Bab 23

1427 Kata

Ketika Keano berjalan mendekat ke arah mereka dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Rafael Abraham dan Adara Parmeswari masih setia dengan keterdiaman mereka. Mulut mereka masih terkunci rapat, belum niat terbuka sepertinya, wajar saja karena otak mereka belum mampu merangkai kata untuk menjawab pertanyaan sederhana dari bocah berusia empat tahun lebih itu. Susah payah Keano berusaha menaiki sofa yang cukup tinggi untuk anak seumurannya itu. Lantas, anak tersebut mendudukkan dirinya tepat di samping Adara, mata bening dengan bola mata hitam pekat itu menatap Adara, membuat jantung Adara rasanya mencelos. Adara nyaris menitihkan air matanya lagi, saat tangan mungil Keano meraih wajahnya lalu mengecup pipinya dengan dalam. Rafa terpekur, ia tidak mengerti apa yang tengah terjadi detik itu.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN