Aldrick, Kekuatan Super dan Kota Graha

3191 Kata
Seorang kakek berbaju lusuh menyerahkan sebuah benda kecil berbentuk ring kepadanya. Ya, hanya sebuah cincin emas berhiaskan batu permata kecil berwarna biru safir yang tanpa pikir panjang langsung dia terima. "Apa ini, Kek?" "Pakailah. Maka niscaya benda ini akan sangat bermanfaat untukmu. Kau hanya perlu mengusapnya sekali maka keajaiban itu akan kau dapati." Terperanjat dan begitu saja bangun dari tidur singkatnya. Aldrick Harico, mengusap wajahnya kasar. Bulir-bulir keringat membasahi pelipis serta dahinya. Mimpi itu lagi yang selalu datang menghantui hingga terkadang membuat Al, begitu lelaki berusia tiga puluh tahun itu biasa disapa, takut hanya untuk sekedar pergi tidur. Bahkan ini sudah beberapa tahun berlalu semenjak peristiwa mencengangkan sekaligus membingungkan baginya. Begitu saja Al mengangkat jari-jari besarnya. Menatap pantulan benda emas yang melingkar di jari manisnya. Tak ada yang spesial hingga banyak orang yang tertipu acapkali melihatnya. Ya, betapa tidak, jika setiap mata yang memandang keberadaan cincin itu selalu menyangka jika Al sudah menikah. Itu sebab Al memasangnya di jari manis bukan di jarinya yang lain. Al sudah mencoba memasang di hampir semua jarinya. Namun, hanya jari manis di tangan kirinya saja yang bisa disinggahi oleh cincin emas itu. Sesungguhnya tak ada hal istimewa dari yang namanya sebuah cincin. Hanya saja setelah kejadian waktu itu, Al menyadari ada yang beruabah dalam dirinya. Perubahan pada tubuhnya lebih tepat. Beberapa kali kejadian tak terduga Al alami hingga membuat lelaki itu pusing tujuh keliling. Suara alarm dari sebuah jam weker yang bertengger di atas nakas berbunyi dengan nyaringnya. Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Sebenarnya ini memang jamnya ia untuk bangun. Hanya saja karena rasa takutnya, Al tak berani pergi tidur sejak semalam. Barulah di jam tiga dini hari, Al sanggup memejamkan mata meski lagi-lagi mimpi itu terasa nyata hadir dalam tidurnya. Mengabaikan denyutan di kepala, karena tidak ingin terlambat, bergegas Al menurunkan kaki dari atas ranjang sempitnya. Tubuh kekar berotot yang mendiami ranjang kecil di dalam sebuah barak sebenarnya tak layak untuk ia tiduri. Namun, tak ada pilihan lagi karena di tempat ini hampir semua tempat yang ada sama ukurannya. Al tidak seorang diri berada di sebuah barak khusus tentara. Ada sekitar seratus anggota tentara yang mendiami barak ini. Lelaki berbadan tegab bermata coklat itu memasuki kamar mandi pribadi yang menjadi satu di dalam kamar tidurnya. Harus segera mandi jika ia tak ingin terlambat apel pagi yang rutin dilakukan di setiap jam tujuh pagi. Tak butuh waktu lama bagi Al untuk menjalankan rutinitas paginya. Karena kini lelaki itu telah berkumpul di tengah lapangan bersama para anggota tentara yang lainnya. Melakukan apel pagi disertai olahraga rutin untuk menyehatkan badan. Menjadi seorang tentara sebenarnya bukanlah cita-cita Al. Karena sejak ia kecil, Al sudah bercita-cita menjadi seorang pengusaha. Namun, sebuah insiden yang memaksa Al remaja mengambil keputusan di luar dari keinginanya. Mendaftar sebagai wajib militer dan sekarang sudah sepuluh tahun lamanya ia mendedikasikan diri sebagai seorang tentara. "Duh ... Auw....!" pekikan kecil terlontar dari mulut Al, disertai dengan lutut yang membentur tanah. Ya, ia terjatuh karena tak fokus sedari tadi. "Kau kenapa?" sebuah tanya juga tepukan di punggung membuat Al mendongak dari posisi jongkok saat ini. Senyum yang ia paksa diberikan pada seorang rekan sesama tentara yang kini tengah peduli kepadanya. "Aku tak apa. Hanya tersandung kakiku sendiri." Al menjawab sekenanya karena melihat rekan kerjanya yang bernama Bray tampak khawatir memandang. Uluran tangan Bray disambut antusias oleh Al. Ia kembali bisa bangkit berdiri dan melanjutkan aktifitas paginya kali ini. *** Di sebuah ruang besar yang didominasi dengan warna cat dinding putih dan beberapa ornamen khas tentara tertempel di setiap sudut dalam ruangan ini. Lemari kaca yang memenuhi di salah satu bagian ruangan, menampilkan deretan piala juga piagam penghargaan yang didapat dari semua ajang perlombaan. "Duduklah!" titah seseorang yang sedang duduk dengan gagah di sebuah kursi kerja berwarna hitam, di mana kursi dengan tampilan kokoh menggambarkan sang empunya. Kursi putar yang siapa saja berhasil mendudukinya, maka dapat dipastikan jika seseorang tersebut adalah pemegang tertinggi jabatan di kantor kedinasan tersebut. "Siap laksanakan!" tegas Al menjawab. Al yang kini telah duduk di kursi yang telah disediakan, dibatasi oleh sebuah meja persegi panjang yang di atasnya terdapat banyak tumpukan kertas berserakan yang Al tak tahu entah apa isinya. Pria di hadapan Al tampak fokus, lalu menarik kursi agar lebih dekat jaraknya dengan Al. Sampai perutnya yang sedikit membuncit terbentur pinggiran meja kerja. "Apa kau tahu kenapa aku memanggilmu,Al?" tanya pria dengan rambut klimis itu. Tentu saja Al tak tahu. Bahkan keberadaannya di sini juga karena info dari salah satu rekan yang sengaja mencarinya di kantin tadi saat dia sedang menikmati sarapan pagi. "Siap, tidak tahu!" jawaban yang sangat tegas dan lugas terlontar dari mulut Al. Meski dalam posisi duduk, posisi Al tetap harus dengan punggung tegak agar terlihat berwibawa dan tegas. Sikap yang patut di tunjukkan oleh seorang tentara terlatih seperti dirinya. "Al ... jadi, ada hal penting yang harus saku sampaikan padamu. Baru saja aku mendapat telepon dari pusat. Mengatakan jika mereka membutuhkan personil untuk diberangkatkan di kota Graha. Kota itu telah lama mati akibat ulah segelintir orang yang hanya mengadu domba pemerintahan dengan militer, sehingga sering terjadi kerusuhan juga bencana besar-besaran. Mereka kekurangan personil militer sehingga terpaksa meminta bantuan pada kita. Setelah aku pikirkan lagi, kurasa kaulah orang yang tepat untuk memimpin pasukan dan berangkat ke sana. Kau adalah ketua yang hebat dan tak akan aku ragukan lagi bagaimana kemampuanmu." Al hanya diam. Dia menunggu sampai sang atasan melanjutkan penjelasannya. "Jadi ... apakah kau siap berangkat, Al?" Apakah Al memiliki pilihan jawaban? Tentu saja tidak. Dan menolak pun tak akan kuasa Al ucapkan. Karir baginya sangatlah utama di atas kepentingan pribadinya. Tugas adalah hidupnya. Di mana ia telah berjanji akan melindungi siapa saja yang tertindas dan membutuhkan bantuannya. Janji pada dirinya sendiri yang harus Al tepati. Janji yang pada akhirnya mengantarkan ia menjadi seorang penyelamat dunia. Kepala pria itu mengangguk mantap seraya berkata, "Ya, saya siap laksanakan." Seorang komandan tentara yang langsung berbinar wajahnya serta menunjukan senyuman lebar mendapat jawaban dari Aldrick. Prajurit kebanggaannya. Dia yakin misi yang akan di emban oleh Al kali ini akan berhasil dan selalu memuaskan seperti misi-misi sebelumnya. Al yang sangat membanggakan sehingga tak heran jika karirnya begitu cemerlang. Menjadi prajurit tentara muda yang berprestasi karena banyaknya hal yang telah ia lakukan untuk negara. Mendamaikan pertikaian dan peperangan juga kekisruhan akibat perang saudara serta masih banyak lagi jasa Al untuk negara ini. **** Kota mati. Begitulah Al menyebut tempat