Puas? Belum dong!

1228 Kata
Nasib siapa atau nasib apes, atau memang sudah takdirnya. Entahlah tidak tahu, yang jelas pertemuannya dengan si manusia amit-amit pecicilannya membuat mood Wyla anjlok seanjlok-anjloknya. Moodnya sudah di bikin buruk sama kliennya, kini justru bertemu dengan si Ilyasa. “Perasaan dunia ini luas, tapi kenapa harus bertemu dia di sini?” gumamnya seraya memijit pelipisnya. Kakinya terus melangkah meninggalkan hotel tersebut, ingin rasanya segera menjauh dari sini. “Tunggu, Nadia mana?” Wyla menoleh ke belakang, tapi tak mendapati kehadiran sang asistennya itu. Wyla mendesah pelan dan kembali untuk mencari Nadia. Matanya memicing saat mendapati Nadia tengah berbincang dengan seorang wanita yang terlihat seumuran dengan Tante Abbey, tak hanya itu, ia juga melihat ada Ilyasa di sana. “La, sini!” panggil Nadia. Mau tak mau Wyla pun mendekat. Ia tak melihat pada Ilyasa yang sepertinya memang tengah menatapnya. “Baiklah, kita bicara di kamar saya,” ucap wanita paruh baya itu. Wyla menatap Nadia seolah bertanya apa yang terjadi, kenapa wanita itu memintanya untuk mengikutinya? “Nanti juga kamu akan tahu, ayo,” ucap Nadia yang tahu akan kekhawatiran Wyla. “Makanya jangan kabur, ini urusan belum selesai loh, Sayang,” ucap Ilyasa. Wyla tidak menggubris ucapan Ilyasa, ia memilih untuk melanjutkan perjalanannya mengikuti wanita di depannya. Hingga sampai di sebuah kamar hotel, mereka semua duduk di sofa yang ada. “Jadi, apa tujuan Anda memanggil saya? Apa kita saling mengenal?” tanya Wyla. “Tidak, kita tidak saling mengenal. Nama saya Laila, saya adalah salah satu pemegang saham di hotel ini. Dan saya juga istri pertama dari pria yang akan menikah tadi.” Wyla menaikkan kedua alisnya mendengar ucapan wanita di depannya itu. “Lalu hubungannya dengan saya apa?” tanya Wyla. Wanita itu terkekeh, “Kamu juga ikut andil dalam pernikahan suami saya. Kamu yang membuat gaun untuk pengantin wanitanya bukan?” Wyla mengangguk. “Kenapa Anda bisa membuat gaun untuk seorang perebut suami orang? Apa Anda tidak takut jika akan terkena imbasnya?” Wyla paham dengan apa yang di maksud oleh wanita itu. “Saya menjual, dan saya tidak tahu dan tidak mau tahu urusan pembeli saya. Yang saya butuhkan hanya mendapat konsumen dan uang, soal itu bukan urusan saya, jika Anda wanita terhormat. Maka Anda jangan menyalahkan saya, saya hanya membuka jasa, tidak bisa di salahkan. Jika Anda menyalahkan saya, Anda keliru. Bukan hanya tukang jahit seperti saya saja yang ikut andil dalam pernikahan itu,” ucap Wyla. “Seharusnya Anda, bisa memilih siapa pembeli yang datang ke butik Anda. Takutnya hal ini akan merusak citra Anda sendiri.” Wyla tersenyum tipis. “Jadi tujuan Anda memanggil saya ke sini hanya untuk mengatakan hal ini? Ini rumah tangga Anda, jangan libatkan orang luar dalam masalah Anda. Tanyakan pada suami dan juga diri Anda sendiri, kenapa suami Anda sampai menikah lagi.” Tepat setelah mengatakan hal itu, Wyla berdiri dari duduknya. “Saya tidak menyalahkan Anda. Saya hanya ingin berterima kasih karena Anda menolak memberikan gaun itu padanya, dan–“ “Cukup berterima kasih saja, tanpa harus berbasa-basi. Itu lebih bagus daripada harus memutar kata hingga seolah menjatuhkan saya.” “Sombong sekali kamu anak, muda!” “Jangan meninggikan suara Anda padanya, jika Anda tidak ingin kehilangan saham Anda di sini!” Semua yang ada di sana menoleh ke arah Ilyasa. Wajah pria itu tampak dingin dan juga kaku. Tak terlihat ada ekspresi bar-bar yang seperti Wyla tahu. “Kamu mengenalnya?” tanya wanita itu. “Iya, kenapa?” Wanita itu terkekeh, “Kalau begitu jangan mendekati dia, sepertinya dia tidak cocok untuk–“ “Mulai saat ini, saya akan mencoret Anda dari daftar pemegang saham di hotel saya. Jangan kira saya tidak tahu, jika Anda selama ini mengincar saya!” ucap Ilyasa. Wanita itu merasa tidak nyaman mendengar ucapan Ilyasa, “A-apa maksud kamu?” “Anda mencoba mendekati saya, Anda terlihat menggoda saya, agar saya tertarik pada Anda. Saya tidak bodoh! Saya membiarkan Anda tetap di sini karena saya memang ingin profesional dalam bekerja, tapi saat ini Anda sudah menghina calon istri saya. Jadi mulai hari ini angkat kaki dari hotel saya!” tegas dan jelas, ucapan Ilyasa mampu membuat wanita bernama Laila itu lemas. Bukan lemas akibat lari maraton, melainkan lemas karena ia tak bisa lagi berdekatan dengan pria muda yang ia incar itu. Ilyasa menarik tangan Wyla untuk keluar dari ruangan itu, saat berada di luar ia melihat Reivan di sana. “Apa kamu sudah mengurus semua kekacauan di sini Rei?” “Sudah Tuan.” “Bagus. Sekarang kamu bereskan wanita bernama Laila itu. Jauhkan dia dari jangkauanku, dan jangan biarkan dia kembali ke sini lagi dengan alasan apa pun!” “Baik Tuan.” Wyla melongo melihat hal itu, ia tak menyangka jika Ilyasa bisa bersikap dingin seperti ini, ia hanya diam saja saat tangannya di tarik oleh pria yang semakam melamarnya itu. “Rei? Kok kamu ada di sini?” Reivan menoleh, “Loh, Nadia, kamu di sini juga? Ah iya, kamu kan asistennya Wyla. Apa yang terjadi?” “Tak tahu lah. Oh iya, apa benar jika Ilyasa itu calon suaminya Wyla?” Reivan menatap Nadia, wanita itu dulu sempat satu kelas dengannya dan Ilyasa saat SMA. “Tahu dari mana kamu?” “Dia sendiri yang bilang tadi.” “Tak tahu lah, kita lihat saja nanti,” ucap Reivan. “Apa jadinya kalau kutub Utara dan kulkas sepuluh pintu bersama,” ucap Nadia. Reivan hanya tersenyum tipis saja. Andai saja nadia tahu sifat asli Ilyasa, mungkin Nadia akan beristighfar seribu kali dalam satu jam. Sementara itu kini Ilyasa terus menarik tangan Wyla hingga mereka sampai di restoran hotel, Ilyasa menarik kursi dan meminta Wyla duduk di sana. “Maafkan atas semua kejadian di sini tadi. Aku harap kamu tidak apa-apa.” Masih dengan nada dinginnya, Ilyasa mengatakan itu. Sedangkan Wyla hanya mengangguk saja. Melihat hal itu Ilyasa baru sadar jika ia sudah bersikap dingin di depan sang pujaan hati, “Ah, mau makan apa? Mau makan nasi? Roti? Atau makan aku saja?” Wyla langsung merubah ekspresi wajahnya, yang tadinya terkejut dengan sikap dingin Ilyasa, kini ia kembali merasa ilfil dengan sikap bar-bar pria itu. “Biasa aja kali Neng, lihatin Akang. Nanti Akang bisa meleyot loh,” ucap Ilyasa. “Bodo amat, mau meleyot mau mati juga terserah situ.” “Eits! Tunggu dulu. Makan dulu, gak ada bantahan,” ucap Ilyasa mencegah Wyla yang ingin berdiri. “Aku tidak lapar, aku mau kembali ke butik,” ucap Wyla. “Sayang, mau duduk sendiri atau aku yang akan membuatmu duduk? Atau aku akan–“ “IYA, AKU DUDUK. PUAS KAMU!” ucap Wyla. Ia pun mengikuti apa yang Ilyasa minta, pasalnya pria itu mengatakan dengan nada di gin dan tatapan mematikan. “Puas? Belum dong. Kan belum nikah. Makanya ayo nikah biar aku bisa puas.” Astagfirullah! Wyla hanya bisa beristighfar dalam hati melihat tingkah laku manusia satu ini. Ia hidup sudah selama ini di tengah-tengah orang gesrek semua, tapi kenapa harus bertemu dengan orang gesrek lagi seperti Ilyasa. Apa jadinya jika ia harus menikah dengan pria ini? Pasti astagfirullah terus bawaannya setiap hari. “Ily? Apa itu benar kamu?” “Zamila?” “I miss u My lovely!” “Saya permisi!” ucap Wyla. “La, tunggu–“ “Ily, siapa dia sih? Aku kangen tahu sama kamu!” “Bodo amat! Wyla tunggu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN