"Astaga, sayangku! Apa yang terjadi padamu?!" seru Farah begitu aku membukakan pintu untuknya. "Oh, tidak apa-apa," jawabku sambil merapikan pakaian kerjaku. Farah menatapku curiga, tapi dia hanya mengerucutkan bibirnya dan menyibukkan diri dengan gadget-nya. Aku menyisir rambutku yang panjang sebelum mengepangnya. Aku juga memoleskan sedikit bedak ke wajahku karena terlihat jelas bahwa aku sudah menangis seharian. Sejak Rihav meninggalkanku sendirian di kamar, aku terus menangis. Aku bahkan tidak bisa menghabiskan makanan yang dia siapkan, dan aku benar-benar kehilangan selera makan. Rihav benar-benar berubah; kupikir aku masih mengenalnya. Kupikir dia akan memprioritaskanku di atas segalanya, tapi sekarang... dia sudah menikah. Aku sudah keluar dari hidupnya, selesai. Aku hanya wanit

