"When did you stop fighting with your friends, Clarisa?!" Luna berteriak hingga napasnya sendiri menjadi tercekat. "You always act like a hero, what's in it for you?!" sambung wanita itu kembali berteriak. Tapi agaknya, ia belum puas sama sekali memarahi si sulung yang terdiam duduk di sofa. "By beating up your friends does that look cool? Is that good to see?!" Clarisa masih diam. Ia seperti orang bisu yang tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Gadis kecil yang baru menginjak kelas empat SD itu menunduk dalam memandang kedua pasang kakinya sendiri yang menapak keramik. Nathan asli Indonesia, sedangkan Luna Kanada. Setelah menikah mereka memutuskan tinggal di negara kelahiran Nathan, tapi, karena Luna terbiasa bicara menggunakan bahasa Inggris saat marah, Clarisa mengikuti. Tapi t

