Seperti biasa, aku datang ke café dan membaur dengan pelanggan untuk mengamati situasi dan kondisi. Sore ini café cukup ramai, hampir semua meja terisi oleh pelanggan. Terdengar riuh sekelompok ABG berseragam SMA yang sedang merayakan ulang tahun temannya. Oh iya, sebagai bentuk promosi dan loyalitas kepada pelanggan, aku memberikan diskon 15% bagi mereka yang berulang tahun dengan syarat menunjukkan kartu identitas sebagai bukti, agar tidak terjadi kecurangan.
Kali ini aku tidak hanya sedang mengamati situasi café tapi juga mengevaluasi kinerja karyawanku. Untuk meningkatkan kinerja mereka, setiap bulannya selalu diadakan pemilihan karyawan terbaik disertai dengan reward. Aku juga sering memantau laman media sosial cafeku, karena di zaman sekarang berita apapun lebih cepat tersebar di media sosial, kan? Saran dan kritikan dari pelanggan aku jadikan sebagai bahan evaluasi, dan ada rasa kepuasan tersendiri apabila mendapat banyak komentar positif mengenai café. Para pelanggan secara tidak langsung, dari setiap postingan mereka, turut membantu promosi.
"Sudah coba dihubungi lagi?"
"Sudah, Bu, tapi tidak diangkat."
"Sudah berapa lama dia tidak masuk kerja?"
"Dengan hari ini, sudah 5 hari, Bu."
"Dia ada punya masalah dengan karyawan lainnya? Setahu kamu saja."
"Setahu saya tidak ada, Bu. Dia baik-baik saja dengan yang lainnya. Malah dia disenangi di sini."
"Masalah keluarga?"
"Entah, Bu, saya kurang tahu. Dia tidak terlalu banyak cerita."
"Ya sudah, kalau nanti dia masuk kembali, langsung suruh menghadap saya."
"Baik, Bu."
"Oke, silahkan kamu lanjutkan bekerja kembali. Tolong, sekalian kopi yang biasa. Terima kasih." Aku menutup pembicaraan sambil menyerahkan selembar uang untuk membayar pesananku. Aku memesan Caramel Macchiato kesukaanku, meskipun café ini milikku sendiri, aku tetap membayar apapun yang aku pesan di sini.
"Terima kasih, Bu. Silahkan ditunggu sebentar pesanannya," pamitnya berlalu dari mejaku.
Disaat aku sedang berbicara dengan salah satu karyawanku, mataku tidak sengaja melihat sesosok perempuan berperawakan mungil dengan tas ransel ukuran besar baru saja memasuki café. Sosok yang sepertinya tidak asing bagiku. Ranselnya terlihat cukup berat untuk ditanggung oleh badan mungilnya. Bukankah itu perempuan yang menabrak aku di Amplaz, dua minggu yang lalu.
Dia memilih duduk di pojok kanan café, sudut ruangan yang agak terang karena dekat dengan kaca dibandingkan dengan spot tempat dudukku saat ini yang sedikit temaram. Sepertinya dia tidak menyadari kehadiranku di sini. Dia terlihat asyik dengan notebook-nya, entah apa yang dia kerjakan. Sesekali dia mengerutkan dahinya, terlihat fokus sekali. Kalau aku tebak, dia seorang mahasiswi yang sedang mencari bahan untuk tugas mengandalkan wifi gratis.
Tak lama aku melihat Agung, salah satu waitress di sini, mengantarkan satu cangkir kopi pesanannya. Konsentrasinya pun menjadi sedikit terganggu. Aku sontak memalingkan wajahku karena aku tidak ingin dia memergokiku yang sedari tadi sedang mengamatinya.
Aku kembali fokus dengan tujuanku kesini. Ah iya, mengenai yang tadi aku bicarakan dengan karyawanku, ada salah satu karyawan bagian kasir yang sudah beberapa hari ini tidak masuk kerja, tanpa ada keterangan. Jujur saja ini sangat merepotkanku dan karyawan lainnya karena harus ada yang kerja rangkap untuk mengisi posisi kasir. Sudah tidak ada toleransi, aku memutuskan untuk mencari penggantinya saja.
Beberapa orang karyawanku di sini adalah mahasiswa yang bekerja paruh waktu. Jam kerja cafe kan tidak selayaknya jam kantor. Mereka bekerja dalam shift yang disesuaikan jadwalnya. Untungnya mereka rata-rata orang yang serius bekerja dan bertanggung jawab sehingga jarang sekali aku temukan permasalahan. Kalaupun ada yang berhenti, itu karena mereka telah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Tapi, ada juga yang tetap betah berada disini.
Aku melanjutkan membaca email dan chatting dengan teman-temanku semasa kuliah dulu di sebuah grup yang kami buat untuk saling berkomunikasi terutama setelah kami kini lulus dan berdomisili di berbagai Negara, entah kembali ke negara asal sepertiku atau sedang mencoba peruntungan di negara lain.
Ddddrrrtt

Aku menghabiskan kopiku dan meraih gadget yang tergeletak di meja lalu bergegas pergi. Ada hal yang harus aku kerjakan di ruanganku, lagipula aku bisa mengawasi cafeku melalui CCTV yang terpasang di beberapa sudut café, di dalam dan luar. Aku keluar lewat pintu depan agar tidak menimbulkan kecurigaan pelanggan yang lain dan memutar lewat belakang café untuk naik ke ruanganku yang terletak di lantai 2.
Ruanganku ada di lantai atas café dengan jendela besar yang menghadap ke arah jalanan jadi aku bisa melihat dari atas sini untuk mengetahui keramaian pengunjung di café dari jumlah motor atau mobil yang terparkir di bawah sana.
Ruanganku hanya untukku, tidak ada yang boleh masuk tanpa izinku. Begitu memasuki ruangan, yang pertama kali dilihat adalah sofa hitam minimalis dengan bantalan berwarna putih yang berada di tengah ruangan, menghadap ke sebuah layar televisi yang tertanam di dinding. Aku sengaja memilih sofa dengan sandaran yang rendah supaya tidak membuat ruangan terlihat penuh sesak. Sejajar dengan pintu, ada lemari kaca besar yang isinya penuh dengan koleksi miniatur ciri khas negara-negara di dunia. Aku mengoleksinya semenjak kecil, Ayah dan Bunda yang sering membelikannya untukku. Hingga akhirnya aku membelinya sendiri setiap kali aku bepergian keluar negeri.
Di seberang ruangan tepatnya dekat jendela ada meja kerjaku yang menghadap dinding. Seperangkat iMac berwarna putih menghiasi meja kerjaku. Berbeda dengan café di bawah yang bernuansa merah bata, ruanganku ini bernuansa monokrom, hitam dan putih. Ada beberapa lukisan abstrak yang juga bertema monokrom terpajang di dinding.
Di sudut yang berlawanan dengan meja kerjaku ada beanbag sofa warna hitam dan putih serta sebuah meja kecil rendah, tempat aku dan Ocha biasa bersantai sambil menikmati kopi dan cemilan seraya berbagi cerita atau bertukar pendapat tentang apapun.Terkadang kami juga turun ke bawah, bersantai di café. Kalau café mulai penuh, kami akan segera beranjak pergi ke ruang kerja.
Aku berjalan memasuki ruang kerjaku, aku melepaskan kemeja flanelku, menyampirkannya di senderan kursi kerjaku. Aku berjalan menghampiri jendela sambil memasukkan tanganku ke saku celana, kebiasaan yang tak bisa hilang. Langit nampaknya semakin gelap, tak lama lagi pasti akan turun hujan.
Aku suka hujan. Aku suka melihat rinai hujan dari balik jendela. Aku suka mendengarkan gemericik hujan. Aku menyukai hujan seperti aku menyukai kopi. Dapat menikmati keduanya dalam satu waktu adalah kesenangan tersendiri, kedamaian buatku.
Aku memperhatikan jalanan, menunggu kedatangan Ocha. Aku melihat sosok perempuan mungil itu sepertinya ingin cepat pulang, terburu-buru sekali mengeluarkan motornya dari parkiran. Ah mungkin karena mau hujan. Kelihatannya memang hujan akan turun dengan lebatnya malam ini. Baguslah, hujan di malam hari itu bisa bikin tidur nyenyak.
Eh, kenapa Agung mengejar perempuan itu ya? Sepertinya Agung mengacungkan sesuatu, seperti map atau buku? Entahlah. Kenapa perempuan itu tidak menghiraukan teriakan Agung? Tidak terdengar? Atau mungkin bukan dia yang dikejar Agung? Tapi, sepertinya benar dia kok, karena cuma dia yang keluar dari café. Dia sepertinya meninggalkan sesuatu saat terburu-buru untuk beranjak pulang tadi.
Aku beranjak menuju meja kerjaku dan menelpon ke bawah, aku ingin bicara dengan Agung.
"Café Oregano. Selamat sore, ada yang bisa dibantu?" sapa salah satu karyawanku, dari suaranya ini pasti Laras.
"Selamat Sore, Laras. Saya ingin bicara dengan Agung."
"Baik, Bu. Tunggu sebentar, saya panggilkan," sahut Laras. Aku menunggu beberapa saat karena Agung sepertinya sedang ada yang dikerjakan.
"Selamat Siang, Bu. Saya Agung. Ada apa ya, Bu?"
"Tadi saya lihat kamu mengejar seorang pelanggan sambil mengacungkan sesuatu. Bisa ceritakan apa yang terjadi?"
"Ah iya, dia salah satu pelanggan tetap di sini, Bu. Namanya Yara. Ada buku miliknya, ketinggalan di kursi yang tadi dia tempati. Sepertinya dia buru-buru dan jadinya kelupaan. Tapi, tadi sudah saya amankan, Bu," sahut Agung menjelaskan kronologinya. Aku sejenak berpikir, dasar perempuan ceroboh. Tiba-tiba aku merasa ingin tahu dengan isi buku milik perempuan mungil yang ternyata bernama Yara itu.
"Halo, Bu?" suara Agung memecah lamunanku.
"Oh iya. Nanti berikan buku itu ke Bu Ocha ya, biar dia yang bawakan ke ruangan saya. Saya saja yang simpan, sepertinya saya mengenal dia."
"Baik, Bu. Nanti saya titipkan dengan Bu Ocha."
"Iya terima kasih, Agung," sahutku. Aku langsung menutup sambungan dan beranjak menuju beanbag sofa.
~
Perempuan cantik yang sedang duduk santai di hadapanku ini namanya Ocha. Sahabat yang sudah seperti saudara bagiku. Tingginya 168 cm, sedikit lebih pendek dariku sehingga sering dikira adikku.Tapi dia selalu saja mengusiliku dengan memanggilku tante di tempat umum.
Dia selalu saja bertingkah konyol meski usia kami sudah tidak bisa dibilang muda layaknya remaja di luar sana yang dengan santainya bertingkah tidak tahu malu di depan umum. Malah sepertinya mereka bangga dengan kelakuan mereka itu, seolah senang karena berhasil menarik perhatian orang tanpa mereka sadari sebenarnya mereka telah merendahkan dirinya sendiri. Tapi herannya saat mereka direndahkan secara langsung, mereka malah marah. Ah dasar aneh. Seperti halnya mereka yang berpakaian terlalu seksi, tapi marah saat dipelototin atau dilecehkan secara langsung. Sebenarnya mereka tahu tidak ya kalau hanya dengan pandangan saja mereka sudah dilecehkan secara visual? Ah mungkin mereka tidak tahu.
"Itulah bunda sekalian,mengapa penting sekali untuk menjaga kebutuhan gizi seimbang anak kita sejak kecil agar tumbuh kembang otaknya berjalan dengan baik dan sempurna. Jangan jadi generasi micin," ucap Ocha suatu waktu saat kami berdua sedang memperhatikan beberapa remaja yang pakaiannya terlihat seronok, cabe-cabean istilahnya. Aku tertawa mendengar Ocha yang berlagak seperti seorang ahli yang berbicara di hadapan ibu-ibu muda dengan ekspresi seriusnya waktu itu.
