Acacia duduk di tepi danau yang ada di taman belakang kerajaan. Dia menatap hamparan danau yang indah itu dengan tatapan kosong. Bayangan pertumpahan darah yang terjadi sebulan yang lalu masih membekas di benaknya. Baru kali ini, dia membunuh seseorang. Walaupun dia tau, itu bukan salahnya. Ibunya sudah dia temukan. Kondisinya saat itu sangatlah buruk, hingga Aleva, ibu Acacia memilih memejamkan matanya untuk selama-lamanya dan menyusul Arthur suani tercintanya. Acacia sungguh sedih, namun dia tidak ingin larut dalam kesedihannya karena perjalanannya masih panjang. Sebelum benar-benar menghembuskan napas terakhirnya, Aleva sempat mengobrol kepadanya. Hanya menglbrol singkat tapi berkisah bagi Acacia. "Acacia, Putriku. Maafkan aku tidak pernah menemani masa kecilmu dan malah ketika ak