yang sekarang ia singgahi. Turun dari sebuah heli yang mendarat tepat di tanah kosong luas berada jauh dari pemukiman. Kaca mata hitam masih bertengger di atas hidungnya, sepatu booth yang ia kenakan menjejak tanah yang kini siap menyambut kehadirannya. Mata Al mengawasi kondisi sekitar. Aman. Batinnya. Barulah ia memberikan instruksi pada anggotanya yang berjumlah dua puluh orang untuk ikut turun bersamanya. Satu per satu mereka meloncat turun dari atas heli dan mendarat tepat di sisi tubuh Al. Ya, mulai hari ini petualangan Al beserta kedua puluh anggotanya akan dimulai. Kota Graha, sebenarnya tidak asing lagi buat Al karena di kota ini dia lahir, tumbuh dan dibesarkan. Al pejamkan matanya berusaha menghalau semua masa lalu yang membuat dirinya trauma. Kota yang menjadi alasan bagi Al untuk pergi dan masuk dalam dunia militer. Sebuah alasan kuat yang menjadikan Al bertekad akan melakukan yang terbaik untuk menyelematkan kembali kota ini. Dua buah heli yang tadi mengantarkan mereka masih berada tak jauh darinya. Pandangan Al mengedar ke seluruh sudut kota yang sudah jauh berbeda dari saat dirinya tinggalkan sepuluh tahun silam. Al memberikan perintah pada anak buahnya. Semua harus bersiap karena di kota ini mereka tak boleh lengah. Sesuai instruksi dari sang atasan yang tadi memerintahkannya, sekarang yang harus Al lakukan adalah menemui ketua militer yang bertugas di kota ini. Sebuah bangunan megah bergaya klasik didominasi dengan warna cat hijau tua, Al memasuki gedung tersebut setelah ia meninggalkan para anak buahnya. Ada sepucuk surat yang harus ia serahkan sebagai perintah dari sang komandan. "Aldrick, terima kasih atas kedatangan kalian di kota ini," ucap seorang perwira tentara yang kini duduk di hadapan Al. Lelaki berusia hampir setengah abad itu tampak antusias dengan kedatangan Aldrick beserta rombongan. "Saya akan melakukan semua tugas-tugas yang telah saya emban dengan sebaik-baiknya." "Aku yakin kau mampu melakukannya, Al. Sedikit informasi yang harus saya bagi denganmu. Kota ini penuh dengan kekacauan. Bahkan pemerintah pun sudah angkat tangan. Semua telah diambil alih oleh Mobogengs." Kening Aldrick mengernyit mendengar penjelasan perwira tentara di mana papan nama yang tertulis adalah Abadi. "Mobogengs?" Aldrick bertanya. Komandan tempatnya berdinas tidak memberikan penjelasan secara rinci dengan apa yang terjadi di dalam pemerintahan kota mati ini. Hanya sedikit gambaran kekacauan yang memang telah terjadi di sini sejak dulu kala hingga membuat petugas militer dan pihak keamanan angkat tangan tanda menyerah. "Mobogengs, gangster yang telah lama mendiami kota ini. Dulu mereka sempat ditumpas. Namun, beberapa tahun belakangan geng mereka kembali berulah. Kali ini cukup parah. Kota Graha benar-benar menjadi kota mati yang tak menghasilkan apa-apa lagi. Semua masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara yang kaya akan semakin kaya karena berada di bawah kendali Mobogengs. Saya rasa untuk menumpas semua kejahatan yang telah dilakukan oleh Mobogengs tak bisa kami atasi sendiri. Oleh sebab itulah kami meminta bantuanmu." Al mengaangguk mengerti. Sangat rumit semua yang telah terjadi. Dan sepertinya ia harus berkerja keras untuk menumpas semua kejahatan Mobogengs. "Al, kuharap keberadaan kalian di sini bisa mengatasi semua ulah Mobogengs. Kami di sini benar-benar sudah kuwalahan. Terlebih pemerintahan yang sekarang berada dalam kendali mereka. Militer tak bisa berbuat banyak untuk menumpas semua kejahatan yang mereka buat. Jika kondisi ini tetap dibiarkan maka kota ini akan lebih hancur lagi. Dan kehancuran kota ini dapat memicu kehancuran negara. Sebagai militer tentu kita tak ingin hal itu terjadi. Tugas kita adalah mendamaikan dan menyelamatkan negara dari kehancuran. Bukankah begitu, Al?" Al mengangguk membenarkan. "Saya akan melakukan semua yang terbaik untuk negara ini." "Terima kasih, Al." *** Hari pertama Al berada di kota Graha, semua masih berjalan baik-baik saja. Belum terlihat adanya hal ganjil, terlebih aksi dari Mobogengs yang Al dengar dari cerita perwira tentara. Hari pertama yang Al habiskan untuk mempersiapkan diri juga para anggotanya jangan sampai mereka semua kaget akan apa yang nantinya mereka hadapi. Menurut Al, Mobogengs ini bukanlah geng sembarangan. Menurut kabar dan selentingan cerita, geng yang telah merusak anak bangsa di mana perilaku perdagangan manusia telah lama mereka lakukan. Selain itu segala macam jenis perampokan juga penyelundupan mereka yang merajai. Sangat miris memang. Kota Graha yang dulu di saat Al masih kecil merupakan kota padat penduduk yang sangat kaya akan limpahan hasil bumi juga banyaknya pelaku industri yang membuat kota Graha menjadi kota maju dengan taraf ekonomi di atas rata-rata. Hanya saja karena suatu sebab semua hancur berantakan. Termasuk di dalamnya hampir semua pengusaha menjadi incaran. Keluarga Al merupakan keluarga pengusaha terkenal yang telah sukses mendirikan beberapa macam jenis usaha. Melakukan ekspor impor hampir di setiap bidang usaha. Dan kekacauan itu muncul kala perusuh yang mengatas namakan perompak datang menghancurkan semua. Mereka tak segan merampok atau melukai sampai melakukan pembunuhan demi misi yang di jalani. Keluarga Al menjadi korban. Dan karena itulah, sejak peristiwa yang merenggut semua anggota keluarga termasuk di dalamnya Papa, Mama dan juga adik perempuan Al, membuat pria itu bertekad akan menumpas semua kejahatan yang ada di muka bumi ini. Tekad yang kuat menjadikan Al sebagai tentara milter yang sangat disegani karena banyaknya hal yang telah ia lakukan dalam menumpas kejahatan. Al tak pernah gentar menghadapi musuh yang menyerang. Berkali-kali Al mendapat mandat mendamaikan perseteruan. Dan semua berhasil ia kalahkan. Tak ada yang gagal dalam semua misi yang Al jalani. Sehingga misi menumpas Mobogengs ini pun Al tak ingin lengah dan tak ingin gagal. Ia harus berhasil menjadi penyelamat untuk semua. Lihatlah betapa sekarang kota Graha yang seolah tak ada kehidupan. Banyak penduduknya memilih pindah ke tempat lain yang dirasa lebih aman. Karena berada di kota ini serasa berada di dalam neraka yang apapun mereka lakukan selalu mendapatkan cobaan. Sore ini hanya seorang diri Al memberanikan diri mengelilingi pusat kota Graha. Jujur ia sangat merindukan kota kelahirannya. Beberapa pertokoan yang tampak kusam tak terawat karena ditinggalkan pemiliknya, juga taman kota yang sangat miris Al melihatnya. Dalam hati Al bertanya kenapa semua jadi berubah seperti ini. Bukannya berubah semakin maju justru ini mengalami kemunduran. Kenapa pemerintah hanya diam tak melakukan tindakan apa pun juga untuk memajukan kembali kota Graha. Ah, entahlah. Al tak paham dan tak bisa berpikir lebih jauh lagi. Suara berisik rong-rongan mesin motor mengalihkan perhatian Al. Ada sekitar lima motor besar yang ditunggangi oleh masing-masing laki-laki bertato dan berperawakan seram. Al diam di tempat ketika ke lima motor besar itu kini mengelilinginya. Mereka semua tertawa-tawa dengan sangat nyaring membuat Al ingin sekali menyumpal telinganya. Kebisingan yang ditimbulkan sempat menarik perhatian beberapa orang yang sedang melintas atau tengah berada di dalam rumah mereka dan hanya berani mengintip melalui jendela. Al tahu itu karena mata elangnya tak akan mampu membohongi. Ia bisa melihat apa pun dalam jarah jauh. "Serahkan dompet dan barang-barang berhargamu!" pinta salah seorang lelaki dengan kedua lengan dipenuhi tato. Baju yang tampak kumal dengan celana jins sobek di mana-mana serta jaket yang membalut tubuh mereka, menandakan jika mereka ini adalah kawanan perampok. Al bisa tahu itu dan dari sinilah Al paham kenapa penduduk kota memilih meninggalkan tempat tinggalnya karena enggan berhadapan dengan manusia sejenis mereka. Al hanya diam dengan mata menelisik satu per satu wajah-wajah sangar yang sedikit pun tak membuat Al gentar. Motor yang sejak tadi meraung kini mulai meredam karena mesinnya yang dimatikan. Kelima lelaki yang turun dari atas kuda besi, kini mengelilinginya dengan pandangan menakutkan. "Kau pasti warga baru di sini, kan?" tanya satu orang lelaki lain yang memakai jaket berwarna hitam. Sementara yang lainnya mengamati Al dengan menelisik penampilan serta wajah Al. Tawa sinis tak lepas dari bibir kelimanya. Ya, mereka tak tahu saja jika Al adalah salah satu anggota tentara karena penampilan Al yang sekarang memang biasa-biasa saja. Hanya kemeja dan celana jins. Terlihat rapi untuk ukuran seorang lelaki. "Kau tulii atau bodoh! Aku katakan padamu sekali lagi. Serahkan semua barang-barang berhargamu pada kami!" hardik mereka tak membuat Al merasa takut sedikit pun. Al menghela napas sebelum menjawab apa yang mereka minta. "Aku tak ada barang berharga yang bisa aku berikan pada kalian." Nada Al yang begitu halus tak ada kesan gentar atau pun takut. Membuat kelima lelaki itu tertawa secara bersamaan, lalu salah satunya mengejek Al. "Berani kau membohongi kami, hah!" Dengan satu kedipan mata seolah memberi isyarat pada anggota gengnya, kelima orang itu mulai menyerang Al. Aldrick yang sejak tadi sudah waspada bersiap melawan mereka semua. Tak ada rasa takut sedikit pun dan juga tak gentar menghadapi lawan. Pukulan demi pukulan yang mereka layangkan berhasil ditangkis oleh Al dengan sangat baik. "Punya nyali juga rupanya kau, hah!" hardik seorang lelaki dengan kumis dan berewok memenuhi wajahnya. Wajahnya tampak menyeramkan dengan mata melotot tajam. "Aku hanya ingin mempertahankan diriku dari serangan kalian. Bukan aku yang memulai. Tapi kalian sendiri yang mencari masalah denganku." "Banyak omong kau!" Satu tendangan singgah di perut Al membuat Al yang tidak siap harus meringkuk, menunduk memegangi perutnya. Terasa nyeri tapi Al tetap harus waspada untuk serangan berikutnya. Al tahu jika mereka tak akan tinggal diam karena merasa dilawan. Dari ekor matanya, Al mampu melihat jika mereka kembali maju dan menyerangnya. Saat itulah Al seolah kehilangan jati diri yang sesungguhnya. Hanya dengan usapan pada cincin bermata biru di jari manisnya, Al merasa bagai disengat aliran listrik bertegangan tinggi sampai membuatnya kejang satu kali. Al menegakkan kembali badannya. Siap menghadapi para musuh yang masih menatap marah kepadanya. Otot-otot tubuh Al yang mulai menyembul dari balik baju yang ia kenakan membuat salah seorang anggota geng yang memukulnya terpental. Terjungkal begitu saja di atas aspal. Keempat temannya melotot tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Marah dengan apa yang terjadi pada salah satu anggota geng mereka yang terkapar tak berdaya. Empat orang lainnya dengan bersamaan maju menyerang Al. Ada yang menendang, memukul dan Al tak mau tinggal diam. Ia menangkis juga melawan memberikan pukulan yang langsung membuat keempatnya limbung ikut terpental dengan jarak beberapa meter dari tubuh Al. Nyali mereka mulai mengkerut, saling pandang satu dengan yang lainnya dengan bibir meringis menahan nyeri juga memegangi bagian tubuhnya yang terasa remuk karena pukulan Al yang bertenaga di atas rata-rata. Sepakat kelimanya berjalan tertatih dan kembali menunggangi motor besar yang tadi mereka bawa. Menyalakan mesinnya dan meraung meninggalkan Al satu per satu. Asap mengepul di udara akibat knalpot motor mereka. Al hanya memandang kelimanya yang mulai menghilang dari pandangan sambil menggelengkan kepala. Ia sendiri tak paham dari mana mendapat kekuatan sampai mampu membuat musuh kalah kabut pergi meninggalkanya. Tubuh Al yang seolah tahan pukulan hanya akan membuat siapa pun yang menyerangnya akan tersakiti sendiri. Al mengangkat telapak tangan kanannya. Menatap pantulan cincin emas berhiaskan batu permata yang lebih menyerupai sebuah cincin batu akik. Namun, cincin miliknya tampak berkilau jika diterpa cahaya. Apakah karena benda ini ia memiliki kekuatan super yang menjadikannya lelaki tangguh tak tertandingi? Dulunya, Al tidak begini. Semenjak mimpi itu dan keberadaan benda berupa cincin yang kini menemani, menjadikan Al seolah ada yang melindungi. Al menghela napas panjang, lalu ia pun meninggalkan tempat itu. Ia harus kembali ke barak utama di mana dia bersama para prajurit militer tinggal selama berada di kota ini. Ia takut jika anggotanya mencari keberadaan dirinya yang tadi pergi tanpa pamit. Setidaknya Al sudah cukup tahu dengan apa yang terjadi di kota ini. Dan ia harus menyusun strategi selama bertugas di tempat ini. Sekarang kawanan gengster yang harus ia tumpas keberadaannya agar penduduk kota ini merasa kembali menemukan kenyamanan. Tak lagi ada yang mengganggu atau menghancurkan. Dalam hati Al berjanji akan mengembalikan kota ini seperti dulu lagi. Saat seperti dia masih kecil dan tumbuh besar di kota ini. "Dari mana saja kau, Al?" tanya Bray kala mendapati Al memasuki barak utama. Ya, Bray adalah anggota tentara yang juga ikut bersama Al dalam misi mereka kali ini. "Aku hanya ingin berjalan-jalan saja melihat suasana kota yang entah aku miris sekali melihatnya. Tak ada apapun juga yang menarik dari kota ini. Namun, kenapa para komplotan gengster itu sangat betah sekali berada di sini." Al duduk di salah satu kursi yang berdampingan bersama Bray. "Karena di kota ini mereka merasa terlindungi. Apa kau tak paham jika pemerintah juga tak bisa berbuat banyak dalam hal ini. Seolah mendukung keberadaan mereka. Jika di kota atau negara lain, keberadaan mereka pasti akan ditumpas sampai habis. Tapi, di kota ini mereka mendapat perlindungan." Benar juga apa yang Bray maksudkan. Jika terus-terusan seperti ini maka kasihan penduduk kota yang merasa terganggu juga menjadi tersiksa karena kekejaman pemerintah dan anggota gengster. Pemerintah yang telah berhasil di adu domba dengan anggota militer agar negara hancur. Itu yang sebenarnya menjadi tujuan utama para perusuh negara. "Ini tak bisa dibiarkan. Kondisi seperti ini akan semakin buruk jika kita tak membantu dan menumpas para pemberontak." "Ya, kau benar, Al. Untuk itulah kita berada di sini. Berkerja sama secara baik dengan pihak militer dan merebut kembali kota ini. Kita tumpas kejahatan dan para perusuh negara yang hanya akan menghancurkan kedamaian." Bray dan Al saling diam dengan pemikiran mereka masing-masing. Berada di kota ini menjalankan misi tak semudah yang mereka bayangkan. Ada banyak hal yang masih menjadi misteri dan perlu mereka pecahkan. Yang jelas, mereka tak boleh terprovokasi hingga membuat kebersamaan mereka terpecah belah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN