Jakarta

2369 Kata
Puspa pada akhirnya ikut dengan bu Kades menuju ke Jakarta. Tujuannya tulus mencari tambahan nafkah sekaligus membalas kebaikan bu Kades selama ini pada dirinya. Setibanya di rumah anak bu Kades yang ada di Jakarta, Puspa sedikit mengernyitkan keningnya saat menatap foto pernikahan besar yang dipasang di ruang tamu. Wajah mempelai pria yang sangat mirip dengan seseorang yang dekat di masa lalunya. Namun ada yang berbeda dengan penampilan pria itu dengan masa lalunya, sehingga akhirnya Puspa hanya membiarkan foto tersebut begitu saja. Sesaat kemudian keluar seorang wanita muda seusia dirinya sambil menggendong seorang balita. "Selamat sore nyonya, bagaimana perjalanannya?" sapa wanita muda itu sambil mencium punggung tangan bu Kades dengan sopan. "Halo Sari, bagaimana kabarmu?" sahut bu Kades balik menanyakan kabar. "Saya baik bu, Yoga juga sehat, tapi pak Askara dan nona Yunita belum kembali. Mbok Mira baru saja pulang setelah selesai masak untuk makan malam." jawab Sari, wanita muda itu. "Kapan rumah ini akan menjadi rame ya? selalu saja sepi seperti ini. Kasihan Yoga." ucap Bu Kades dengan sendu. Dari percakapan antara kedua orang itu, Puspa jadi tahu bahwa saat ini di rumah hanyalah ada seorang balita, seorang asisten rumah tangga dan juga seorang satpam saja yang tadi dia lihat berjaga di pintu gerbang. Bu Kades terlihat sangat menyayangi cucunya yang masih balita itu. Bu Kades langsung menggendong dan mencium pipi balita itu dengan sangat gemas. "Sari, ini Puspa yang akan menggantikan kamu sementara disini. Tolong kamu ajarkan semua hal padanya tentang pekerjaanmu disini ya, termasuk apa saja yang harus diperhatikan untuk Yoga." ucap Bu Kades pada ART satu-satunya di rumah itu. "Baik nyonya. Mari Puspa, aku akan memberitahumu tentang semua tugas di rumah ini." sahut Sari dengan ramah mengajak Puspa untuk berkeliling rumah. "Puspa, ikutlah dengan Sari ke dalam." pinta bu Kades dan Puspa mengangguk pada ucapannya. Puspa mengikuti Sari untuk belajar tentang banyak hal mengenai tugas-tugas pekerjaannya. "Puspa, ini kamar tidurku yang sementara akan dipakai kamu saat aku pulang kampung. Kamu bisa meletakkan barang-barangmu di lemari yang ada disana. Nona Yunita sudah membelikan lemari khusus untukmu sendiri." ucap Sari pada Puspa dengan sangat baik dan ramah. "Terima kasih, Sari. Aku akan menyusun barangku nanti saja, sekarang apa yang bisa aku bantu kerjakan?" sahut Puspa dan Sari menjawab dengan anggukan kepala. Sari dengan telaten memberitahu segala tugas-tugasnya pada Puspa. Puspa memang berasal dari kampung, tapi dia adalah lulusan sarjana pertanian yang pernah hidup di kota metropolitan dengan segala teknologinya. Maka dari itu Puspa tidaklah kesulitan untuk mempelajari cara pemakaian segala elektronik di rumah tersebut. Puspa hanya mencatat semua detail-detail dari kebiasaan majikannya juga keperluan anak balitanya. Hari mulai petang, anak dan menantu bu Kades terdengar masuk ke dalam rumah. Sari segera mengajak Puspa yang barusaja mandi itu untuk segera bersiap menyambut majikan mereka dan menyiapkan makan malam. Sari dan Puspa bersamaan menuju ke ruang keluarga untuk menyapa majikan mereka. Namun barusaja masuk ke ruang keluarga itu, Puspa langsung membeku saat matanya menatap seorang pria yang menjadi majikannya itu. Sari menjadi bingung dengan sikap Puspa yang mendadak menghentikan langkahnya. "Puspa, kamu kenapa? ayo! kita sapa pak Askara dan nona Yunita." tanya Sari. "Sari, siapa nama bapak itu?" tanya Puspa bingung. "Pak Askara. Kenapa? ada apa? apa kamu sudah mengenalnya?" jawab Sari balik bertanya. "Ouw tidak, tidak. Aku tidak mengenalnya, tadi aku hanya terkejut saja karena sangat mirip dengan temanku." sahut Puspa merahasiakan yang sesungguhnya dari Sari. Keduanya berjalan mendekat, dan membuat para majikan mereka menoleh karena menyadari kehadiran mereka. Detik ini Askara yang mendadak diam membeku melihat keberadaan Puspa. "Nak, ini Puspa yang akan menggantikan Sari sementara waktu." ucap bu Kades semakin membuat kepala Askara bagai tersambar petir mendengar nama yang sudah delapan tahun ini menghilang. Matanya sangat mengenali wajah Puspa, tapi dia menjadi ragu dan bingung karena Puspa yang dia kenal sangatlah cantik sempurna, tanpa cacat apapun, sangat beda dengan wanita muda di hadapannya ini. Penampilan Puspa yang dulu juga sangatlah berkelas, bukan penampilan ART biasa yang dia lihat sekarang. "Hai Puspa, aku senang kamu akhirnya mau ikut ibu kesini untuk menjaga Yoga. Terima kasih ya." sapa Yunita dengan ramah. "Iya nona, bu Kades juga sudah banyak membantu saya dan ibu saya." sahut Puspa menunduk hormat pada majikannya. "Kak, kenapa diam saja?" tegur Yunita pada suaminya yang hanya diam menatap lekat pada Puspa. Bu Kades akhirnya ikut menoleh ke arah menantunya itu, lalu dia dan Yunita mengikuti ke arah tatapan Askara. "Askara, maafkan ibu tidak mengatakan tentang kondisi Puspa pada kalian. Puspa menjadi seperti ini karena sebuah kecelakaan, tapi percayalah dia ini sangat baik, jujur dan rajin beribadah." ucap bu Kades merasa perlu menjelaskan kondisi Puspa karena menantunya terlihat meragukan pilihannya yang diduga karena cacat mata yang dimiliki Puspa. "Kapan kamu mengalami kecelakaan itu?" tanya Askara, namun Puspa menjadi bingung sekaligus takut pada pertanyaan majikannya itu. Dia takut melanggar janjinya sendiri. "Sekitar delapan tahun yang lalu, sebelum dia dan ibunya pindah ke desa Tirtosari." jawab bu Kades karena Puspa hanya diam setelah sekian detik. "Delapan tahun yang lalu?" tanya Askara dengan tatapan menyelidik pada Puspa. Wanita itu memilih tetap menundukkan kepalanya, tak berani menatap majikannya. "Kak, ada apa? apa Kak Askara tidak suka karena cacat pada matanya?" tanya Yunita dengan berbisik di telinga suaminya. "Tidak, tidak. Aku tidak masalah dengan hal itu. Aku percaya pilihan ibu pasti terbaik, karena ibu sangat menyayangi Yoga." jawab Askara tidak ingin istri dan mertuanya salah paham. "Baiklah, kalau begitu sebaiknya kita makan malam saja." usul Yunita dan semuanya setuju. Askara memilih kembali bersikap biasa, dan menunda semua rasa penasarannya untuk nanti dia mendapatkan waktu bicara berdua dengan Puspa. Puspa juga berusaha sewajar mungkin melakukan tugas-tugasnya membantu Sari menyiapkan dan melayani makan malam bagi semua keluarga itu. Selesai makan malam, Yunita dan ibunya masih mengobrol di ruang keluarga, bercanda dan bermain bersama Yoga. Askara segera masuk ke dalam kamar dan memikirkan segala kemungkinan mengenai benar atau tidaknya Puspa yang sekarang menjadi ART di rumahnya itu adalah Puspa mantan kekasih sahabatnya yang mendadak hilang sejak kecelakaan delapan tahun yang lalu. Askara mencoba menghubungi Aldi untuk bertanya apakah sahabatnya itu pernah mendapat sedikit kabar atau berita tentang kekasihnya yang hilang. Namun sayang sekali setelah beberapa kali dicoba tapi Aldi tidak menerima panggilannya. "Kak, ada apa?" tegur Yunita pada suaminya yang terlihat sedang gelisah dalam pikirannya sendiri sambil terus mencoba mencari sesuatu melalui smartphone di tangannya. "Eh, kamu sudah di sini. Maaf, aku terlalu sibuk mencari informasi tentang proyek baru, jadi tidak menyadari kamu sudah di sini." jawab Askara. "Kak, ada apa sebenarnya? kamu terlihat terus gelisah seperti ada banyak hal dalam pikiranmu sejak melihat Puspa." tanya Yunita yang terlalu peka pada suaminya. Askara menghela napas panjang, lalu meraih kedua tangan istrinya dan tersenyum. "Aku tidak masalah dengan cacat mata yang dimiliki Puspa, tapi berhubung ini tentang menjaga Yoga, apakah kamu bisa mengijinkan aku melakukan beberapa interview terhadap Puspa? karena aku harus tahu apa penyebab kecelakaan itu? aku tidak mau jika masa lalunya ternyata seorang napi yang melarikan diri dari hukuman. Aku juga harus tahu mengapa setelah kecelakaan dia pindah ke kampung halamanmu." jelas Askara mencoba meminta ijin pada istrinya supaya tidak curiga berlebihan. "Iya Kak, tapi besok pagi aku harus berangkat ke Pontianak dan ibu sudah harus kembali ke Tirtosari karena lusa ada pertemuan dengan walikota." ucap Yunita dengan menyesal. "Tidak apa, aku akan melakukan interview sendiri asal kamu mengijinkannya." sahut Askara. "Baiklah, tidak masalah. Tapi sebaiknya interviewnya di ruang keluarga saja ya, jangan di ruang kerja!" ucap Yunita dengan sebuah pesan tegas. Askarapun segera menarik pinggang istrinya untuk memeluknya dan mencium bibirnya, memberikan kepastian pada istrinya bahwa dirinya hanya tertarik pada istrinya saja. "Percayalah! aku sangat mencintaimu, tidak akan ada wanita lain yang bisa menggantikan posisimu di hati dan hidupku. Kamu sangat sempurna, mana mungkin aku macam-macam dengan wanita lain." bisik Askara saat bibirnya terlepas dari bibir Yunita. Wanita cantik itu tersenyum bahagia mendengar ucapan suaminya. "Terima kasih ya, Kak. Aku sungguh wanita beruntung yang memilikimu." sahut Yunita dan keduanya kembali saling menikmati bibir pasangannya penuh cinta. ***** "Iya, aku tidak akan terlambat ke pertemuan. Aku hanya ada sedikit urusan sebentar tentang ART yang baru ini." ucap Askara pada Aldi melalui panggilan telepon. "Baiklah, terima kasih untuk ijinnya, sampai ketemu di pertemuan nanti." ucap Askara lagi beberapa detik setelahnya. Askara mengakhiri panggilan itu dan kembali duduk di karpet ruang keluarga untuk bermain bersama Yoga. Ada Sari yang juga sedang melayani sarapan Yoga, sedangkan Puspa melakukan tugas rumah tangga lainnya. "Sari, tolong mintakan KTP Puspa dan bawa kemari." pinta Askara. "Baik pak." sahut Sari dan langsung melakukan perintah majikannya. beberapa saat kemudian Sari datang membawa KTP Puspa dan memberikannya pada Askara. "Sari, tolong mandikan Yoga dan panggil Puspa untuk kemari. Ada beberapa