Dia tidak punya cara lain selain menyingkirkan kaki – yang mungkin akan membawa petaka – menjauh dari pahanya. Naasnya kaki itu kembali nangkring lagi, bahkan tangannya pun ikut-ikutan nangkring di atas dadanya, mengusap-usapnya pula. For god’s sake. Hati Dante menjerit. Sungguh, cobaan Dante luar biasa kali ini. Niatnya hanya berbohong sedikit, mengatakan jika Zane serta adiknya menginap, sehingga ia bisa berada satu kamar dengan Jena. Lantaran selama pacaran dulu, mereka tidak pernah satu kamar atau bahkan satu ranjang. Namun apa yang dia dapatkan? “Sumpah, aku akan membalasmu begitu bangun besok. Nikmatilah mimpimu … Sayang?” “Ah ….” — — Dante terlihat duduk di kursi kerjanya, melihat beberapa rekam medis yang disiapkan asisten perawatnya. Jangan ditanya bagaimana wajah pria i

