Salma, Melisa, dan Zee tak sedikit pun mengalihkan pandangan mereka dari Arlan yang kini tengah tertidur dengan pulasnya. Padahal jam digital yang terletak di meja kecil samping tempat tidur Arlan baru menunjukan pukul 20.35, mungkin karena efek minum obat. Melihat laki-laki itu tertidur lebih baik, daripada melihatnya mengerang kesakitan seperti tadi. "Arlan itu anak pendiam yang nggak bisa diam. Dulu, sewaktu masih duduk di bangku SMP, sebelum penyakit ini menyerang Arlan begitu senang berolahraga. Basket, sepak bola, tak jarang ia berlari sekitar kompleks perumahan meskipun semua kegiatan itu cuma dilakukan berdua sama Gilang. Arlan tidak punya banyak teman. Hanya Gilang satu-satunya orang yang mau berteman dengan Arlan." Salma mulai bercerita. "Kenapa, Nek?" Zee refleks bertanya. "T

