BAB 11 BULAN MADU 2 Pukul setengah sembilan malam, aku masih berkutat di luar kamar. Rasanya asing memasuki ruang pribadi Mas Reza. Hawa dingin menjalari jemariku, mengingat kami tak pernah sengaja tidur sekamar. Kecuali dalam keadaan terpaksa. Bukankah ini doaku setiap waktu? Kenapa seperti sebuah beban? Sungguh ajaib rasa ini. Seingatku kami sekamar hanya pada saat ada Oma, nikahan Raina, berkunjung ke kampung. Itupun untuk menghindari kecurigaan orang rumah, dan terakhir ketika Mas Reza sakit. Untuk menghalau galau. Aku mengerjakan apa saja yang bisa kulakukan. Sampai lantai yang sudah bersih kupel kembali. Huft .... Ternyata susah juga menghadapi situasi yang tiba-tiba berubah. Pria maskulin itu belum pulang dari shalat jamaah Isya, padahal masjidnya berada sekitar lima ratus me

