“Mamaaaa…” Elora melangkahkan kakinya dengan gegas dan langsung menyurukkan kepala ke pangkuan ibunya. Gadis kecil berusia lima tahun itu seketika menangis. Calandra yang tadi sedang asik mengobrol bersama Davina seketika dibuat heran dengan kehadiran putrinya yang kini berurai air mata. “Kenapa, Sayang?” tanya Calandra sambil mengusap kepala putrinya dengan lembut. Di sisi lainnya, Darrel yang sedang bermain dengan putranya seketika ikut menoleh. Elora masih menyembunyikan wajahnya tanpa menjawab. Punggung gadis kecil itu bergetar, menandakan ia masih menangis. Tak lama kemudian muncul Xera, putri bungsu Davina. Wajah gadis kecil itu persis ibunya, tapi sifatnya benar-benar berbeda. Xera tidak sekalem Davina, ia agak tomboy dan terkadang sering tidak terkendali. “Habis dimarahin K

