BAB 21 TAK INGIN PULANG 2 Sempurnalah sakit dalam tubuh, hingga bumi seakan berhenti berputar pada rotasinya. Sementara masih menunggu reda gejolak perut, ingin mengeluarkan semua isinya, bersamaan itu juga nada panggilan yang kustel khusus Mas Reza terus berdering. Mengingat tadi dan kejadian-kejadian sebelumnya, seperti memicu untuk muntah. Keringat mulai bercucuran, ujung tangan, dan kaki dingin, sementara jemari kecil Caca memijit leher belakanku. "Kita terus ke rumah sakit aja, ya, Bund?" Caca mulai menangis. Ini pertama kali melihatku seperti sekarang. Kedua tangan menyandar pada sisi wastafel, lantas gemetar jemari menon-aktifkan benda pipih tersebut. "Kita kerumah loundry aja, ya, Sayang?" Meminta pendapat Caca setelah agak mendingan, putri kecil itu mengangguk, pun ikut ter

