PART 1

1273 Kata
Anjeli Sharma berjalan cepat bersama dua orang perawat Rumah Sakit. Mereka sedang sibuk mendorong brangkar besi yang di atasnya berisi tubuh kesakitan Rajesh Kapoor, suaminya. “Raj, aku mohon! Sadarlah. Apa jadinya aku dan anak-anak bila kau pergi meninggalkan kami? Rajjj... Bangunnn... Rajjj...!” isak Anjeli tak dapat berhenti sejak turun dari bajaj. Wajah kusut dengan rambut yang acak-acakan serta saree lusuh yang ia kenakan, benar-benar sangat menggambarkan bagaimana kehidupan wanita itu di kota Mumbai bersama suami dan kedua anaknya. Air mata seolah tidak cukup membuat hidup dibawah garis kemiskinannya berubah sejak ia belum menikah, bahkan sekarang harus ditambah penyakit yang menggerogoti Rajesh. Sungguh takdir sang Dewa sangat menguji batas kesabarannya. Kesetiaannya sebagai seorang istri juga selalu menjadi sasaran sang raja durjana, ketika nyatanya bukan hanya seorang Manoj Pratab Singh yang ingin mempersunting dirinya menjadi istri secara terang-terangan. Tetapi juga gangguan dari para preman mana kala ia pulang larut saat perkerjaan mencuci di rumah Nyonya Yadavs Rai terlalu banyak. Untung saja nasib baik masih berada di pihaknya, sehingga sampai saat ini ia masih bisa terhindar dari semua itu. “Maaf, Bu. Anda tidak diperbolehkan masuk sampai ke dalam ruang Insentive Care Unit. Anda hanya boleh menunggu di sini saja,” ujar  seorang perawat bertubuh gempal dan menghilangkan seluruh ingatan Anjeli tentang hidupnya yang sulit. Saat menangis dalam keadaan mendorong brangkar besi Anjeli memang sempat melamun, sehingga ia tak tahu jika kini mereka sudah sampai di ruangan Intensive Care Unit. “Iya, Suster. Saya akan tunggu di luar,” sahut Anjeli dan sang perawat langsung menutup pintu berdaun ganda tersebut. Angeli pun akhirnya menunggu di luar dan bersandar pada tembok Rumah Sakit yang terasa sangat dingin, sebelum akhirnya ia jatuh ke lantai. Anjeli menangis sesenggukan guna menumpahkan segala hal yang ia rasakan, bahkan tubuh lemah itu sampai bergetar, hingga membuat tangannya harus menumpu di lantai. “Rajjj... Kapan kau akan sembuh dari penyakitmu ini? Tolong berjuanglah demi aku dan anak-anak kita, Raj. Jangan biarkan anak-anak semakin menderita,” lirihnya tak tertahankan lagi. Hilir mudik orang yang berlalu lalang di sekitar ruangan Intensive Care Unit, tak ia pedulikan. Juga sangat tak mampu membuat Anjeli berhenti mengingat penderitaan apa yang selama sepuluh tahun ia lalui. Sampai pada saat wajah Madu dan Shaf tiba-tiba terlintas di pikirannya, maka ia pun pergi keluar dari Rumah Sakit tersebut. Angeli berlari tanpa peduli siapa dan apa yang ada di depan matanya. Sampai-sampai telapak kaki yang sempat terkena kerikil tajam saat mengambil Rajesh dari rumah Manoj Pratab Singh dan kini kembali berdenyut, sudah tak lagi ia pedulikan. Tujuan wanita itu hanya satu kali ini, yaitu segera menghampiri dan memeluk kedua buah hati yang memang sejak tadi pagi belum ia beri makan selain sisa s**u sapi. Itu pun ia dapatkan saat kemarin siang ikut membantu tetangga di sebelah rumah memerah sapi-sapi peliharaan mereka. *** “Maduuu... Shafff... Kalian di mana, Sayang?” Anjeli mencari kedua anaknya ke seluruh bagian rumah yang tak bersekat sama sekali itu dan ia sama sekali tak menemukan Madu dan Shaf di sana. Sejauh mata memandang, seluruh isi rumahnya bahkan sudah sangat berantakan. Seperti sedang terjadi sebuah perampokan karena seluruh kasur, piring, gelas hingga beberapa kendi yang terbuat dari tembikar—tempat yang biasa Anjeli pakai mengambil air dari sumur—pun pecah berhamburan ke lantai tanah rumahnya. “Maduuu...! Shafff...!” teriak Anjeli ketakutan. Tentu saja tubuh ibu dua anak itu seketika roboh dan terduduk ke lantai tanah, sebab kepanikan tengah melanda dirinya saat ini. Ia menangis tergugu dengan kepala merunduk, sembari terus saja histeris memanggil anaknya seperti orang tak waras. “Anjeli!” hingga tak sadar jika seseorang sudah masuk ke dalam rumah dan menyentuh pundaknya. “Bibi Mithu! Madu, Bi! Ma..madu dan Shaf tidak ada di sini. Hiks... Pasti—” “Kau harus kuat, Anjeli. Maafkan Bibi yang tidak bisa menahan mereka berdua dari ulah jahat Tuan Manoj Pratab Singh. Ia membawa Madu dan Shaf karena katanya kau sudah sangat banyak berhutang dan ia juga sudah tak biasa memberimu waktu untuk melunasinya,” terang Bibi Mithu mengeluarkan air mata, karena memang selama ini ia sangat tahu bagaimana kehidupan pasangan Rajesh dan Anjeli di Mumbai. Akan tetapi Anjeli tak bisa berhenti menangis, “Apa yang harus aku lakukan, Bibi? Aku tak punya sesuatu lagi sekarang ini, hiks,” karena memang ia sangat tak berdaya untuk melawan seorang Manoj Pratab Singh. “Lakukan sesuatu, Anjeli. Lakukan sesuatu agar mereka dapat kembali kemari. Ini ambil gelangku, Anjeli. Ambil dan cicil utangmu dulu, jika si lintah darat itu memberimu kesempatan. Mintalah waktu padanya dan aku janji akan membantu untuk melunasi semua hutangmu,” ucap Bibi Mithu, dan kedua wanita itu menangis sesenggukan sembari berpelukan erat. Selama ini, Mithu sudah menganggap Anjeli adalah anaknya, sebab ia sama sekali tidak memiliki keturunan dan begitu pula sebaliknya. Anjeli dan Rajesh juga sudah menganggap Bibi Mithu sebagai pengganti kedua orang tua mereka yang telah lama tiada, bahkan jika mereka merasa sudah sangat berhutang budi pada wanita paruh baya itu. Anjeli masih berpelukan dengan sang Bibi, namun seseorang tiba-tiba saja datang dan membuat mereka terkejut.  “Bibi Anjeliii... Bibi Anjeliii...! Kau harus segera ke Rumah Sakit sekarang, Bibi Anjeli! Dokter Kanna mencarimu di depan gang sana! Katanya Paman Rajesh sudah sadar dan butuh persetujuanmu untuk di bawa ke New Delhi, Bi!” teriak Badran, anak tetangga yang orang tuanya sering mengajak Anjeli membantu mereka memerah s**u sapi. Ia berlari kencang ke rumah kecil Anjeli dan dengan sedikit terengah, berita buruk tentang Rajesh Kapoor pun disampaikan langsung pada Anjeli. “Badran! Benarkah itu?” tanya Anjeli melepas pelukannya. Badran yang masih terengah pun menjawab pertanyaan Anjeli, dan sekali lagi ia mengatakan bahwa dokter wanita yang selama ini menjadi satu-satu dokter spesialis penyakit kanker yang bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah Mumbai—Kanna Maholtra—sudah menjemputnya di ujung gang. “Bibi bekerja membantu istri keenam Tuan Manoj, bukan? Tolong sampai pada Nyonya Sheva untuk melihat bagaimana kondisi Madu dan Shaf ya, Bi?” mohon Anjeli memegang erat kedua tangan Bibi Mithu, “Dia sahabatku sama seperti Dokter Kanna Maholtra. Jadi katakan saja sejujurnya pada Nyonya Sheva tentang apa yang aku alami. Karena aku yakin, meskipun ia tak dapat menolong untuk membebaskan Madu dan Shaf, tapi paling tidak kita tahu bagaimana kondisi mereka saat ini. Aku pergi dulu, Bi. Terima kasih atas gelangmu ini. Aku tak tahu harus berkata apalagi karena selalu menyusahkan Bibi,” lanjut Anjeli dengan derai air matanya. “Pergilah, Anjeli. Lihat kondisi Raj saat ini seperti apa. Ingatlah! Dewa Brahma tidak akan tinggal diam, Nak. Kau hanya perlu berusaha sebisa mungkin dan jangan lakukan sesuatu yang menodai statusmu sebagai seorang Isteri, meski Rajesh tak bisa memberi kau sebuah kemewahan.”  “Aku janji, Bi. Aku tak pernah lupa akan hal itu.” *** “Kerja bagus, Jadoo! Kau bawa anak-anak itu pada Isteri pertamaku, Laksmini. Dia sangat menyukai anak-anak untuk pesta sodominya dua hari lagi, jika Anjeli tak segera memberikan tubuhnya padaku! Kau tau ‘kan hutang-hutangnya sangat banyak. Tentu saja ia tak akan punya uang sebanyak itu untuk melunasinya,” kekeh Manoj penuh kemenangan, “Untuk hari ini bawa anak sialan itu pada Sheva saja dan biarkan wanita mandul itu yang mengurus! Lalu setelahnya, kau ikuti terus gerak gerik Anjeli Sharma. Kau sudah paham, Jadoo?!” Si tukang pukul jahat yang tak dapat berbicara, hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya ke atas dan ke bawah. Lalu sepersekian detik kemudian ia pun pergi dengan menyeret Madu dan Shaf, yang ternyata benar-benar tengah disandera oleh si lintah darat jahat kota Mumbai, Manoj Pratab Singh. “Kau dengan itu, Natusha? Sebentar lagi Anjeli akan bertekuk lutut padaku, Sayang. Dan kau? Akan menjadi orang pertama yang akan menari bersamanya nanti!” kekeh Manoj mencium kepala Natusha, “Tapi kau harus ingat! Dia bukan Laksmini si Gila itu, Sayang. Dia adalah wanita cantik yang sayangnya sangat bodoh, karena sudah menolakku dulu. Jadi jangan tinggalkan bisa beracunmu itu padanya, atau kau akan berakhir di atas tunggu perapian dengan darah yang sudah lebih dulu masuk dalam perutku! Kau mengerti?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN