8. Alasan Konyol

1021 Kata
Antrian masih sangat panjang membuat Angger merasa jenuh menunggu, kalau bukan karena ia yang ingin bertemu dengan dokter tampan itu mana mungkin ia rela berjam-jam menunggu antrian yang panjangnya mengalahkan antri sembako murah. Orang-orang di sini berbondong-bondong datang untuk mencari perhatian Ardhito dan bukannya benar-benar berobat, semua itu dapat Angger ketahui saat mengamati dan mendengar obrolan-obrolan orang-orang yang ada di sini. Karena mengamati itu membuat Angger berpikir, ia harus pura-pura sakit juga supaya ada alasan untuk menemui Ardhito. Tiba-tiba saja ide muncul di kepalanya, ia harus berpura-pura sakit agar Ardhito mau merawatnya. Perlukah ia berpura-pura sakit parah saja agar pria itu semakin peduli? Hingga kemudian saat akhirnya giliran Angger yang memasuki ruangan Ardhito, Angger jadi tidak sabaran. Ia menunggu dengan kesal sebelum akhirnya suster memanggil namanya, wanita itu langsung memasuki ruangan Ardhito dengan percaya dirinya. Di dalam sana ia melihat Ardhito sedang menyuntik tangan seorang ibu-ibu yang meringis kesakitan, saat melihat itu sontak saja membuat Angger bergidik ngeri. Ibu itu yang disuntik, tetapi Angger juga seakan merasakan sakitnya. Ini semua karena ia teringat saat disuntik dulu, memang benar tidak terlalu kerasa karena Ardhito terus mengajaknya mengobrol, tetapi setelahnya ada rasa ngilu yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata. Intinya Angger tidak mau disuntik dokter lain selain Ardhito. "Saya akan resepkan obatnya ya, Bu, setelah dari sini Ibu bisa membawa resep obat ini ke apotek depan untuk menebus obatnya," ujar Dokter Ardhito sambil menulis sesuatu disecarik kertas kecil. "Terima kasih, Dok." Setelah mendapatkan resep obat, ibu-ibu itu segera pergi dari ruangan Ardhito. Melewati Angger yang diam terpaku dengan tatapan yang terfokus pada Ardhito, pria yang mengenakan sneli putihnya itu benar-benar tampan. Angger bahkan senyum-senyum sendiri saat melihatnya, sungguh anugerah Tuhan yang patut untuk diabadikan. "Kamu?" tanya Ardhito mengernyit saat melihat kehadiran Angger. Namun, Angger bergeming, wanita itu diam sambil terus tersenyum. Tak sadar kalau Ardhito saat ini sudah memperhatikannya, itu semua karena Angger yang terlalu terpana dengan ketampanan Ardhito. "Apa ada yang kamu keluhkan sehingga ke sini lagi?" tanya Ardhito pada Angger yang sedari tadi hanya senyum-senyum sendiri. Ardhito mengernyit saat Angger hanya diam mematung, pria yang tadinya duduk di sebuah bangku itu pun akhirnya berdiri menghampiri Angger. Saat berada tepat di depan wanita itu, ia menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Angger hingga Angger yang tersadar pun terkejut saat melihat wajah tampan Ardhito hanya berjarak beberapa sentimeter darinya. "Eum ...." Angger jadi tergagap, rasa percaya diri yang semula ada kini entah terjun bebas ke mana. Meninggalkan kegugupan yang membuat Angger salah tingkah. "S-saya ...." Angger bahkan tidak sanggup berkata-kata, padahal tadi rencananya ia sudah ingin mengatakan rasa sakitnya itu agar bisa mencari perhatian Ardhito. Namun, saat benar-benar sudah berhadapan dengan Ardhito, ia malah mati kutu. "Iya?" tanya Ardhito menaikkan alisnya, menunggu jawaban Angger yang tak kunjung ia dapatkan. "Apa lengan kamu masih sakit? Atau lukanya kembali terbuka?" tanya Ardhito akhirnya berinisiatif bertanya terlebih dulu karena Angger tak jua memberikan penjelasan mengenai alasan kedatangan wanita itu. "Sama sekali bukan itu." Angger langsung menggelengkan kepalanya karena kalau ia mengangguk bisa-bisa Ardhito tahu ia berbohong, pria