Selesai melaksanakan makan malam bersama keluarga kang Dadang, Nathan dan Abduh sudah berada di kamar karena mereka merasa lelah sehabis Perjalanan yang sangat jauh dan lumayan mengerikan. mereka berdua terlihat berbaring di atas kasur yang sama, matanya menatap ke arah atas seperti sedang mengantar lamunan masing-masing.
"Aduh.... enak ya, kalau tinggal di kampung Suasananya sangat sunyi, berbeda ketika kita tinggal di rumah Shakila yang terasa berisik oleh motor yang berlalu lalang. di sini hanya sesekali saja kendaraan yang lewat padahal waktu masih terbilang sangat sore," ujar Nathan mulai memecah heningnya suasana.
"Iya memang begini. para petani biasanya mereka tidur paling lambat pukul 09.00 malam. bahkan setelah melaksanakan salat Isya mereka sudah masuk ke dalam kamar untuk beristirahat maklum pekerjaan mereka sangat berat." awab Abduh yang sudah menggunakan selimut maklum keadaan di Kampung yang berdekatan dengan gunung, sehingga suasananya terasa dingin meski mereka tinggal di kota Bandung, tapi udara sejuk di kampungnya lebih dari tempat kuliahannya.
"Enak ya jadi petani. tubuh mereka sehat dan kekar karena terus digerakkan, waktu istirahatnya pun sangat teratur. berbeda seperti orang yang bekerja di kantor mereka paling awal tidur biasanya pukul 09.00 karena otak mereka yang bekerja, bukan tubuhnya. sehingga sampai rumah bukannya beristirahat malah masih tetap terngiang-ngiang Oleh pekerjaan yang dikejar deadline."
"Halah... Sok tahu kamu...!"
"Ya tahulah, keluarga dan saudara-saudaraku di Bogor mereka akan kerja di kantor, ada yang di kantor pemerintahan ada pula yang di kantor swasta. setiap malam mereka keluar untuk mencari angin bahkan untuk makan enak saja mereka harus pergi ke restoran, berbeda kalau di sini makan dengan asin, sambal dan lalap rasanya sudah luar biasa aku semakin tertarik untuk menikahi Jasmine."
"Apa hubungannya semua itu dengan adikku?"
"Yah kalau aku nikah sama Jasmine, mau tidak mau aku harus bertani."
"Bukannya Kamu mau membawa adikku agar tidak tinggal di kampung ini."
"Oh iya aku lupa hehehe.... Lagian di sini sangat nyaman banget duh nggak seperti di Bogor yang terasa sangat panas."
"Awas kamu lupa dengan janjimu yang akan membawa adikku pergi, tapi itupun kalau dianya mau kalau nggak ya Wassalam."
"Lah jangan gitu... kamu kan sahabatku dan calon kakak iparku. Harusnya kamu mendoakan yang baik-baik untuk calon adik iparnya."
"Ya kalau jasmine-nya tidak mau mau bagaimana lagi?" ujar Abduh sambil mengangkat bahu.
"Jangan tega lah... kok kamu jadi tega begini sih....!" Balas Nathan merengek seperti anak kecil yang tidak jadi dibelikan mainan oleh orang tuanya.
Truk... Truk.... Truk...
Pintu kamar Mereka pun ada yang mengutuk, membuat mereka berdua menatap ke arah datangnya suara, dan seketika menghentikan obrolan.
"Abduh Kamu sudah tidur?" tanya suara seorang wanita dari arah luar.
"Belum Teh... Abduh lagi ngobrol sama Nathan." jawab Abduh yang menyahuti kakak iparnya.
"Keluar dulu sebentar, kang Dadang mau ngobrol."
"Baik teh Sarah....!" dengan segera Abdul pun membuka selimutnya lalu bangkit dari tempat tidur Kemudian keluar dari kamar untuk menemui sang kakak.
Nathan yang ditinggalkan, dia tidak ikut keluar karena mungkin Abduh akan diajak mengobrol keluarga sehingga Nathan hanya memainkan matanya menatap langit-langit kamar, yang terbuat dari anyaman bambu. dari sudut bibirnya terukir senyum indah ketika membayangkan kelakuannya yang sangat Barbar, sampai-sampai nyawanya menghilang gara-gara Ingin Bertemu dengan wanita yang baru dilihat melalui video.
"Kamu memang benar-benar cantik Jasmine, wajahmu sangat manis...! apalagi hidungmu yang mancung membuat aku semakin terpesona, sampai-sampai Mengalihkan Duniaku yang sangat sepi karena tidak ada hati yang mengisi. memang benar menurut pepatah, bintang itu sangat banyak seperti jumlah gadis yang beratus-ratus juta, tapi yang hinggap di hatiku hanya kamu. Oh Jasmine.. Kapan kita bisa bertemu, aku sudah tidak sabar ingin menyapamu." gumam hati Nathan yang benar-benar mencintai adik sahabatnya, entah mengapa perasaan itu tiba-tiba muncul begitu saja padahal kok sama sekali mereka belum pernah bertemu.
"Kasihan kamu cantik. pasti hidupmu sangat menderita karena Kamu gadis yang terjebak di dalam lingkungan yang penuh konflik. pasti hidupmu sangat dipenuhi dengan ketakutan, deraian air matamu pasti sudah habis untuk menangisi keluargamu yang sudah tidak ada. tapi setelah kamu berkenalan denganku air matamu Takkan aku biarkan menetes sedikitpun karena cukuplah yang dulu kamu habiskan cairan suci itu untuk keluar. sekarang waktunya kamu hidup berbahagia denganku yang akan tulus mencintaimu" lanjut gumaman orang yang sedang dimabuk kepayang oleh yang namanya cinta. Memang benar menurut sang pujangga, kalau orang yang sedang dilanda jatuh cinta akan merubah orang itu menjadi seorang yang sangat puitis.
Tiba-tiba Nathan memasukkan wajahnya ke dalam selimut, merasa malu ketika membayangkan dia sudah mengobrol dengan Jasmine, dia sudah menyusun rencana kalau Jasmine mau dia akan langsung menikahinya, karena kuliah bisa dilanjutkan setelah menikah. Nathan merasa takut kalau gadis pujaannya berpindah ke lain hati atau memiliki hati yang lain, sehingga ketika ada kesempatan dia tidak akan menyia-nyiakan.
Ceklek!
Pintu kamar pun terbuka kemudian masuklah Abduh dengan wajah yang Murung, membuat Nathan pun bangkit lalu menundukkan tubuhnya di atas ranjang, menatap sahabatnya yang duduk di kursi yang berada di depan nakas.
"Kenapa kamu berburam bekerja anak muda, Coba tolong ceritakan kesusahanmu sama calon adik iparmu ini!"
"Aku lagi bingung Tan, barusan Jasmine menelepon memberitahu bahwa besok dia akan pulang, sekarang dia sudah memesan tiket."
"Kenapa harus bingung, Bukannya kamu pulang ke kampung untuk bertemu adikmu itu?"
"Masalahnya tidak semudah itu Tan." jawab Abduh yang menghela nafas.
"Terus apa masalahnya?" tanya Nathan seolah tidak mengetahui.
"Masa kamu lupa dengan kejadian tadi siang?:
"Aku tidak lupa dan tidak akan melupakan kejadian yang sangat mengerikan itu, tetapi hubungannya apa dengan kedatangan Jasmine."
"Kalau penjemputan adikku diketahui oleh pihak Ci Saga, maka mereka akan melakukan segala cara untuk mencegat seperti tadi siang."
Mendengar perkataan sahabatnya, Nathan mulai terdiam karena sebenarnya dia sudah mengetahui bahwa masalahnya bukan tidak ada kendaraan untuk menjemput Jasmine, tapi masalah yang mereka hadapi ketika harus bertemu dengan warga Kampung Cisaga.
"Gimana kalau kalian menyamar seperti di film-film, jadi keberangkatan kalian tidak akan ada yang mengetahui."
"Cara menyamarnya bagaimana?"
"Gunakan ini nih...!" jawab Nathan sambil menunjuk ke arah pelipis.
"Iya bagaimana?" dengus Abduh yang terlihat kesal.
"Demi untuk menyelamatkan sang kekasih mendingan kita tidak usah memakai mobil yang ada di kampung segaranten, kita bisa meminjam dari kampung yang lainnya atau kita bisa minta pertolongan mereka agar mau mengantarkan kita untuk pergi ke bandara menjemput Jasmin."
"Cemerlang....! Ayo kita temui Kang Dadang." ajak Abduh yang paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Nathan dengan segera dia pun menarik tangan sahabatnya untuk keluar dari kamar.
"Nggak usah narik-narik! Aku bisa jalan sendiri."
Mereka berdua pun tiba di ruang keluarga, terlihatlah Dadang yang sedang merenung memikirkan bagaimana agar penjemputan adiknya bisa selamat. melihat adik dan sahabatnya datang, kang Dadang terlihat mengulum senyum menyembunyikan pilu yang ada di hatinya, karena dia sangat sedih ketika tinggal di pemukiman yang penuh konflik mau menyambut keluarga pun sangat susah.
"Belum tidur Abduh, Katanya tadi capek?"
"Belum kang, tapi ada yang penting yang ingin saya sampaikan?"
"Tentang apa?" tanya Dadang sambil menatap lekat ke arah adiknya yang sudah duduk.
"Tentang penjemputan Jasmine, Nathan memiliki ide yang berlian."