BAB 4 VIDIO CALL
Meski lewat layar, mengapa tatapan itu mengintimidasi?
-----
"Sepertinya ayah masih tinggal dua hari, Ca! Kamu baik-baik saja sama bunda, ya!?" ucap Mas Reza di balik layar, setelah dua hari wisuda Caca.
"Siap!" Gadis periang itu menaikkan jempol.
"Bunda mana?" tanya Mas Reza.
Mendengar perbincangan mereka, aku pun segera berlari dari dapur.
"Ayah mau bicara."
Gadis kecil itu menyerahkan ponsel, lalu melanjutkan lagi permainan bonekanya.
Bingung, namun tetap meraih benda pipih itu.
Tumben bicara langsung ke aku? Biasanya sama Caca aja?
Aku menatap layar, terlihat Mas Reza memakai baju putih, tersenyum manis, sepertinya telah siap.
Ia melambai ke layar, kaku. Aku melakukan hal sama.
Untung jauh, kalau enggak, pasti ia tahu ributnya kerja jantungku dengan jarak sedekat ini.
"Bagaimana kabarmu?" Menurutku, itu pertanyaan basa-basi.
“Baik," jawabku singkat tanpa berani menatap netra teduhnya.
"Pekerjaan belum kelar, Zahrah. Mungkin aku Masih tinggal sepekan lagi."
"Iyya," jawabku dengan ekspresi sama.
"Kok, iyya, saja? Nggak minta ole-ole?"
"Hmm ..."
"Segitu aja?"
Bibirnya menarik senyuman. Manis!
"Oo, iyya, Mas. Aku lupa. Kami rencana ke kampung, acara nikahan Raina dimajukan lebih cepat. Mumpung anak sekolah lagi libur semester."
Kulaporkan pembicaraanku dengan Raina delapan hari lalu, sekaligus mengalihkan pembicaraan yang memompa jantung lebih cepat.
Mas Reza mengusap dahi. Tampaknya lagi berfikir. "Aku tidak bisa cepat datang. Paling seperti wisuda Caca dulu. Hadir pas hari H saja," katanya.
"Oo, iyya, Mas. Tidak datang juga nggak apa-apa. Keluarga pasti mengerti."
"Kamu larang aku datang, ya?" Tampak ia melipat alis tebalnya.
Inginnya kujawab, 'iyya, tidak usah datang kalau bersama mantanmu!' Tapi kalimat itu tak mampu keluar.
Mungkin suatu hari nanti, akan kurangkai untuknya.
"Ng-nggak, kok. Cuma, Zahrah pahami aja kesibukan, Mas."
Buru-buru aku meluruskan maksud.
"Nyetir sendiri?"
"Reno -adik ke tigaku yang mengelola loundry bersama Raina- nyetir. Besok kami berangkat, ya?"
Aku meminta izinnya.
"Iya. Hati-hati di jalan, termasuk jagain hati kamu."
Kalimat terakhirnya sukses membuat posisi jantung ini bergeser. Aku menautkan alis sambil memberanikan menantang netranya. Namun, ia hanya tersenyum entah.
***
Empat hari kami di rumah ibu, banyak sanak saudara meramaikan. Sedang keluarga jauh menginap di rumah dan tempat kerabat lain.
Termasuk Mas Danar, dua hari ini bolak-balik datang bantu-bantu.
Caca sangat senang punya banyak teman, apalagi diistimewakan oleh ibu-bapak, yang memang belum punya cucu. Otomatis dia menjadi yang pertama di keluargaku.
Juga ke Mas Danar, Caca cepat akrab. Bersama Angga -adik bungsuku- sering bawa Caca jalan-jalan barengan anak-anak lain, menggunakan mobil Mas Danar.
"Ayah! Caca senang sekali di sini. Banyak teman, semua orang sayang, termasuk Om Danar."
Cerita Caca lewat panggilan VC, jelang satu hari nikahan Raina.
"Oo, bagus dong! Pantes ayah nggak dirinduin," jawab Mas Reza bercanda. "Trus, Om Danar itu siapa?" lanjutnya.
Aku mendengarkan percakapan ayah dan anak itu, saat memakaian baju Caca sehabis mandi.
"Om yang bertemu di pantai itu, Ayah." Caca mengingatkan.
Wajah Mas Reza seketika berubah. Ia menarik lengkungan senyumnya jadi serius. Pemilik netra teduh itu menatap tajam ke arahku yang sedang menyisir rambut Caca.
Merasa ada yang salah dari tatap itu, sisi jiwaku merontah.
Meski, lewat layar, kenapa tatapan itu seakan mengintimidasi?