“Aduh,” keluh Ujang. Sakit dan malu bercampur jadi satu. “Astagfirullah, Jang,” pekik Asmi. Buru-buru menghampiri Ujang yang tertelungkup mencium lantai. “Gak apa-apa, Teh,” ucapnya. Kepalanya yang pusing tambah muter. Asmi semakin panik kala melihat darah keluar deras dari hidung Ujang. Cairan merah itu mengotori seragamnya, tetes demi tetes mengotori lantai keramik. Asmi berdiri dan meraih tisu di meja. Dengan telaten wanita itu membersihkan hidung Ujang. Ujang sendiri membeku, belum pernah dia diperlakukan seperti itu oleh perempuan mana pun selain Mak Lala. Ujang meraih tangan Asmi, lembut sekali. Mereka saling bertatapan, adegannya persis seperti di sinetron yang sering Mak Lala lihat di salah satu stasiun televisi. Mereka terus bertatapan hingga wajah Ujang semakin dekat, janga

