24. Jantung Olivia

828 Kata

Jajaran batu nisan tertata rapi seakan tampak seperti barisan semut. Pohon-pohon kamboja yang menjadi saksi bisu kehidupan setelah kematian itu berdiri kokoh. Menengadah angkuh ke langit lepas. Awan-awan berkumpul dan masih saja kelabu, tampaknya sebentar lagi tangisan langit kan meluruh. Rehan menyusuri kompleks pemakaman itu dengan bibir bergetar. Ya, lelaki itu telah tiba di tempat peristirahatan terakhir Olivia. Manik matanya memandang lurus hamparan pusara, dan berhenti di satu titik. Atmosfir di sana tampak berbeda, banyak peziarah yang datang. Namun, Rehan merasa sangat kesepian. "Sayang, aku datang. Lihat, aku membawakan bunga. Apa kamu menyukainya My Lovely Olivia?" Rehan membungkuk dan meletakkan bunga itu tepat di bawah pusara Olivia. Lelaki itu mengusap lembut nisan dan memb

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN