Jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Bram dan keluarga sudah berada di restoran mewah menunggu keluarga pranata. Sesuai janji dua keluarga akan menjodohkan anak mereka.
" Haduh mana sih pa, enggak datang datang. Baru perkenalan keluarga aja sudah enggak di hargai. Kita nunggu lama. " Kata bram jengkel
" Bram. Kamu diam aja. Duduk ! Sebentar lagi juga dat….. "
Perkataan papa Bram terpotong karena kehadiran keluarga pranata.
" Selamat malam, maaf kami terlambat. Ini nunggu dea dandan lama banget hehehe .......… "
" Eh selamat datang, iya enggak apa - apa kan mau ketemu calon suami ya harus cantik dong. Iya kan Dea ? " Kata mama Bram
" Ya udah ayok silahkan duduk. Kita mulai aja makan malamnya, Bram udah laper nih ha..ha...ha " canda kata papa Bram mencairkan suasana. Bram yang di pakai bahan pembicaraan pun melotot kearah papanya. Bram tidak menggubris dengan kehadiran wanita cantik di depannya karena tidak tertarik.
Mereka mulai makan malamnya yang sudah di hidangkan dengan penuh canda tawa. Dan setelah selesai makan. Inilah waktunya acara penting dimulai.
" Bram,kenalkan wanita yang di depanmu ini namanya Dea, dia calon istrimu.c" Kata papa bram. Bram yang mengulurkan tangan sambil menekuk wajahnya.
" Bram "
" Dea " akhirnya mereka berkenalan. Wajah Dea yang pemalu dan cantik terlihat senang melihat sosok Bram yang ganteng dan punya tubuh yang seksi.
Bram melanjutkan makannya yang sebenarnya dia gak nafsu makan. Tapi dia berusaha menghindari suasana ini dengan menyibukkan diri makan.
" Bram, makan trus dari tadi. Ngobrol dong sama Dea, masak cewek secantik dea dianggurin sih " canda papa Dea membuat ruangan pecah karena tawa mereka
" Ya om, Bram enggak tau mau ngbrol apa "
" Drttttt ..….. drrrt …… " hp bram bunyi tanda pesan masuk dan itu dari pritty.
" Mas kamu lagi apa ? Sudah makan belim ? Saya masak tempe goreng sama sambal dan tumis sawi nih " isi pesan wa pritty
Bram rasanya ingin meneteskan air liur karena membayangkan masakan pritty yang nikmat.
" Ma, pa bram harus pergi ada kerjaan kantor yang mendesak. Om, tante, dea. Saya pamit dulu ya "
Bram segera berlari menuju parkiran mobil tanpa memberi kesempatan papa mamanya bicara. Raut wajah djarot seperti emosi dan malu dengan keluarga pranata.
" Maafkan anak saya ya. Ya begitulah kalau sudah menyangkut kerjaan seperti istri kedua. "
" Enggak apa - apa santai aja bung, saya juga pernah muda. " Heheh…. Jawab pranata
Bram segera meluncur ke rumah Pritty dengan perasaan lega dan senang karena bisa melarikan diri dari acara konyol itu.
f