14

1812 Kata
Dear Opa. Kemarin Kinan nggak sengaja jatuhin kalender di meja belajar. Kinan nemu kartu ucapan. Masih inget, kalau itu kartu ucapan ulang tahun dari Bu Guru Tahun kemarin. Hehe. Kean sama Kinan pernah rayain ulang tahun bareng temen-temen sekolah. Tahun ini, Kinan nggak mau kaya gitu lagi. Kinan cuma pengen sesuatu yang sederhana. Pengen tiup lilin di rumag sama Papa n' Mama. Kinan bakal nunggu, tinggal seminggu lagi:) ××|×× Ini sudah masuk hari ke-empat setelah Kean dan Kinan di titipkan ke rumah Mario. Mereka nggak bisa berbohong, kalau sebenarnya dua anak kembar itu kangen dengan istana kecilnya. Selama itu juga, Kean menepati janji Mama dan Papa untuk nggak bertengkar sama Gio. Meskipun kadang bocah kecil yang kemana-mana masih suka pake celana dalem itu sering membuat Kean sebal. Usil, Nyebelin, tukang pamer, mau menang sendiri. Untuk pertama kalinya Kean harus menahan diri buat nggak cubit bokongnya sampe biru, meskipun Kean pengen banget. "Renang, Yuk!" Mario mendekati Kean yang duduk di ruang tamu sambil menatap layar televisi Minggu Pagi. Kean menggeleng. "Nggak, deh, Om.." "Kenapa? Ini, kan hari minggu! Asik tau!" Mario merajuk dengan gaya seperti anak kecil. "Kalau hari Minggu, Om nggak pernah jalan-jalan.. Kita sekeluarga suka berenang di halaman belakang, mau gabung?" Kean menggeleng lagi. Dan Mario hanya tersenyum lembut. Ia banyak dengar soal Kean dan Kinan dari Arion. Mario juga bisa mengerti, bagaimana anak se-usia Kean dan Kinan harus menghadapi situasi seperti ini. Untuk anak seusia mereka. Mungkin sedikit agak kurang wajar untuk melihat hal-hal yang bisa saja melekat dalam memori mereka seumur hidup. Insiden ketika Marvin hampir mencium April. Perkelahian sengit antara Marvin dan Arion. Pertengkaran yang berupa perang verbal antara Arion dan April bisa memicu kerusakan mental untuk Kean dan Kinan. Terlebih, kedua anak itu hanya tahu, keluarga kecil mereka selama ini baik-baik saja. Kean dan Kinan kurang terbiasa dengan situasi ini. "Kalau gitu, Om mau kasih tau kamu soal petualangan di negeri dasar laut yang sering Papa kamu ceritain." Kean menolehkan kepalanya. "Emang tau? Ini, kan rahasia kita berdua." Mario tertawa kikuk. "Ya, kan Om sama Papa kamu dulu juga punya tempat petualangan versi sendiri." "Oh, ya?" Kean mengangkat kedua alisnya. "Ayok! Om kasih tau, deh!" Senyumnya tersembunyi. Kean tak menolak ketika Mario menariknya ke halaman belakang. Ah nggak,.. biasanya Papa bakalan gendong Kean di bahu, mengkhayal seolah tubuhnya adalah sebuah pesawat yang terbang di udara. Ketika sampai di kolam renang yang berukuran 3×5 meter yang berada di halaman belakang, ada satu pemandangan yang membuat mata Kean risi. Ih, apaan, sih. Disana, Ada Kinan yang sudah menjerit-jerit kegirangan bersama Gio di dalam air. Kinan menggunakan setelan baju renang dengan pelampung mini dan Gio yang masih menggunakan Ban renang bentuk bebek kuning yang membuatnya bergidik geli. Dari apa yang Kean lihat, halaman belakang rumah Mario di sulap menjadi tempat hiburan air untuk Gio. Sepetak kolam renang dengan tinggi air seratus dua puluh senti dengan perosotan air mini. Sedangkan sisanya di biarkan kosong dengan rumput pendek yang tumbuh di tanah. Di bandingkan halaman belakang rumah Mario, Kean lebih suka halaman belakang rumahnya. Papa tak memberikan fasilitas seperti kolam renang pribadi. Halaman belakangnya polos dengan rumput pendek yang selalu di pangkas setiap