Maya duduk seorang diri di sudut kantin, menunduk sambil menyendok makanannya ke mulut. Tatapan tajam dari sekelilingnya ia abaikan, gadis tetap fokus pada makanannya meskipun ada gelisah yang menyerang atmanya. Bisa dikatakan ia adalah sosok gadis pemberani nan tangguh, masih berani muncul ke permukaan setelah apa yang ia lakukan. Toh, ada yang sudah berjanji akan melindunginya jika ia mendapatkan masalah nanti. Jadi, untuk apa khawatir? Menyesal? Tentu, Maya amat menyesal dengan sikap gegabahnya. Tapi ia tak bisa mengubah takdir itu, semuanya sudah terjadi. Saat ini hanya butuh keberanian untuk melanjutkan sebuah kehidupan. Entah itu nyaman atau tidaknya tak masalah, lagipula Maya sudah kehabisan akal untuk mengatasi semuanya lagi. "Berani juga lo ke sini," sindir seorang gadis. Ma