itu jelas tahu kondisinya yang sudah sembuh. Ia akan bertambah malu saat Ardhito menyadari itu. "Lalu apa? Ayo kita duduk dulu. Mungkin kamu bisa menjawab keluhan kamu saat sudah duduk," ujar Ardhito membuat Angger mengangguk kemudian mengikuti Ardhito. Wanita itu duduk di hadapan Ardhito, dengan mata yang terus memperhatikan raut tampan bak dewa Yunani yang ada di hadapannya. "Coba kamu ceritakan pelan-pelan keluhan kamu," ucap Ardhito lagi dengan suaranya yang lembut. Ardhito merupakan pria yang dingin, tetapi saat sedang bersama pasien ia akan berubah menjadi sosok yang hangat dan ramah. Itu semua karena tuntutan pekerjaannya yang memang menginginkannya seperti itu. "Jantung saya tidak berhenti berdetak, Dok, saat ini malah semakin kencang detakannya. Saya takut kalau dibiarkan terus-menerus, saya bisa kena serangan jantung." Angger mengatakan itu dengan mata yang terus menatap Dokter Ardhito, ia mengagumi ketampanan dokter itu hingga tanpa sadar malah perkataan konyol mengenai keadaan hatinya lah yang ia katakan pada Ardhito. "Jantung kamu? Kalau begitu seharusnya kamu periksakan ke dokter yang lebih ahli, dokter spesialis bagian dalam mungkin lebih paham. Kamu salah kalau berada di sini karena saya hanya dokter umum," ujar Ardhito. Angger menggelengkan kepalanya, nampak tidak setuju dengan perkataan Ardhito. "Yang bisa mengobati sakit ini hanya Dokter, saya yakin itu," balas Angger begitu mantap. "Lebih baik saya antar kamu ke teman saya ya, kebetulan dia spesialis jantung. Saya khawatir nanti penyakit kamu akan lebih serius kalau hanya dibiarkan tanpa ada penanganan," ujar Ardhito sambil berdiri. Angger ikut berdiri, tetapi jelas ia tidak berniat pergi ke dokter spesialis jantung itu. "Dokter masih nggak paham juga?" tanya Angger tiba-tiba. "Karena saya paham makanya saya mengajak kamu ke dokter yang lebih ahli, ayo ikut saya." Ardhito hendak pergi, tetapi dengan cepat Angger menahan Ardhito dengan berdiri tepat di hadapan pria itu. "Yang bisa mengobati itu cuma dokter, dokter lain sama sekali nggak bisa!" ujar Angger tegas. Ardhito yang mendengarnya mengernyit bingung. "Hah? Maksud kamu gimana?" "Ck, Dokter masa nggak paham juga sih?" Angger mulai kesal juga karena Ardhito sama sekali belum paham dengan perasaannya. "Jantung saya hanya berdetak lebih kencang saat saya melihat dan memikirkan Dokter. Sekarang saya yakin Dokter paham," ujar Angger. Ardhito jelas saja paham dengan apa yang Angger katakan, ia bukanlah seorang pria lugu yang belum pernah berpacaran. Pengalamannya dengan beberapa wanita sudah banyak, beberapa pasiennya juga pernah seperti Angger ini. Memberi kode ataupun dengan terang-terangan mengutarakan perasaan secara langsung. "Saya jatuh cinta sama Dokter, alasan saya ke sini karena itu." Ardhito hanya diam, sama sekali tidak memberi respon hingga saat Angger menyentuh lengannya hal itu membuat Ardhito terkejut kemudian segera menepis kasar tangan Angger. "Kamu lebih baik pulang, masih banyak pasien yang ingin diperiksa." Tiba-tiba saja nada suara Ardhito menjadi dingin, hal itu membuat Angger mengernyit bingung. "Dokter—" "Suster, bawa perempuan ini pergi. Karena dia ke sini bukan untuk berobat," ujar Ardhito memotong perkataan Angger. "Baik, Dok." Seorang suster berjalan menghampiri Angger, mengajak wanita itu pergi. "Saya tidak mau pergi, saya masih ingin berbicara dengan Dokter Ardhito." Angger berontak saat suster itu menariknya agar keluar dari ruangan Ardhito. "Dokter! Biarkan saya bicara dulu!" teriak Angger yang jelas saja sama sekali tidak dipedulikan oleh Ardhito.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN