"Mas sebelum kita menikah, katanya Mas mau mengurus surat sertifikat rumah menjadi atas namaku, Mas. Kita harus menyiapkan diri jauh-jauh hari lho, Mas. Biar nanti kita tidak kelabakan." "Iya sayang nanti, Mas segerakan kok." "Kalau begitu cepatvya, Mas." "Iya nanti kita suruh pengacara saja yang mengurus. Ayo kita ambil brankas tempat Mas menyimpan sertifikat rumah itu." "Beneran, Mas. Mas nggak bohong kan?" Wajah Alwa terlihat berbunga-bunga. Aku ikut senang melihatnya bahagia. Wajah bahagianya mampu membuatku merasa seperti pahlawan yang mampu membuatnya tersenyum. Ku kecup rambutnya yang semerbak. Entah apa yang ada dalam diri Alwa seolah mampu menyihirku. "Buat apa Mas membohongimu sayang. Mas rela melakukan apa saja agar bisa membahagiakanmu." Ku rangkul dia menuju tempatku me