bulannya. Disana ada beberapa tanaman hias kesukaan Mama dan Meja kayu yang biasanya di gunakan untuk meminum teh Minggu Pagi. Halaman belakang juga menjadi tempat favorit Kean dan Papa. Selain di gunakan untuk bermain bola setiap Sabtu sore. Kadang-kadang Kean dan Papa berkemah di halaman belakang dengan tenda mini, lampu senter kuning, tumpukan buku cerita tentang super hero, laptop untuk memutar film Disney dan setoples cemilan manis. Kean cuma berharap, Papa tetap bisa di ajak bermain dan tetap berada di dunia-nya tanpa peduli umur. Kadang, Kean suka berpikir, Kean nggak butuh banyak teman sebaya yang tinggal satu komplek. Kean cukup memiliki Papa. Sahabat, sekaligus Superhero yang nggak akan pernah mengecewakannya. *** "Kok diem, nggak mau ikut renang?" Mario mengambil posisi di sebelah Kean yang justru malah melamun. Anak itu menggulung celanannya sebatas lutut dan merendam kakinya ke dalam air. "Nggak papa." Mario tertawa kecil. "Kamu... envy, ya liat Kinan sama Gio?" Kean mengerutkan dahinya. "Dih, siapa bilang? Lagian Kinan, kan sodara aku.." "Ah, ntar.. Om mau janjian sama Papa kamu, kalau Kinan sama Gio udah pada gede, Om mau nikahin mereka, ah. Makin kesini, Kinan makin cantik." "...Makin kesini, Kean juga makin ganteng," Kean tersenyum lebar. Mario tertawa lagi. Lalu mengacak rambut Kean ringan. Pria itu bisa melihat, ada sesuatu yang Kean sembunyikan di balik senyum dan tawanya. Arion bilang, Kean berbeda. Kalau anak seusianya hanya tahu bermain, Kean lebih tahu dari itu. Kean lebih dewasa dari pada Kinan, meskipun faktanya Kinan lebih unggul tiga puluh menit darinya. Dan Arion pantas beruntung, memiliki Kean dan Kinan. "...Mau cerita?" Tanya Mario pelan. Kean mengerutkan dahi. Ia mengerti maksud pertanyaan itu. Awalnya Kean ragu, tapi setelah beberapa kali berpikir, Om Mario mungkin bisa mengerti. "Tapi.. harus di jaga sampai ke kubur, ya Om?" "Dih. Serem." "Hehe. Bercanda," Kean nyengir. Kakinya di ayunkan di bawah air, membuat gelombang-gelombang kecil. "Kean mau tanya.." "Tanya apa?" Mario mulai menyimak. "Seandainya Tante Ghita sama Gio di ambil sama orang lain, Om Mario bakal ngapain?" Ah, Ini tentang Marvin.. Mario mengerti. Belakangan ini, Arion sering menceritakan hubungannya dengan April yang merenggang karena kedatangan laki-laki itu. "Marah," Kean langsung menolehkan kepalanya. Dan Mario balas tersenyum tipis. "Siapapun pasti bakal marah seandainya orang yang di sayang di ambil orang. Sekarang gini, deh.. seandainya Papa kamu jadi Papa-nya Gio, kamu marah nggak?" "OH, PASTI!" Kean langsung memekik. Membuat Kinan dan Gio memfokuskan pandangannya pada Kean. "Apa liat-liat?" Kinan mendengus. "Berisik!" Lalu anak perempuan itu melanjutkan permainan air-nya yang nggak pernah selesai itu. Mario tertawa. "Ya, kaya gitu rasanya. Marah itu tanda cemburu. Dan cemburu itu tanda sayang. Contoh kecilnya, kamu cemburu liat Kinan sama Gio, kan? Itu artinya kamu sayang sama Kinan. Yang kamu rasain sebenernya, kamu cuma nggak mau mereka juga jadi milik orang lain." Kean diam. Matanya menatap lurus-lurus pada riak air kolam. Telingannya masih tertarik untuk menyimak kalimat-kalimat yang Mario utarakan. "Dan Om yakin, Papa marah sekarang bukan berarti Papa kamu benci sama Mama. Om ngerti banget sama apa yang Papa kamu rasain. Makanya, Kean nggak boleh ikut campur kalau Papa sama Mama lagi diem-dieman atau lagi marahan. Cukup tau. Dan biarin mereka selesain sendiri. Oke?" Kean tersenyum. "Sekarang Kean tau harus ngapain. Menurut Om, Papa sama Mama bakal baikan lagi nggak?" "Pasti. Percaya, deh. Berantem itu salah satu proses penyesuaian diri. Contohnya, Kamu sama Gio yang sering berantem gitu juga termasuk proses penyesuaian diri." Kean tersenyum. "Kenapa Om nggak pernah marahin Kean kalau Kean nakal sama Gio?" Mario tertawa kecil. Mencubit pipi Kean gemas. "Karena dengan berantem, kalian bakal ngerti sifat masing-masing. Setelah tau sifatnya, Kamu sama Gio pasti bakal saling ngertiin." "Papa sama Mama juga gitu, ya?" "Iya, mereka masih banyak belajar. Om juga masih harus banyak belajar. Semakin dewasa nanti, kita semua bakal nemuin cara buat nyelesain masalah sendiri." "Makasih, Om." Kean tersenyum lebar. Sekarang Kean ngerti. Papa dan Mama saling marah bukan berarti mereka saling benci. Tapi, sebenernya mereka saling sayang. "Kean, Kinan! Yuk! Mandi!" Tiba-tiba, Ghita muncul dari dalam rumah. Perempuan itu menempelkan ponselnya ke telinga. "Rempong banget, sih jadi cewek!" Mario mendengus. "Ih, Ini Arion telfon aku! Katanya sekarang April udah boleh pulang dari rumah sakit. Dia nggak bisa jemput soalnya masih di Bandung." Kinan langsung heboh, anak itu segera keluar dari kolam dan mendekati Ghita. "Mana, mana? Kinan pengen ngomong sama Papa!" Ghita tersenyum, langsung memberikan ponselnya di depan wajah Kinan setelah mengaktifkan speaker agar semuanya dapat mendengar suara Arion di seberang sana. Kean dan Gio ikut nimbrung. "Papa! Kapan pulaaaang?!" Kinan mengencangkan suaranya yang cempreng. "Masih seminggu lagi, kan di rumah ada Mama.." "Papa tau dari mana sekarang Mama boleh pulang?" Tanya Kean. "Tadi dokter telfon Papa, katanya Mama udah baikan. Dan sekarang boleh pulang. Nanti, jagain Mama, ya?" "Siaaap!" Kean berseru. "Gimana di rumah Om Mario, asik nggak?" "ASIK! Kita habis selesai renang, nih!" Kinan menimpali. "Papa nggak lupa, kan? Seminggu lagi Kean sama Kinan ulang tahun!" "..." Ada jeda sejenak di seberang sana. Seolah Arion sedang berpikir untuk mencari jawaban yang tepat. "...Ah, Iya. Papa inget.. Mau minta hadiah apa?" "Cheesecake! Papa cepet pulang makanya, kita tiup lilin bareng-bareng di rumah, ya!" "Iya, Iya.. Papa janji. Kalau gitu, Papa tutup, ya." "Dadah!" Saat mendengar itu. Kean diam. Bahkan ia sendiri nggak sadar kalau seminggu lagi Kean dan Kinan akan bertambah umur. Pertanyaannya; apa semuanya bakalan baik-baik aja? *** Arion memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana. Sedangkan tangan yang satunya menggamit gagang cangkir Teh hangat. Laki-laki itu berdiri di depan jendela dengan kemeja abu-abu dan celana hitam. Rekan-Rekan kerja dan bisnisnya memutuskan untuk menginap di Villa di daerah Bandung sampai urusan mereka selesai. Matanya menerawang ke luar jendela yang terbuka. Merasakan udara dan aroma embun pagi yang masih terasa meskipun jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Pikirannya kembali tertuju pada Kean, Kinan dan.. April. Arion masih bingung bagaimana harus mengakhiri semua ini. Ia sulit mengesampingkan ego-nya. Terlalu enggan meminta maaf lebih dulu, dengan alasan rasa sakit itu masih terasa hingga sekarang. Satu yang baru Arion sadari; dirinya tidak dewasa. Laki-laki itu merogoh saku celanannya. Meraih ponsel yang baru beberapa menit sebelumnya ia gunakan untuk menghubungi nomor telefon Ghita. Kali ini, Arion mengarahkan jarinya untuk mencari kontak seseorang. Ragu. Pada akhirnya, Arion tetap menempelkan ponsel ke telinga hingga terdengar nada sambung. "..." "..." "..."  Setelah diam beberapa detik. Arion hanya mendengar suara grasak-grusuk tak jelas. Bahkan di telefon tak ada yang berani memulai untuk mengucapkan kata 'Hallo'. Durasi panggilan sudah sampai tiga puluh detik. "...H-Hallo?" Barulah suara April yang pertama kali terdengar. Arion berdeham untuk menjernihkan suaranya. "H-Hai.." "Kenapa telfon?" "Kamu... udah boleh pulang?" "...Iya, udah." "Gimana?" "Gimana apanya?" "Udah enakan?" "Alhamdullilah, Udah." "..." Arion diam. "..." April juga diam. Keduanya membiarkan durasi panggilan mengalir begitu saja. Arion tak memutuskan panggilan, karena bingung harus membicarakan apa lagi. Sedangkan di seberang sana, April tetap menunggu. Duduk diam di bangkar rumah sakit sambil menatap layar ponsel yang menyala. Keduanya juga sama sekali tak memiliki inisiatif untuk memutuskan panggilan atau berucap 'Hallo' seperti di awal. Dan April tetap menunggu, Ia tahu.. Arion ingin mengatakan sesuatu. "...A-Arion?" "..." Laki-laki itu masih tercenung. Jarinya semakin kuat menggamit cangkir Teh. "Ya?" "Ada yang mau di omongin?" "...Itu," "Kenapa?" "Seminggu lagi.. Kean sama Kinan ulang tahun," "Iya, aku nggak lupa." "Ya udah, aku tutup. Assallamuallaikum." *** April menatap layar ponselnya. Setelah panggilan di tutup perempuan itu menghela nafas. April menepuk-nepuk dadanya, degupan jantung itu terasa lagi setiap Arion mulai bersuara. Setiap Arion tersenyum ke arahnya, Setiap Arion melakukan gestur-gestur sederhana yang membuatnya merasa lebih spesial. Apa semuanya kembali seperti awal? April nggak yakin. Semuanya masih samar dan tertutupi dengan rasa bersalah yang terus-terusan menghantuinya semalaman. Tidurnya tak pernah nyenyak. Selalu di rutuki rasa bersalah karena tak bisa menjadi seorang Ibu yang baik. Tak bisa menjadi contoh bagi Kean dan Kinan. Tak bisa menjadi sosok istri yang pas untuk Arion. Pas dalam segala hal. April diam sebentar. Menunduk. Berusaha mengendalikan diri agar tangisnya tak pecah lagi. Perlahan, kakinya turun ke lantai mengemasi barang-barangnya dan keluar dari kamar rumah sakit. Beberapa orang berseragam putih, juga beberapa lagi mengenakan pakaian biru muda khas pasien Rumah sakit berlalu lalang sepanjang koridor. Ghita bilang, ia akan menunggu di Lobi bersama Kean, Kinan dan Gio. April mengulas senyum tipis, tapi senyum-nya benar-benar memudar ketika melihat dua orang yang berjalan di sebelahnya. Tamara dan Marvin. Laki-laki itu mengenakan sweater hitam, dan kepalanya di tutupi topi. Marvin terus menunduk, seolah menghindari tatapan orang-orang. Dan Marvin juga bisa saja menghindari April, kalau bukan April yang yang menyentuh lengan laki-laki itu duluan. "R-Marvin?" Tamara ikut berhenti. "Eh, lo Pril? Kok disini?" "Gue... abis..." April kehabisan kata-kata mendadak tenggorokkannya tercekat ketika Marvin mengangkat wajahnya. Drastis. Berubah drastis. Wajahnya pucat dan kulitnya agak kekuningan. Tulang-tulang wajahnya terlihat jelas dan April mengerti alasan kenapa Marvin mengenakan topi. Kepalanya di cukur. "Sorry, Gue buru-buru." Marvin menghindari tatapan April. Ia menarik Mara agar berjalan lebih cepat. "Gue duluan, ya Pril!" April hanya mengangguk kikuk. Matanya terus memandangi punggung dua orang yang perlahan berjalan menjauh itu. Yang ingin April tanyakan; Marvin kenapa? . . (TBC)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN