Bab 19

1385 Kata

"Tadi itu bukannya suami almarhum Adira, Rafael Abraham, Kakak kandung Anna kan?" Suara lembut Fabian membuat Adara sontak terlempar ke dunia nyata. Wanita itu mengerjapkan matanya beberapa kali, lantas menghela napasnya. Otaknya sedikit tidak berfungsi saat ini. Arsitek muda nan cantik itu sempat mematung beberapa saat, dengan matanya yang tampak berkaca-kaca. Adara bukan wanita cengeng. Ia pernah direndahkan sebelum itu, tapi rasanya tidak sesakit saat melihat tatapan sendu Rafael Abraham, yang seolah mengisyaratkan rasa kecewa yang mendalam. Adara merasa sakit hati melihat itu. Bahkan, Adara merasa air matanya mulai berdesakan. Adara tidak tahu, perasaan macam apa yang saat ini ia rasakan. Perasaan itu asing, dan Adara baru pertama kali merasakannya. Ditambah lagi, ada rasa asing lai

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN