"Udah dong, Jangan nangis terus.."
Bahunya tak berhenti berguncang. Sesegukan seperti anak kecil yang menangis karena jatuh dari sepeda. April duduk di ranjang, dadanya masih terasa pegal karena terlalu banyak menangis. Arion berdiri di sana mengusap bahu April dan menepuknya sesekali. "Maafin aku, ya. Kamu nggak pantes nangis gara-gara aku."
April tak menjawab. Perempuan itu menggelengkan kepalanya pelan. Menghapus air mata yang terus menetes tanpa bisa di tahan. Arion menatap April nanar, ada secuil—tidak, segunung rasa bersalah ketika melihat April menangis.
Arion berjongkok. Agar tinggi kepalanya bisa menyamai tinggi kepala April yang sedang duduk di ranjang. Tangan kekarnya merapikan rambut April yang berantakan dan berkeringat. "Udah.. jangan nangis. Aku minta maaf."
Arion melarikan jarinya, mengapus setiap tetes yang terus keluar dari mata April. Perempuan itu menyingkirkan tangan Arion pelan, meremasnya. "Kamu tau nggak, sih... aku lebih milih di marahin sampe kamu teriak-teriak, daripada di diemin berhari-hari kaya gini."
Arion tersenyum, sedikit memperlihatkan deretan gigi putihnya. Jujur, senyum unjuk gigi itu yang selama ini April rindukan. "Iya. Aku minta maaf. Sekarang, jangan nangis lagi."
April mengapus air matanya untuk yang terakhir. Menegakkan badannya dan menatap Arion lurus-lurus. "Kamu..., udah tau kalau aku..."
April mengambil jeda. Terlalu ragu untuk mengatakkannya. Arion menaikan kedua alis, menunggu. Dari gestur yang perempuan itu buat, Arion mengerti apa maksud April. Laki-laki itu tersenyum lembut dan menarik April ke dalam pelukannya, memeluk pundaknya erat dan menepuk punggungnya lembut. "Selamat, kamu udah jadi Ibu buat yang kedua kali.."
"Aku juga nggak akan berhasil tanpa kamu." April melingkarkan tangannya pada pinggang Arion, menenggelamkan kepalanya di d**a laki-laki itu. Tempat favoritnya. Tempat yang menbuatnya nyaman.
***
"Yang paling besar itu Aku, Yang paling terang itu kamu, Dua Sebelahnya lagi Kean sama Kinan, terus yang satu lagi, paling kecil tapi paling menarik, itu.. dia."
Arion tertawa kecil. "Lo kek anak kecil sumpah!"
April mendengus. "Ih, kok manggilnya elo, sih?"
"Terus maunya apa? Ayah-Bunda kaya Mario sama Ghita?"
April mencubit perut Arion gemas. "Itu alay."
Arion memutar tubuhnya, menghadap langit biru tua yang membentang di tengah malam seperti sekarang. Mereka memutuskan untuk berkemah di halaman belakang. Quality time untuk mereka berdua.
Hanya dengan membentangkan karpet hangat di atas rumput, dua bantal dan guling dan setumpuk selimut tebal. Jika biasanya Arion melakukan ini bersama Kean, dengan Tenda kecil yang sederhana. Bersama April, semuanya lebih sederhana lagi.
Langit kamar mereka adalah langit yang benar-benar langit. Dengan taburan bintang kecil tanpa bulan. Meskipun udara pukul dua pagi sekarang begitu menusuk, di dalam sana mereka merasakan kehangatan. Harapan April terwujud, kedatangan si dia di dalam perutnya benar-benar membuat Es di antara mereka mencair.
Ralat; Ini bukan hanya harapan April seorang.
Tuhan benar-benar mengabulkan juga harapan Kean dan Kinan.
April menarik selimutnya, merapatkan dirinya pada Arion. Menghirup aroma musk yang sudah bercampur dengan aroma keringat. "Kamu nggak ganti baju?"
Arion mengerutkan hidungnya, memutar tubuhnya menghadap April. "Kenapa? Bau ketek?"
"Iya, bau ketek. Tapi aku sukaaa." April tertawa, matanya yang sembab makin menyipit ketika perempuan itu melebarkan tawanya.
"Paan, sih. Geli."
"Aku minta maaf ya.."
Arion tersenyum. "Aku yang harusnya minta maaf."
"Maaf, soalnya aku kurang ajar tadi.. Dan, abisnya.. kamu ngeselin, sih."
Laki-laki itu mengusap rambut April, menyelipkannya ke belakang telinga. "Nggak papa. Pada akhirnya, suatu saat nanti aku bakal nanggung itu semua. Soal Rega, Soal Kean dan Kinan.. suatu saat nanti juga mereka bakal tau. Dan aku siap, kalau persahabatan aku sama Kean bakal putus setelah itu."
"Kenapa?"
"Kean, dia anak laki-laki. Dia bakal benci Papa-nya kalau tau dia punya saudara lain yang beda Ibu. Ada masa dimana dia nggak bakal anggap aku super hero-nya lagi. Aku siap."
April meremas tangan Arion. Menepelkannya ke pipinya sendiri. "Kita hadepin ini sama-sama, ya. Aku yakin, Kean bakal ngerti. Sekalipun proses-nya lama. Gimana pun juga, Kamu pernah jadi super hero-nya Kean sama Kinan. Dan aku juga yakin, seandainya Kean benci kamu, suatu saat nanti dia bakal inget, alasan kenapa dia jadiin kamu super hero-nya. Kita nggak tau apa yang bakal terjadi kedepan."
Arion mengusap pipi April lembut. "Makasih karena udah ngertiin aku."
April mengangguk samar. "Kita cuma perlu jalanin ini. Kenyataan bukan buat di takutin, tapi buat di hadapin. Kalau kenyataannya Kean, Kinan sama Rega adalah anak-anak kamu. Sampai kapan pun, kamu nggak bisa lari dari kenyataan itu."
Arion memejamkan matanya. Entah mengapa rasanya sesak. Menghadapi kenyataan yang semakin lama semakin membunuhnya pelan-pelan. Kadang, Arion hanya ingin seperti ini selamanya.
April mengerutkan dahinya ketika melihat sebulir air mata jatuh dari pipi Arion. Matanya terpejam. Tapi April tau, diam-diam Arion merasa sesak. "Aku nggak bakal ninggalin kamu. Masih ada aku, kita hadapin ini sama-sama."
Arion tak bergeming. Terus memejamkan matanya. Padahal April yakin, dadanya sesak. Jari lentiknya menghapus air mata Arion. Ini pertama kalinya ia melihat seorang laki-laki menangis. Menangis diam-diam. Tidak berteriak, menjerit atau meraung-raung. Ia hanya diam, memejamkan mata dan sibuk menata hati.
Karena hanya dengan menangis, semua beban akan dengan mudahnya melayang. Tak peduli ia laki-laki, atau perempuan.
***
Pagi hari. Kean dan Kinan terbangun. Ruangan gelap gulita itu berubah menjadi ruangan terang dengan secercah cahaya yang masuk melalui jendela yang terbuka lebar.
Ini mungkin bukan kali pertama Kean tidur di Kamar Kinan. Tapi ini kali pertama Kean tidur dengan posisi memeluk Kinan. Objek pertama yang ia lihat adalah wajah anak perempuan itu. Kean membulatkan matanya. Mendorong tubuh Kinan menjauh seolah anak itu adalah bakteri.
"Dih, ngiler lagi!"
Kean mengucek matanya. Begitu pandangannya sudah mulai menjelas, lensa matanya fokus pada tumpukan Kado di atas meja belajar. Kean berjingkrak dari ranjang. Mendekatinya dan beberapa kali mencubit pipinya sendiri untuk memastikan bahwa ini bukanlah sebuah mimpi.
Sakit, Kean mengusap pipinya. Mulai mengambil salah satu Kado yang ukurannya paling besar dengan penuh minat. Ia masih ingat, di Meja belajar, Kinan terakhir menaruh cheesecake tersebut. Dan.. siapa yang bisa menyulap sepotong cheesecake menjadi tumpukan kado?
"Ki... Bangun, deh." Kean menarik kaki Kinan yang masih bergelung dengan bantal dan selimut. "Kinan! Buruan bangun!"
Kinan melengguh. "Apaan, sih! Ganggu banget! Belum jam 7, kan?!"
"KI BANGUN! LIAT INI ADA APA?"
"Apa, Apa?!" Kinan langsung terduduk dengan wajah kusut.
Matanya langsung membola begitu melihat apa yang sedang Kean pegang. Tapi ada satu hal yang membuatnya lebih terkejut daripada tumpukan kado di atas meja belajar.
Gadis mungil itu langsung menyingkap selimut dan keluar dari kamar. Kean ikut berjalan mengekorinya. Begitu dua pasang kaki mungil mereka sampai di anak tangga terakhir. Semuanya terasa membingungkan. Tapi juga menyenangkan.
Kean dan Kinan nggak lagi melihat semangkuk sereal di atas meja. Mereka justru menghirup aroma nasi goreng dengan margarin dari ruang makan. Suara keran kamar mandi yang begitu berisik. Di padukan dengan suara perabot dapur yang saling bersahutan.
Tak lama, muncul sosok Mama yang sudah terlihat segar dengan gelungan rambut sambil menata piring di meja makan. April menatap dua anaknya bingung. "Kok malah diem? Cepetan! Mandi sana. Nggak mau terlambat, kan?"
Kean mengerjap. Dan langsung berjalan ke arah kamar mandi dengan linglung. Sedangkan Kinan justru menarik kursi makan dan duduk disana menatap sepiring nasi goreng penuh selera. Di susul dengan datang Mama yang datang dengan potongan Cheesecake yang Kinan yakini adalah sisa Kue tart yang belum termakan kemarin.
Baru Kean akan mendorong gagang pintu kamar mandi. Arion keluar dari sana dengan rambut basah, tersenyum ke arah Kean. "Jangan mandi disini. Air-nya nggak nyala. Kamu mandi di atas aja, ya?"
"Hh?"
Arion mengerutkan dahi. "Ini, kok bengong mulu.. cepetan, Ntar nyampe sekolah terlambat."
"Tapi.., Papa sama Mama..."
"Oke, Kita naik pesawat terbang!" Selang beberapa detik, Kean merasakan tubuhnya terangkat ke udara. Melewati dapur, ruang makan dan tangga yang meliuk. "Test, Test. Lapor, Pesawat K-2615 izin lepas landas. Ganti."
Ketika sampai di kamarnya. Arion masih tersenyum. "Udah sana mandi, gih."
"Papa! Tunggu!" Kean menahan tangan Arion.
Arion menoleh. "Apa?"
"Bilang sama Kean kalau ini bukan mimpi."
Arion hanya tersenyum simpul. Mengusap rambut Kean lembut. "Kalau seandainya ini mimpi, Kean nggak pernah mau bangun dari mimpi ini, kan?"
Kean mengangguk.
"Jadi, jangan pernah bangun dari mimpi ini. Nikmatin apa yang ada di mimpi ini. Oke?"
Ketika sosok Papa pergi. Kean berkedip.
Ia merasa kutukan Nenek Sihir di kastil ini sudah terlepas. Perlahan, kastil tua yang di jaga oleh seekor Naga berubah menjadi sebuah Istana dengan burung-burung yang bersiul dan pancuran air di mana-mana.
Ah, Kean nggak akan pernah mau bangun dari mimpi ini.
***
.
.
.
.
(TBC)