pertanyaan yang harus aku tanyakan untuk lebih nyaman meninggalkan Yoga padanya." pinta Askara lagi dan Sari kembali menuruti perintahnya. Sari dan Yoga telah masuk ke dalam kamar Yoga, Askara telah berpindah duduk di sofa, sedangkan Puspa kini telah duduk di karpet sangat menjaga jarak dari majikannya. "Puspa Keshwari, lahir di Jakarta." ucap Askara membaca nama Puspa di KTP. "Apa yang terjadi sebenarnya? mengapa kamu sekarang memiliki cacat pada satu matamu? apa alasanmu menghilang selama delapan tahun ini dari Aldi Bramantya?" beberapa pertanyaan langsung diajukan oleh Askara tanpa basa basi. "Maafkan saya, pak Askara. Saya mohon jangan katakan pada Aldi kalau saya ada di sini. Saya di sini hanya untuk satu bulan dan itupun untuk membalas budi baik ibu mertua anda." jawab Puspa meminta pada Askara. "Siapa? pak Askara? bukankah kamu biasa memanggilku Eko? kenapa kamu jadi berubah seperti ini? apa yang terjadi sebenarnya Puspa?" Askara sungguh bingung dan sangat penasaran pada Puspa. "Anda sekarang adalah majikan saya, tidak pantas bagi saya untuk memanggil dengan nama saja, maafkan saya pak." sahut Puspa masih dengan menundukkan kepala sangat tidak berani beradu tatap dengan Askara. "Aarrggghhh!!! bisa gila aku! sungguh kamu tidak hanya membuat Aldi gila! tapi aku juga bisa gila karena penasaran!" geram Askara karena tak kunjung mendapat jawaban apapun dari Puspa. "Maafkan saya, pak." ucap Puspa lagi dan Askara menghela napas panjang, mencoba bersabar dan menjaga sikapnya supaya tidak mengundang curiga istrinya, karena bisa dipastikan saat ini Yunita pasti sedang melihat dari rekaman CCTV di gadgetnya. "Puspa, apa kamu tahu bagaimana menderitanya Aldi sejak sadar dari kecelakaan delapan tahun yang lalu dan tidak melihatmu bahkan tidak ada seorangpun yang bisa memberitahunya dimana keberadaanmu. Aldi bahkan selalu berkeliling seluruh Jabodetabek setiap hari hanya untuk menemukanmu. Sekarang katakan padaku apa alasanmu pergi mendadak dari Aldi tanpa kabar? atau sekarang juga aku akan memaksa Aldi untuk datang kemari?" Askara sampai harus menggunakan ancaman supaya Puspa mau berkata jujur. Puspa bukannya menjawab malah menangis tersedu, membuat Askara sungguh putus asa. "Apa yang terjadi pada satu matamu? seingatku polisi dan para perawat mengatakan bahwa kondisimu baik-baik saja hanya luka ringan di tangan dan kaki, tapi kenapa sekarang kamu jadi memiliki cacat pada sebelah matamu? Apa kamu merasa tidak layak bagi Aldi karena memiliki cacat mata?" Askara mencoba mengganti pertanyaannya. "Pak Askara, saya mohon jangan katakan pada Aldi tentang keberadaan saya di rumah ini. Saya mohon, pak. Bukankah anda juga sangat membutuhkan saya untuk menjaga Yoga di sini? tolong pak, tolonglah saya." pinta Puspa bahkan sampai tersungkur bersujud pada kaki Askara. "Puspa, jangan melakukan hal seperti ini! Lepaskan kakiku! Puspa, angkat kepalamu!" perintah Askara sambil mengangkat pundak Puspa. "Saya mohon, pak. Saya mohon." pinta Puspa dan Askara akhirnya kalah. "Baiklah, sekarang angkat kepalamu!" sahut Askara sangat kesal pada wanita itu. Puspa akhirnya kembali duduk menjauh dari Askara namun masih dengan menundukkan kepalanya. "Sekarang jawab pertanyaanku. Di KTP tertulis statusmu belum menikah, apa benar?" tanya Askara dan Puspa hanya menganggukkan kepalanya. "Kamu masih mencintai Aldi?" tanya Askara lagi, tapi Puspa hanya diam dan Askara segera paham jawabannya tanpa Puspa perlu berkata apapun. "Kalau kamu masih mencintai Aldi, kenapa kamu menghilang? bukankah Aldi sudah sangat memperjuangkan hubungan kalian di hadapan keluarganya? Kenapa kamu menyerah dan pergi tanpa kabar? Apa itu karena keadaanmu yang menjadi cacat?" tanya Askara dan Puspa hanya bisa menganggukkan kepalanya. "Bukankah saat kecelakaan itu, kondisimu masih tetap baik? kapan cacat mata itu kamu miliki?" tanya Askara lagi, tapi lagi dan lagi Puspa hanya diam. "Baiklah kalau kamu tidak mau menjawab, aku tidak akan mengganggu privasimu lagi. Sekarang aku minta tolong padamu untuk menjaga dan mengasuh Yoga dengan baik, karena mengingat hubungan baik kita sejak dulu, seharusnya kamu bisa menganggap Yoga sebagai keponakanmu." pinta Askara pada akhirnya sungguh menyerah bertanya pada Puspa. "Baik, pak. Tentu saja saya akan menjaganya dengan sangat baik." sahut Puspa dan Askara tidak bisa menghentikan Puspa untuk menyebutnya pak. Panggilan Eko itu dulu hanya dipakai khusus oleh Aldi dan Puspa, tapi sejak Puspa menghilang tanpa kabar dan tak pernah kembali lagi, akhirnya Aldipun berubah memanggilnya Askara sama seperti yang lainnya, demi menjaga profesionalisme kerja diantara mereka berdua juga. "Aku akan berangkat ke kantor sekarang, lanjutkanlah menjaga Yoga dan buatlah dirimu nyaman di rumah ini. Aku dan Yunita tidak pernah perhitungan soal makanan dan minuman yang ada di rumah ini." ucap Askara lalu pergi meninggalkan rumah. Puspa menghela napas lega namun tetap cemas dan hanya bisa berdoa semoga majikannya yang pernah menjadi sahabatnya itu tidak mengatakan apapun pada Aldi. Puspa melanjutkan lagi pekerjaan yang tadi sempat tertunda. ***** @ Gedung perkantoran "Apa yang sedang kamu pikirkan? mengapa kamu sangat tidak fokus pada pertemuan tadi?" tegur Aldi pada sahabatnya saat selesai pertemuan bulanan dengan para manajer di perusahaannya. "Maafkan aku, sepertinya aku kurang tidur. Biasalah, semalam aku harus lembur karena Yunita pagi tadi harus segera pergi ke Pontianak untuk tiga hari." jawab Askara memberi alasan. "Dasar pria m***m! cuma ditinggal tiga hari saja sudah minta pesangon semalaman! Sangat tidak profesional!" rutuk Aldi pada sahabatnya itu dan Askara hanya tersenyum lebar. "Bagaimana ART yang baru? apa bisa dipercaya dan diandalkan?" tanya Aldi. Lidah Askara saat ini sungguh gatal ingin mengatakan tentang keberadaan Puspa di rumahnya. Tapi Askara tidak ingin menciptakan ledakan gunung merapi yang sedang terlelap tenang. "Bagus! sangat bisa dipercaya dan diandalkan! pilihan ibu mertuaku memang selalu the best!" sahut Askara memilih mengamankan keadaan semuanya. "Baguslah! Ayo! aku traktir kopi supaya kamu tidak lagi mengantuk hingga sore nanti." ajak Aldi dan Askara setuju. "Aldi, apakah kamu masih menyimpan Puspa dalam hatimu atau di pikiranmu terdalam? atau kamu sudah benar-benar melupakan wanita itu bahkan namanya juga sudah terhapus dari hidupmu?" tanya Batin Askara saat menatap Aldi yang sedang berdiri di sampingnya menunggu mobilnya diantarkan ke depan lobby gedung. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN