak ada yang bisa menghentikan dia berbuat begitu?” tanya Calandra.              “Nggak ada yang berani ngadu, soalnya pada takut. Ponakan Pak Presdir mah siapa yang berani melawan,” sahut Josephine.              Calandra mendadak jadi ingat ucapan Darrel tadi.              Jangan terlalu akrab dengan Jenny. Kalau bisa, jangan sampai berteman dengan dia. Kamu nggak tahu seberbahaya apa dia itu              Apa ucapan Darrel benar? Dari cerita Fina dan Josephine tadi, kemungkinan besar apa yang diucapkan Darrel tadi memang benar.              “Oi, kalian. Mau sampai kapan ngerumpi di sana? Rapatnya sebentar lagi mau dimulai nih.” Kamal tiba-tiba muncul dan menginterupsi mereka.              “Nanti kita bahas lagi ya,” bisik Fina. “Lo nggak ngaduin kita kan ya?” tanyanya pada Calandra.              “Nggak lah, kalau Jenny salah ya ngapain dibela,” sahut Calandra santai.              Josephine dan Fina mengangguk lega. Mereka pun melangkah beriringan menuju ruang rapat. *** “Ya ampun, Valentino itu cakep banget ya,” Josephine telah berubah jadi fangirl dadakan sejak selesai rapat.              “Pokoknya Calandra, lo dilarang tebar pesona sama Valentino, oke,” ujar Fina. “Cukup lo punya Pak Darrel aja, Valentino jatahnya gue sama Jo.”              “Astaga... Ngapain sih kalian rebutan,” sahut Kamal. “Cakepan gue juga kemana-mana,” ujarnya percaya diri.              “Yee... percaya diri amat nih tutup botol ya,” ujar Fina sinis.              “Eh, ujung sedotan, sembarangan ya lo kalo ngomong,” ujar Kamal tak terima.              “Apa lo...” tantang Fina.              “Apa?” balas Kamal.              “Sudah... Sudah...” Josephine melerai keduanya, sementara Calandra hanya menonton pertikaian tersebut sambil geleng-geleng dari meja kerjanya.              Tadi di dalam rapat ditampilkan video klip pemanfaatan daur ulang sampah yang nantinya akan dijadikan sebagai salah satu sarana promosi ke masyarakat. Kebetulan, yang menjadi model video klipnya adalah Valentino, penyanyi muda yang sedang naik daun. Dan yang membuat dua rekan kerja Calandra tadi semakin heboh adalah kehadiran Valentino yang ikut serta di rapat tersebut, karena pria itu juga akan hadir di acara pembukaan pameran produk daur ulang yang akan dilaksanakan minggu depan.              Tampaknya Valentino melakukan itu bukan hanya karena bayaran, namun karena pria itu juga peduli pada lingkungan. Hal itulah yang membuat Fina dan Josephine semakin tergila-gila padanya.              “Pokoknya besok pas gladi, gue yang dampingin dia ya,” kata Fina lagi.              “Eh, jangan dimonopoli sendiri dong. Kita kan satu tim,” protes Josephine.              “Udah jangan rebutan,” sela Kamal. “Apa kalian nggak lihat dari tadi Valentino lirik-lirik Bu Bos terus?”              Telinga Calandra berdiri saat mendengar namanya dibawa dalam obrolan tersebut.              “Percuma kalian berantem, mata Valentino cuma fokus ke Bu Bos aja. Cian deh lo,” sambung Kamal lagi.              “Aku tidak peduliiii...” ujar Fina dengan suara bernada.              “Betul, kami nggak peduli,” kata Josephine. “Valen belum tahu aja kalau Calandra itu istrinya Big Bos. Entar pas tahu juga mundur sendiri.”              Calandra tersenyum mendengar kata-kata optimis tersebut. Syukurlah kalau mereka tidak berpikir buruk soal dirinya.              Drrrttt...              Ponsel Calandra tiba-tiba bergetar. Segera saja ia meraih ponselnya dan menemukan sebuah pesan dari nomor asing di sana.              +628xxxxxxxxxx: Sayang, ingat ya, nanti kita pulang bareng              Calandra menarik napas dalam-dalam. Meski itu nomor asing, ia jelas sangat tahu siapa pengirimnya. Ya, siapa lagi kalau bukan si mes*m Darrel.              +628xxxxxxxxxx: Nomor ini nggak usah disimpan. Eh, nggak usah diblokir lagi.                Tiba-tiba, pesan lainnya masuk meski Calandra tidak membalas apa pun.              +628xxxxxxxxxx: Ini cuma nomor sementara kok. Oke, Sayang?              +628xxxxxxxxxx: Love you :*                 Calandra menggeram kesal. Kemarin ia sudah memblokir nomor ponsel Darrel. Lalu, hari ini pria itu kembali mengganggunya dengan nomor lain. Dasar Darrel sialan! *** Seperti keinginan Darrel, mereka akhirnya memang pulang bersama. Darrel masih bersin-bersin sesekali, dan membuat khawatir ayahnya. Namun, Darrel berhasil menyakinkan ayahnya bahwa itu hanya flu biasa dan akan sembuh esok hari.              Selama di rumah, Calandra selalu menghindari Darrel. Istrinya itu lebih banyak menghabiskan waktu bersama ayah mertuanya. Mereka baru bisa berduaan hanya saat tiba waktunya untuk tidur.              “Jangan tidur di situ!” cegah Calandra tiba-tiba.              Darrel yang baru selesai memompa kembali kasur angin yang tadi pagi ia kempiskan kembali untuk menghilangkan jejak, seketika bingung dengan ucapan istrinya.              “Jadi aku tidur di mana dong, Yang?” tanya Darrel bingung.              “Karena kamu sedang flu, biar aku aja yang tidur di situ. Nih, kamu bisa pakai tempat tidur ini,” ujar Calandra yang segera turun dari tempat tidur.              “Tapi nanti kamu kedinginan,” kata Darrel.              “Aku nggak gampang sakit kayak kamu kok,” ujar Calandra santai. Ia pun melangkah mendekati Darrel.              “Makasih ya, kamu perhatian banget,” ujar Darrel terharu. “Tapi aku nggak mau kamu sakit. Jadi  biar aku aja yang tidur di sini ya.”              “Aku juga nggak mau kamu sakit, Darrel,” ujar Calandra.              Senyum lebar seketika terbit di wajah Darrel. Akhirnya ia berhasil juga mendapat perhatian dari Calandra.              “Kalau kamu sakit, kasihan Papa. Dari tadi aja beliau selalu khawatir sama kondisi kamu,” sambung Calandra lagi.              Senyum di wajah Darrel seketika kembali lenyap. Ternyata alasan Calandra tidak ingin ia sakit adalah karena tidak ingin ayahnya khawatir. Tadi Darrel sempat berpikir bahwa Calandra memang khawatir padanya.              “Kamu flu ringan begini aja Papa gelisah dan khawatir terus. Gimana kalau sakit kamu semakin parah?” ujar Calandra lagi.              “Tapi aku nggak mungkin biarin kamu tidur di kasur angin ini,” tolak Darrel.              “Aku nggak mau berdebat ya,” ujar Calandra memberi peringatan.              “Atau kita tidur berdua aja di tempat tidur. Biar sama-sama nggak kedinginan. Mau ya? Mau kan?” tanya Darrel mencoba membuat penawaran.              Calandra diam sejenak dan tampak berpikir.              Sementara itu, Darrel tidak ingin membuang kesempatan. Ia pun memberanikan diri mendekat untuk mempersempit jarak di antara mereka, lalu meraih pinggang Calandra.              “Mau ya, Sayang?” bisiknya sambil mendekatkan wajah mereka. “Aku nggak akan bikin kamu kedinginan malam ini.” *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN