Bab 1. GGPPM

1603 Kata
Seorang pria dewasa dan beberapa orang berpakaian khas baju bedah sedang disibukkan dengan alat-alat bedah mereka. Yanan sang dokter spesialis bedah tengah memegang gunting bedah, ia menggunting kulit anjing yang tengah mengidap penyakit batu ginjal. “Pinset!” ucap Yanan memberikan guntingnya pada asisten dokternya, sesegera mungkin asisten itu mengambil alih gunting dan menggantinya dengan pinset. Dengan penuh kehati-hatian Yanan mengambil batu ginjal yang ada di tubuh si anjing. Dengan cekatan Yanan mengembalikan sambungan saraf pada tempatnya, sebelum bius itu habis Yanan segera menjahit tubuh anjing. Yanan Stevan, pria berusia dua puluh delapan tahun yang sudah menyelesaikan Program Sarjana Kedokteran Hewan (SKH) Dan praktik uji profesi selama dua tahun. Saat ini Yanan bekerja di Rumah Sakit Hewan Surabaya (RSHS) Yanan pria yang ambisius, optimis dan pekerja keras. Yanan tidak tau apa itu cinta, selama dua puluh delapan tahun dia hidup, sekalipun Yanan tidak pernah jatuh cinta. Yanan selalu sibuk dengan dunianya sendiri, ke rumah sakit, main game online, atau sekadar nongkrong di Lugo Cafe yang ada di sudut kota surabaya. Yanan mencintai game online yang bernama Smart car, ia menganggap game online adalah olahraga virtual. Di mana dia harus adu kecepatan berpikir dengan lawan mainnya. Saking cintanya pada game online, Yanan mendirikan klub game online yang dia beri nama CC atau Cruash club. Sama seperti namanya, Yanan berharap kalau clubnya adalah club yang paling tangguh. Yanan lah yang membiayai seluruh kebutuhan klub olahraga virtual itu. Dia mempunyai sepuluh anggota laki-laki, dua di antaranya masih SMA, dan beberapa lainnya ada yang kuliah dan ada yang sudah bekerja.  Saat bermain game, mereka bukan hanya senang, tapi juga mendapat imbalan uang dengan mata uang dollar. Game dari Amerika itu juga yang mengisi tabungan Yanan. Tidak hanya bermain game dengan satu klubnya, Yanan juga biasa bertanding dengan klub lainnya. Di surabaya bagi orang pecinta game, semua pasti tahu siapa Yanan. Sesuai namanya Cruash Club, Yanan dan timnya selalu menang. Hingga saat di undangan pertandingan, Yanan hanya menjadi bintang tamu saja karena mereka tau kalau melawan Yanan sudah pasti mereka tidak bisa menang. Setelah selesai dengan bedah hewan, Yanan segera keluar dari ruang operasi dan mengganti bajunya dengan kemeja yang tadi pagi dia pakai. Kini waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, tidak ada yang harus Yanan lakukan lagi. Pria itu memilih untuk pulang ke Club yang dia bangun tidak jauh dari rumahnya. Yanan sebatang kara, dia sudah tidak mempunyai orangtua. Itu sebabnya Yanan lebih memilih tinggal di club dari pada di rumahnya. Saat di club, dia sedikit tidak merasa kesepian karena ada anak-anak yang tergabung dalam timnya. Di sisi lain di Jalan Ahmad Yani, di samping kedai kopi ada bangunan yang didominasi warna hitam, di dalam bangunan itu sudah riuh karena si biang gosip bernama Varel. Varel atau yang mempunyai nama game Angelino itu adalah biang gosip yang selalu menyebarkan gosip tidak akurat pada anggota lain. Sesuai namanya Angelino yang artinya pembawa pesan, cowok yang masih SMA itu juga selalu membawa pesan keributan untuk ghibah dengan tema bosnya, yaitu Yanan. Selain Varel sang pembawa keributan ada lagi yang bernama Vero yang tingkahnya tidak kalah absurd, mereka berdua adalah member paling muda di antara lainnya. Dan yang lainnya bernama Rolan, Maxim, Derkan, Pedrosa, Daren, Lionel, Renaldi, dan Rendi. “Heh, kalian tau gak?” tanya Varel mendekati teman-temannya. Teman-temannya langsung mendongakkan kepalanya dan menggeleng tanda tidak tau. “Ya jelaslah kalian gak tau, kan aku belum ngomong,” ujar Varel dengan menaik-turunkan alisnya menyebalkan. “Kalau gak penting, mending kamu minggat!” ucap Maxim dengan ketus. “Heh, ini ghibahan paling afdol di hari ini,” bisik Varel yang terdengar menggelitik, kalau sudah ngomongin ghibah sudah pasti dia akan bisik-bisik. Saat anggota klub mendengar kata ghibah, sudah pasti mereka meletakkan hp masing-masing dan segera memasang telinganya tajam-tajam, mereka mendekat untuk mendengarkan ghibahan hari ini. “Semalam Si Kapten kayaknya ngigau deh. Dan dalam igauannya, kayaknya dia merindukan seseorang,” ucap Varel. Kapten yang dimaksud adalah Yanan “Woaaah ….” pekik Vero cs dengan ekspresi terkagum-kagum. “Terus terus gimana? Kapten panggil nama, gak?” tanya Vero dengan  antusias. Max pun ikut antusias dengan merangkul pundak Varel agar dia lebih denger. "Kapten hanya bilang … aku rindu …." jawab Varel sedramatis mungkin. Meski cowok dia sangat suka mengompori. "Woaaah … Semoga bujang lapuk segera laku," ucap Vero dengan riang. Vero sangat kasihan dengan bosnya, di umur yang sudah dua puluh delapan, belum ada tanda-tanda akan menjalin asmara. "Kasihan sekali si Kapten, mana gak punya cewek lagi." "Pasti merindukan ceweknya itu. Biasanya yang diam-diam simpanannya banyak," timpal Derkan yang sejak tadi diam. "Woaah … Si Kapten yang dingin sangat mustahil gak bisa narik perhatian cewek. Jaman sekarang yang dingin lebih menggoda," ucap Rendi ikut bersuara. "Ekheem …." Suara deheman dengan nada serak membuat semua orang menegang. Varel melepas tangan Maxim yang ada di pundaknya. Bocah itu dengan perlahan berjalan menjauhi teman-temannya dan bosnya yang saat ini dia yakin di belakangnya. Tergabung dalam grup sejak satu tahun lebih membuat Varel hapal betul suara deheman serak-serak menggoda dari bosnya. "Varel, kembali ke tempatmu!" titah Yanan membuat Varel lebih menegang. "Eh … ampun, Kapten! Tadi ghibahnya cuma becandaan aja," ucap Varel membalikkan badannya menghadap Yanan dengan cengengesan menyembunyikan ketegangannya. "Syutt … syut …." Varel mengisyaratkan Varo untuk membantunya lari dari tatapan mata Yanan yang sangat tajam. Namun Vero malah menggelengkan kepalanya tanda tidak bisa membantu. Tatapan Yanan tajam menusuk pada siapa saja yang saat ini berada di klubnya. Yanan mendengar ghibahan dari si raja ghibah. Ini bukan kali pertamanya mendengar namanya disebut-sebut dalam obrolan mereka, tapi ini sudah kesekian kalinya mereka membicarakannya di belakang. Bahkan pernah mereka menyebutnya tua bangka dan bujang lapuk secara terang-terangan. Bukan berarti jomblo tanda tidak laku, Yanan tidak mengerti bagaimana cara mendekati perempuan, tidak mengerti apa itu cinta dan tidak mengerti bagaimana saling memberikan pengertian antara cowok dan cewek. Untuk sementara Yanan ingin fokus pada karirnya dan mengembangkan olahraga virtual agar bisa bersaing tingkat nasional. "Ke ruang makan sekarang!" titah Yanan dengan tegas. Tanpa membantah ataupun menunggu perintah dua kali, Varel, Vero dan yang lainnya pun segera menuju ke ruang makan. Klub ini lumayan besar dengan banyak fasilitas. Ada tiga kamar yang sangat luas, yang kamar nomor satu itu milik bos mereka, Yanan. Kamar nomor dua diisi oleh lima orang, Varo, Vero, Maxim, Daren dan Darken. Sedangkan kamar nomor tiga diisi oleh Lionel, Rendi, Pedrosa, Roland, dan Renaldi. Di kamar nomor dua dan tiga, ada lima ranjang untuk mereka satu persatu. Klub ini juga dilengkapi ruang game, dapur, ruang makan dan juga ruang olahraga. Mereka memilih tinggal di club karena ingin mencari kebebasan main game online agar tidak dimarahi orangtua mereka. Kebanyakan ibu dan ayah mereka memandang rendah pada game online. Padahal mereka terbiasa menghasilkan uang dari permainan. Yang saat ini sedang mereka mainkan adalah game smart cars, di game itu si pemain harus menjalankan mobil yang ditumpangi oleh robot untuk melaju dengan cepat. Game ini dibutuhkan kemampuan tangan untuk cekatan menekan ikon, juga kemampuan berhitung. Karena selain kecepatan laju kendaraan, game ini mengharuskan si pemain untuk menghitung kecepatan kilometer dengan rumus s dibagi t atau jarak dibagi dengan waktu. Game ini hanya bisa dimainkan oleh orang-orang pintar. Satu bulan sekali mereka rutin mengikuti pertandingan antar kota, jelas saja mereka menang dan mendapat uang banyak. Yanan selalu mengajari mereka dan melatih mereka agar mereka terus menjadi juara. Yanan membangun klub ini bukan hanya sekadar untuk permainan, tapi ia ingin klubnya berjaya dan mematahkan persepsi orang-orang kalau game online itu tidak berguna. Yanan mengikuti bocah-bocah itu menuju tempat makan. Yanan meletakkan nasi bungkus yang tadi dia beli saat perjalanan ke mari. "Makan ini!" titah Yanan. "Waah Kap, untung tadi aku belum masak. Syukurlah dapat makanan tanpa susah payah," ucap Varel yang antusias. Varel segera membagi makanannya pada teman-temannya yang lain. "Bagaimana kamu bisa masak kalau kamu sibuk ghibah," ucap Yanan. Varel kicep, sesaat kemudian bocah itu tertawa cekikikan untuk menutupi ketakutannya pada bosnya. Bosnya sangat tegas dan terkadang galak, itu sebabnya mereka sangat segan. Namun kadang mereka juga tidak takut dengan Yanan karena Yanan tidak tegaan. "Cepat habiskan, setelah itu kalian mandi!" titah Yanan lagi. "Kapten gak makan?" tanya Rolan. "Nanti," jawab Yanan. Yanan mengamati semua yang ada di klubnya. Mereka tampak makan dengan lahap. Yang membuat Yanan mati-matian mempertahankan klubnya adalah, karena anggotanya. Vero dan Varel yang paling muda di antara mereka, sepulang sekolah mereka akan langsung menginap di klub dikarenakan asal mereka yang bukan dari surabaya. Mereka berasal dari kota malang. Yanan ingin membawa Vero dan Varel pada kesuksesan. Dan sesuai hobby mereka yang main game, maka Yanan akan mengarahkan mereka lewat jalur game online. Saat mendapat uang dari kemenangan mereka, mereka biasa menggunakan untuk biaya sekolah. Setidaknya mereka tidak membebani orangtua. Begitupun Max, Lionel, Rendi, Rolan, Renaldi, dan Pedrosa yang masih kuliah. Yanan lebih sering mengajak mereka turnamen dan tanding untuk mendapat lebih banyak uang. Yanan tidak mengambil sepeser pun uang yang bukan miliknya, ia memberikan penuh pada anggotanya untuk keperluan pribadi. Mereka selalu senang karena biaya kuliah meraka juga bisa menanggung sendiri. Yanan tidak ingin mereka keluar lalu terjangkit pergaulan bebas. Yanan ingin masa depan mereka cerah lewat hobby yang mereka gemari sama-sama. Mungkin di luaran sana banyak yang menganggap game online sama sekali tidak ada gunanya, tapi mereka tidak tahu saja kalau game online adalah olahraga virtual yang digemari di luar negeri. Yanan berusaha membawa klubnya untuk bisa bertanding antar negara. "Vero, Varel, setelah mandi, jangan lupa belajar!" ucap Yanan yang langsung diacungi jempol oleh keduanya. Meski Yanan sangat berambisi untuk gamenya, dia tidak pernah melupakan kalau Vero dan Varel adalah pelajar. "Kita bertemu lagi di ruangan game jam tujuh malam!" ucap Yanan sebelum melenggang pergi meninggalkan anak-anaknya. "Siap kapten!" jawab mereka dengan kompak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN