Sepulang dari Mall, wajah Wyla di tekuk. Wajah dinginnya terlihat semakin dingin bak berjuang kutub tengah berpelukan dengan balok es lalu bersemayam di gunung es. Kurang dingin apa coba? Anak dari manusia terpanas di dunia, bisa sedingin kutub Utara.
“Wy, jangan pasang muka gitu dong. Aku kedinginan loh!” ucap Fayyana.
Tak ada respons, hanya lirikan tajam, setajam runcing tombak es. Fayyana bergidik ngeri melihat lirikan sepupunya itu. Tak berselang lama mobil yang mereka kendarai pun sampai di pelataran rumah keluarga Nela. Tanpa menoleh, tanpa bersin dan kentut sekalian, Wyla keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumahnya.
“Assalamualaikum!” sapanya.
Meskipun tidak ada manusia di rumahnya, kebiasaan Wyla memang mengucap salam seperti ini.
“Waalaikumsalam.”
Wyla menghentikan langkahnya, ia melihat ada Nelo yang kini tengah duduk di sofa ruang tamu.
“Nde, sudah lama di sini?” tanya Wyla lalu menyalami tangan Nelo.
“Sudah dari jaman Fir’aun pakai sandal emas, sampai Fir’aun mati keselek pasir.”
Bukan Nelo yang menjawab melainkan si Ratu gesrek Arnela Mujiati. Ini manusia satu, meskipun usianya sudah tua, sikap gesreknya tidak pudar dan tidak berkurang, malah bertambah kelihatannya. Mendengar ucapan Sang Bunda, Wyla hanya tersenyum kecil.
“Kamu ini. Muka biasa aja, kalau sama orang boleh lah kamu begitu, ini sama orang tua loh Bong. Berekspresi dikit kek. Lagian kenapa sih kamu bisa kayak gini? Heran deh, tanjakannya siapa sih kamu ini?” dumel Nela.
“Turunan, Nel. Paan coba tanjakan,” ucap Nelo.
“Pokoknya itu lah. Kamu dari mana?” tanya Nela.
“Dari Mall, Bun,” jawab Wyla.
“Semlekom!” ucap Fayyana.
“Semlekom, dengkulmu! Ucap salam yang bener, dasar turunan kanebo kering!” ucap Nela.
“Ish, Tete mah gitu. Assalamualaikum epribadeh!” ucap Fayyana.
“Waalaikumsalam!”
“Loh. Bapak Papa kok ada di sini? Ngapain Pak Pap?” tanya Fayyana.
Beginilah kesehatian kehidupan keluarga besar gesrek. Kagak ada yang bener sikap mereka, mungkin hanya Wyla saja yang waras jika semua keluarga berkumpul. Panji juga sih, tapi hanya lima puluh persen saja kewarasan Panji, karena yang lima puluh persen sudah di gerus oleh Nela.
“Mau jemput kamu lah. Ini jam berapa? Emakmu nyariin noh, katanya mau ikut ke rumah Mbah!” omel Nelo.
“Mbah? Kok aku gak di ajak?” tanya Wyla.
Ya, Mbah mereka memang itu-itu saja. Karena kedua orang tua mereka menikah dengan keluarga satu. Nelo dan Yuli dan Nela dan Panji. Jadi gak ada tuh istilah pulang kampung ke rumah ini itu. Ya kalau pulang kampung ya mereka barengan, toh Kakek Nenek mereka sama.
“Ya monggo kalau mau ikut,” ucap Fayyana.
“Tapi kapan-kapan saja lah. Hari ini aku capek,” ucap Wyla.
“Bocah gemblung! Tadi tanya kenapa gak di ajak, sekarang malah meleyot, gak jelas banget jadi manusia,” ucap Fayyana.
“Sudah-sudah. Jangan ribut, kalau masih mau ribut, sana ambil pisau, saling menusuk noh, biar pro!” ucap Nela.
Ajaran sesat memang, tapi itu ampuh. Dulu saat anak keduanya dan Fayyana bertengkar dan tidak mau di bilangin, Nela langsung mengambil dua benda tajam itu dan memberikan pada keduanya lalu meminta untuk saling menusuk, dan ajaibnya kedua remaja itu langsung diam. Bahkan sampai sekarang pun mereka tidak berani bertengkar di hadapan Nela.
“Protol gitu maksud kamu? Enak aja kalau ngomong. Sudahlah ayo pulang. Nanti Emak kamu ngomel-ngomel lagi,” ucap Nelo mengajak Fayyana pulang.
“Emak Mama itu baik kok Pak Pap. Gak mungkin marah-marah. Palingan juga mencak-mencak yang ada,” ucap Fayyana.
Kesal dengan ucapan sang anak. Nelo menarik tangan Fayyana dan membawanya pulang. Hal itu membuat Wyla menggelengkan kepalanya.
“Bong. Kamu sudah makan?” tanya Nela.
“Sudah Bun,” jawab Wyla.
Dari jaman orok sampai jaman udah bisa ngorok, si Wyla selalu di panggil cebong jika di rumah. Jika anak lain akan marah atau risih, berbeda dengan Wyla dia enjoy saja dipanggil Bang-Bong sama sang Emak. Baginya itu adalah panggilan kesayangan kedua orang tuanya. Ya, meskipun ia tahu bagaimana awal mula panggilan itu tercipta.
“Maafkan Bunda ya Bong,” ucap Nela tiba-tiba.
Wyla menaikan kedua alisnya, menatap sang Bunda yang tiba-tiba saja meminta maaf padanya.
“Bunda kenapa?” tanya Wyla.
“Kamu sudah tahu kan, bagaimana masa lalu Bunda dan Ayah?” tanya Nela.
Tubuh Wyla mendadak kaku. Dari mana sang Bunda tahu soal hal itu.
“Maksud Bunda apa? Wyla gak paham?” tanya Wyla beralasan.
Nela menghela napasnya. Mencoba mengatur nyawanya. Inilah yang ia takutkan sejak dulu. Ternyata ia baru tahu kenapa anak gadisnya itu tiba-tiba berubah menjadi wanita yang di gin dan tertutup. Semua itu karena Wyla sempat mendengar percakapannya dengan di kang Cil dulu. Dan ia baru mengetahui hal itu beberapa hari ini, dari sebuah buku yang ia temukan di kamar anaknya.
“Maafkan Ayah dan Bunda. Terutama Ayahmu, kamu pasti tahu kan bagaimana kamu hadir di dunia ini. Kamu juga pasti tahu bagaimana keadaan kita dulu. Maafkan Bunda dan Ayah Nak. Karena hal itu pula kan, kamu jadi berubah menjadi anak yang di gin dan tertutup. Kamu pasti malu kan menjadi anak kami? Tolong jangan benci kami, Ayah dan Bunda memang salah, tapi percayalah kami sangat menyayangi dirimu. Kami selalu menebus kesalahan kami, tapi hal itu tidak akan bisa terjadi. Maaf kami Nak,” ucap Nela, lalu menangis.
Ia dan Panji awalnya memang ingin menutup masa lalu merek dari kedua anak-anaknya, terutama Wyla. Namun, sepertinya takdir memang mengharuskan mereka untuk jujur. Dan sebelum keduanya jujur Wyla sudah mengetahui dengan sendirinya, tanpa di sadari oleh Nela dan Panji. Bahkan Nela sempat menangis berhari-hari karena, ternyata perubahan sikap anaknya karena mengetahui masa lalu mereka.
Wyla menghela napasnya. Ia tahu semua itu, dan ia juga pernah bertanya soal itu, tapi kedua orang tuanya seolah menutupi fakta itu. Pada akhirnya ia pun diam dan mencoba mencari tahu, keingintahuannya pun berakhir saat kedua orang tuanya membicarakan masa lalu mereka, hal itu membuat Wyla kecewa dan sempat membenci Ayahnya yang tega melakukan hal itu pada sang Bunda. Namun, Wyla tetap diam ia mencoba menyimpan itu semua sendi. Ia mengalihkan rasa benci dan kecewanya dengan bersikap di gin dan tertutup.
“Loh, ada apa ini? Kok Bunda nangis?” tanya Panji yang baru saja datang.
Nela menatap Panji seolah memberi isyarat jika anaknya memang sudah mengetahui masa lalu mereka. Panji paham, ia menatap anak gadisnya yang baru ia ketahui saat berusia satu tahun.
“Wy, maafkan Ayah,” ucap Panji.
Air mata Wyla pun luruh. Inilah yang ia inginkan, inilah yang ia tunggu. Kata maaf dari sang Ayah, kata penyesalan dari sang ayah. Rasa kecewanya pada ayahnya yang selama ini ia pendam seolah terdorong keluar menjadi air mata yang kini mengalir di pipi mulusnya.
“Kenapa Ayah melakukan itu? Kenapa Ayah harus menyiksa Bunda? Kenapa aku harus hadir di saat Bunda terpuruk, apa salah kami pada Ayah?” tanya Wyla.
Pertanyaan yang sudah bertahun-tahun ia pendam kini ia keluarkan. Sebenarnya itu bukanlah ranahnya, semua itu masa lalu kedua orang tuanya. Selain itu semua itu sudah menjadi takdirnya. Namun, entah mengapa hatinya ingin tahu semua yang terjadi di masa lalu kedua orang tuanya.
“Maafkan Ayah. Kehadiranmu memang kesalahan Ayah,” ucap Panji.
“Aku kecewa dan benci pada kalian, aku kecewa pada Bunda dan aku benci pada Ayah. Apa kalian tahu apa yang aku rasakan? Aku anak perempuan, cinta pertamaku adalah Ayah. Suatu saat jika aku menikah Ayah adalah orang yang akan menikahkanku, tapi apa? Ayah ada masih hidup dan sehat, tapi aku tidak berhak atas Ayah, nazabku bukan milik Ayah. Apa membenci kenyataan itu, Yah! Kenapa harus begini, kenapa?” ucap Wyla.
Ia menangis sesenggukan, Wyla tidak bisa meraung atau marah berlebihan. Ia sudah di setel jadi wanita dingin dan anggun. Jadi marah pun, ia terlihat anggun.
Panji membawa Wyla dalam pelukannya, ia tahu jika ia sudah menorehkan luka pada kedua wanita yang sangat ia cintai, yaitu Nela istrinya dan Wyla putrinya. Tangisan Wyla semakin kencang tak kala Panji selalu mengucapkan kata maaf padanya. Hingga pada akhirnya Wyla mengurai pelukan ayahnya.
“Ceritakan padaku bagaimana semuanya. Selama ini aku hanya ingin tahu semuanya, tapi kalian justru menutup semua itu,” ucap Wyla.
“Baiklah Nak. Kami akan menceritakan semuanya, tapi sebelumnya maafkan kami,” ucap Nela.