Seperti biasa, aku dan Ocha duduk bersantai di ruang kerjaku ini sambil menikmati secangkir teh hangat dan cemilan spicy nachos. Kali ini sambil memandangi air hujan yang jatuh menerpa kaca jendela ruang kerjaku. Ocha terlihat santai dengan celana selutut warna khaki dan baju kaus putih lengan panjang. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkannya tergerai menutupi punggungnya. Seuntai kalung dengan bandul liontin yang selalu dikenakannya menghiasi lehernya yang jenjang, sepasang dengan punyaku yang juga selalu aku kenakan. Semacam simbol persahabatan kami.
Aku duduk santai sambil membolak-balik buku yang ternyata adalah sketch book milik perempuan mungil yang bernama Yara itu. Dia pintar menggambar ternyata walau hasil karyanya belum terlalu rapi tapi aku acungin jempol deh. Aku sendiri payah dalam hal menggambar. Prestasiku dalam menggambar hanyalah menggambar coretan di sudut-sudut halaman buku saat aku merasa bosan dengan pelajaran ketika aku masih bersekolah dan berlanjut hingga kuliah.
Sepertinya dia menggambar dengan melihat dari foto atau potongan film. Kebanyakan yang digambarnya adalah sketch wajah artis, sepertinya artis Korea, karena aku tidak mengenalnya. Tapi entahlah, aku hanya menebaknya. Bukannya sekarang para remaja itu sedang demam drama Korea, seperti Ocha yang selalu saja meracuniku untuk menonton drama Korea bersamanya.
"Hey, itu Song Joong Ki?" seru Ocha tiba-tiba mengagetkanku."Itu loh artis Korea yang main di drakor Descendants of the Sun, The Innocent Man juga", ucapnya berusaha mengingatkanku seolah aku mengalami hilang ingatan.
"Oh yang dramanya kamu tonton berulang kali itu?" ucapku sambil mengerutkan alis, berusaha mengingatnya.
"Iya iya. Bisa jadi!" serunya sambil tertawa.
"Bodoh!" ucapku sambil terkekeh melihat tingkahnya.
"Wah ada Jin Goo juga, agak kurang mirip sih tapi lumayanlah," serunya sambil membolak-balik halaman demi halaman dan menyebutkan beberapa nama yang aku tidak tahu mereka siapa. "Eh eh, sebentar deh, ini kayak kamu deh, Rain. Sumpah ini gambar kamu," ucapnya sambil memandang serius gambar yang dia maksud seraya menyerahkan sketch book-nya kepadaku. Kulihat sketsa seorang perempuan yang sedang duduk sambil menopangkan kepalanya dengan sebelah tangan di atas meja, rambut dikuncir asal-asalan. Sepertinya itu memang mirip denganku.
Aku bergegas mengambilnya dan kembali mengamati untuk lebih memastikan bahwa itu memang aku. Sejak kapan dia membuatnya? Ah... Berarti dia menyadari kehadiranku disana tadi sore? Berarti dia cukup lama mengamatiku karena pastinya dia butuh waktu untuk membuat ini. Kenapa aku tidak menyadari kalau dia memperhatikanku?
"Are you okay, baby?" Ocha terlihat bingung sambil mencolek hidung mancungku, karena aku terdiam memikirkan gambar ini.
"I'm okay," ucapku sambil tersenyum.
"Ini punya siapa? Kamu kenal orangnya? Tadi Agung bilang, kamu memintanya untuk menitipkan ini kepadaku untuk disimpan sama kamu. Siapa dia?" cecar Ocha ingin tahu.
"Kamu ingat dengan perempuan yang menabrakku di Amplaz dua minggu lalu, yang pernah aku ceritakan itu?"
"Hmmm iya. Memangnya apa hubungannya?" Ocha masih terlihat bingung.
"Ini miliknya. Namanya Yara. Kata Agung, dia pelanggan cafe, sering nongkrong di sini. Pantas saja aku sepertinya familiar dengan wajahnya itu. Hmmm Jogja tambah sempit ya?" ucapku sambil mengamati sketch book yang masih terbuka di halaman yang sama di hadapanku ini.
"Dia tahu kamu owner café ini?" tanya Ocha sambil memakan kue yang dibelinya sebelum kesini. Itu perut kapan gendutnya sih?
"Sepertinya sih tidak, aku tadi duduk membaur seperti biasanya," sahutku sambil meletakkan sketch book-nya di atas meja dan mengambil cangkirku, menyesap isinya dengan nikmat.
"Lalu buat apa kamu menyimpan itu?" tanyanya sambil menunjuk dengan dagunya.
"Aku cuma kepo, ingin tahu isinya. Aku pikir cuma buku catatan biasa. Aku tadi melihat Agung mengejarnya sambil mengacungkan buku itu tapi dia sepertinya buru-buru dan tidak mendengar teriakan Agung. Ya sudah daripada nanti hilang kalau disimpan di bawah, lebih baik disimpan disini kan?" sahutku tenang walau dalam hati aku juga mempertanyakan kenapa.
"Oh gitu. Iya juga sih, pinter juga kamu ya. Aku tidak menyangka. Tidak sia-sia aku memberimu asupan gizi yang berguna untuk otak setiap hari ya.. Hmm hmmm," sahutnya menyebalkan sambil mengusap-usap pipiku.
"Menyebalkan kamu!" seruku dan menangkis tangannya lalu menimpuknya dengan gumpalan tisu. Entah, tak hentinya perempuan gila satu ini membuatku tertawa dengan berbagai tingkahnya. Dia yang begitu hangat dan ceria berbanding terbalik denganku yang terkesan dingin ini.
***
Aku mengendarai motor matic-ku melintasi jalanan Jogja yang ramai. Kalau langit sudah mendung dan angin berhembus kencang seperti ini, para pengendara di jalanan pasti mulai 'menggila', bahkan ada yang nekat menerobos lampu merah. Semua ingin cepat sampai ke tujuan sebelum kehujanan. Yah aku juga gitu sih hehehe.
Rintik hujan mulai membasahi jalanan. Aku mengambil jalan pintas lewat gang saja deh, semoga bisa sampai kost lebih cepat, aku lupa membawa mantel hujan. Repot urusannya kalau aku sampai basah kuyup, besok aku kuliah pakai apa kalau celana jeans ini basah? Duh... notebook?! Astaga aku lupa ada notebook di dalam tasku. Seandainya aku tidak keasyikan menggambar perempuan itu, pasti aku sudah pulang dari tadi. Ahhhh..... Aku benci hujan :(
Segera aku membuka pintu pagar kos lalu memarkirkan motor. Dan seketika hujan menjadi lebat. Aku langsung berlari, meletakkan tas ranselku ke kursi bambu yang ada di teras depan kost agar tidak kebasahan dan menutup pintu pagar kembali sebelum aku masuk ke dalam kostku.
Syukur aku sudah tiba di kost saat hujan lebat, tetap kebasahan sih walau sedikit. Aku harus langsung mengganti celana dan menggantungnya ke dekat kipas angin. Tak lupa aku keluarkan seluruh bawaanku di dalam ransel, agar aku bisa membersihkan ranselku yang juga terkena air hujan.
Kayaknya ada yang kurang deh, tapi apa ya? Aku mengacak-acak isi ransel yang baru saja aku keluarkan. Loh? Kemana? Kok tidak ada ya? Aku kembali membuka ranselku untuk memastikan bahwa isinya sudah kosong. Sketch book aku, dimana? Astaga! Aku meninggalkannya di kursi café!
Kalau hilang gimana dong? Aku malu kalau sampai isinya dilihat orang lain. Mudah-mudahan yang menemukannya pelayan café, eh tapi bakal disimpan tidak ya? Atau malah dibuang? Duh jangan dibuang dong. Huft.. Tenang Yara, tenang. Bernafas dengan baik dan benar. Tarik nafas, tahan, hembuskan. Aaaaahhhhh sketch book-ku. Kalau aku ambil sekarang, masih hujan. Lebat banget pula, pasti basah juga nantinya itu buku. Tapi, kalau tidak diambil sekarang ada kemungkinan akan hilang. Ya sudahlah, besok aku balik lagi saja ke café untuk menanyakannya. Eh tapi besok ada janji dengan Dafa, menemani dia mencari buku.
Aku duduk diam sambil memikirkan sketch book milikku yang entah bagaimana nasibnya sekarang. Kok bisa aku seceroboh ini. Ah sudahlah, lebih baik aku segera mandi.