Nasehat Ayah

1212 Kata
Mendengar pacar cadangannya tidak marah sama sekali, Ariel pun melanjutkan rayuannya. “Sayang … kamu ga perlu malu, malu itu beraaat, biar aku saja!” “Eeeeehhh … hhaha … apaan siiih, malu apanya yang berat, kenapa juga harus kamu yang nanggung?” “Iya sayang, berat banget, berat menanggung malu karena menahan rindu yang kian mendalam, oohhh.” “Bwaahahahaha, huuuhhh gombal teruus!” Tawa Temannya pecah tak tertahankan membuat Ariel ikutan menahan tawa dengan menggit bibir sembari memelototi mereka. “Eh disana banyak orang ya, kok riuh banget kedengarannya?” Sontak Ariel menutup ponselnya dengan tangan sembari mengisyaratkan temannya dengan mata agar diam. “Ah iya sayang, disini aku lagi di café, terus di samping meja aku tuh ada rombongan pemuda gitu, jadi … yaah … agak berisik … sayang!” “Ooh gitu yah, ya udah deh kalau gitu, kirain kamu lagi bareng teman-teman kamu!” “Iya sayang, emang kenapa gitu kalau aku bareng sama temen, ga boleh ya?” Teman-teman Ariel sudah tidak tahan lagi mendengar bualannya, namun mereka masih harus menahan mulut untuk tidak berteriak lagi. Bagas sesekali harus mengekspresikan rasa mualnya dengan pura-pura mau muntah. Lain lagi dengan Ivan, dia terpaksa menganga tanpa suara karena menahan diri agar tawanya yang lebar tidak keluar. ”Ya ga pa-pa juga sih, cuma ya malu aja kalau ketahuan lagi digombalin, hehe!” “Ga usah malu dong sayang, kan ga ada yang lihat juga kan?” Acara teleponan mereka pun terus berlanjut, dengan ribuan gombal berbumbu rayuan manis terlontar, membuat wanita cadangannya harus tertawa dan merajut manja karenanya. Sementara teman-temannya harus lupa dengan pasangan mereka masing-masing. Aksi Ariel membuat mereka baper bukan kepalang. Ariel tersenyum puas setelah membuat temannya lupa dengan ceweknya, gara-gara rayuan maut yang membuat mereka iri. "Gimana, yang menonton sekarang siapa coba?" Sambil menaikkan alisnya dan tersenyum mengejek sembari meraih gelas minuman dan meneguknya dengan penuh kepuasan. "Alaaah, cuma pacar gentayangan doang, mana ga tahu mukanya lagi, hah bagaimana kalau dia malah banci, hahahaha." Seru Bagas tak mau kalah. "Banci model apa yang suaranya semerdu kicau burung gitu?" "Burung gagak, hahaha!" Sela Ivan tiba-tiba. "Yang pasti, dia banci atau bukan, toh cuma buat cadangan doang, buat bikin kalian iri." Ariel pun berdiri hendak pulang. Temannya cuma memandangi kepergiannya dengan senyum penuh arti. “Oke deh, aku pulang duluan, ga enak hati dijadikan obat nyamuk, key!” “Yaah kok gitu, padahal masih banyak minuman nih, belom juga dicicipi!” Bagas menatapnya agak kecewa. “Lain kali, kalau mau buat aku duduk lama, sekalian bawain satu cewek juga, key …!” “Siap deh siaap!” Bagas langsung pasang pose hormat kiri. “Hahaha!” Aksi Bagas tersebut mendapat gelak tawa dari semua yang ada di situ,, Sedangkan Ariel telah melenggang pergi tanpa peduli lagi dengan mereka. Di tempat lain, Ririn baru saja selesai melakukan panggilan telepon messeging dengan kekasihnya dengan senyum bahagia. Namun setelah ponselnya dimatikan, raut wajahnya pun langsung berubah. Dari bahagia ke raut penuh kecewa. Aplikasi pemesanan makanan onlinenya menunjukkan kalau kurir telah sampai. Cepat-cepat dia keluar untuk mengambilnya. Setelah membayar kurir, dia pun masuk dan segera menyantap makanannya. Namun sayang, begitu mengunyah makanan Ririn sontak kaget karena merasa kesakitan. Rasa perih di pipinya akibat tamparan berkali-kali dari perempuan yang tidak dikenalnya, membuat kedua pipinya harus berbekas merah. Bukan hanya itu, bagian dalam pipinya pun ternyata mengeluarkan darah, akibat tekanan tamparan itu beradu dengan giginya, sehingga daging pipi bagian dalam mulutnya sedikit robek. Susah payah Ririn mengunyah makanannya karena menahan perih yang teramat sangat. Air mata mengalir membasahi pipinya yang memerah. Rasa sakit di pipinya bukanlah menjadi penyebab ia harus menangis, melainkan rasa sakit di hatinya serta rasa kesal yang tidak ketulungan. Tuduhan yang diarahkan padanya sebagai seorang pelakor, bagaikan sembilu yang amat sangat tajam menusuk ke dalam kalbu. Bukan hanya itu, perlakuan Ariel yang telah dua kali melecehkannya pun amat mengganggu hati dan pikirannya. Rasa kesal dan geram ikut menggerogoti seluruh jiwanya, yang kesemuanya itu menyatu dan berkumpul di satu titik di dalam otaknya, dan akhirnya memaksanya untuk mengeluarkan air mata. Setelah susah payah mencoba menghabiskan makanannya, Akhirnya Ririn berhasil juga. Sambil mengusap air matanya, Ririn meneguk air minum. “Heemmpp, hiks dasar manuasia berhati kalajengking, ga ada perasaan sama sekali, eekhhh!” Gelas yang tak bersalah ditangannya pun harus menderita menerima kekesalan Ririn karena telah menghentakkannya di atas meja. Masih dengan rasa kesalnya, dia merapikan alat makannya meski masih harus berurai air mata. “Ayaahh maafkan aku ya Ayah, hiks … hiks … hhhpp … mungkin ini ganjaran untuk aku karena sudah berbohong sama Ayah selama ini, hiks … hiks …!” Air matanya yang merurai menetes deras di pipi, sangat menghalangi pandangannya saat mencuci piring. Perlahan dia mengusap pipinya. “Aakhh!” Ririn tanpa sadar telah menekan pipinya yang sakit. “Kalau saja bukan karena pengen punya banyak kesempatan buat teleponan sama Putra setia, aku pasti tidak akan kesini, tapi demi dia aku menerima tawaran jadi asisten sikalajengking sialan itu, sampai-sampai aku harus bohong sama Ayah, hiks … hiks…!” Saat itu, ketika datang surat panggilan untuknya di kantor cabang, dia sempat dilarang oleh Ayah dan Bundanya. Mereka bagitu khawatir dengan Putri sulungnya yang satu-satunya perempuan. Dan sebagai anak perempuan, dia membawa tanggung jawab akan kehormatan keluarga di tangannya. Bukan hanya itu, selama hidupnya, Ririn tidak pernah sekali pun pergi dan tinggal jauh dari keluarga dan orang tuanya, apalagi sampai tinggal sendiri. Demi mengingat semua kata-kata orang tuanya, air mata Ririn semakin mengalir deras. “Nak, tinggal sendiri di kota itu sangat beresiko dan harus ekstra hati-hati Nak, Ayah tidak bisa membiarkan kamu tinggal di kota sendiri!” “Tapi Ayah, aku sudah besar, sudah dewasa juga, jadi Ayah jangan kwatir ya, menurut teman-temanku si Yah, katanya ini kesempatan besar buat membuktikan kemampuan aku di bidang arsitektur design!” “Kamu yakin bisa jaga diri?” “Iya Yah aku yakin, jangan kwatir Yah kan aku bisa bela diri juga!” Sambil memperlihatkan tinjunya dengan senyum sumbringah. “Tapi Nak …!” Bundanya ikut bicara. “Kamu harus menjaga jarak dengan Bos kamu nanti ya, biasanya loh ada tuh Bos yang suka aneh-aneh sama sekertaris atau asistennya, apalagi asistennya cantik macam kamu!” Ririn langsung tersipu, aksi lebaynya muncul seketika. “Eehh … emang aku cantik Bun?”Sambil menopang dagu dengan kedua tangannya, matanya dikerjap-kerjapkan ke Bundanya. “Iya dong, saking cantiknya kamu, sampai-sampai Ayah ketakutan melepas kamu pergi, takut kalau bidadarinya digondol maling hahaha!” Kelakar Bundanya membuat semua tertawa bahagia. “Rin …!” Ririn berubah serius mendengar teguran Ayahnya. “Bagaimana dengan Bos kamu di Kantor, kamu yakin dia tidak cemburu dengan pengangkatan kamu?” Ririn mengangguk dengan pasti. “Iya Ayah, aku yakin soalnya kan dia sendiri yang meyakinkan aku agar menerima tawaran ini, semua temanku juga mendukung aku Ayah!” Ririn semaki merasa bersalah pada Ayahnya saat mengingat janjinya itu untuk kuat menjaga diri dan harus menjaga jarak dengan Bosnya nanti. “Hiks … hiks … maafkan aku Yah … Bunda … haa … hhehhmppp … maafkan aku … hhhppppp!” “Aku janji Yah … hiks … mulai besok … aku akan jaga jarak sama kalajengking itu … aku janji!” Ririn pun segera menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang kusut karena bekas air mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN