Sikap Frans membuat Karin takut. Dia pikir Frans akan memaksa dirinya untuk melakukan apa yang dia inginkan, tetapi ternyata tidak. Setelah membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan kasar, Frans justru hanya diam berdiri di ujung ranjang, menatapnya seperti singa sedang kelaparan.
"Maafkan aku, Mas," lirih Karin seraya beringsut merubah posisinya menjadi duduk, lalu Frans menghampirinya, duduk di tepian ranjang.
"Aku memang menginginkan kamu, Rin. Tapi tidak dengan cara seperti ini, Aku mau kamu sama-sama menikmatinya, menyerahkan jiwa dan raga kamu karena memang kamu mencintai aku, bukan karena terpaksa."
"Terima kasih, kamu begitu menghargai aku," ungkap Karin seraya menundukkan wajahnya.
"Aku selalu menghargai kamu, hati kamu yang sulit tersentuh oleh kebaikan aku."
"Aku sedang berusaha, Mas."
"Akan aku tunggu." Frans mengangkat tangannya, mengusap lembut pipi Karin, lalu bertanya, "Kamu mau menemui mantan suamimu?"
"Iya, Mas."
"Aku antar. Tolong kali ini kabulkan permintaan aku."
Karena Frans sudah bersikap baik kepadanya, Karin pun mengangguk setuju. "Baiklah. Antar aku menemui mas Dani."
Frans tersenyum lebar, kalau mengucapkan ucapan terima kasih. "Terima kasih."
***
Menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya mereka pun sampai ke tempat tujuan. Di sebuah kontrakan di mana Dani tinggal. Karin keluar dari mobil lebih dulu, diikuti oleh Frans dari belakang.
"Mas! Mas Dani!" Karin berteriak dari luar sambil mengetuk pintu.
Tidak lama pintu pun terbuka, spontan Karin ingin memeluk Dani, dengan gerakan cepat Frans menahan dengan menarik tangannya. "Jaga sikap kamu, Karin."
"Maaf."
Frans melepaskan tangan Karin, lalu Karin mulai bicara menanyakan kabar Dani. "Gimana kabar kamu, Mas?"
"Baik, bagaimana kamu bisa sampai ke sini, Rin? Kamu hanya akan menyakiti perasaan calon suami kamu."
"Nggak, Mas Frans nggak apa-apa, kok. Kamu liat sendiri kan dia yang ntar aku ke sini."
"Iya sih, tapi ...."
Belum selesai satu kalimat diucapkan, dengan cepat Karin memangkasnya. "Aku cuma mau tahu kabar penyakit kamu, Mas. Apakah sekarang sudah semakin membaik?" Kekhawatiran tampak jelas dari raut wajahnya.
"Masih seperti dulu, belum ada kemajuan."
Karin mengerutkan keningnya. "Kok bisa? Selamat 3 bulan ini kamu menjalani pengobatan dengan baik, kan? Atau jangan-jangan kamu malah menghentikan pengobatan?"
"Nggak. Aku menjalani semua pengobatan sesuai dengan yang dokter sarankan, Aku melakukan semuanya. Tapi, kenyataannya aku memang masih seperti ini, penyakit itu masih betah berada di tubuh aku," jelas Dani seraya melirik sekilas ke arah Frans yang saat ini tengah tersenyum sinis sambil berdiri di belakang Karin.
"Kamu jangan putus asa ya, Mas. Terus lakukan pengobatan walau hasilnya belum kelihatan, kamu harus kuat melawan penyakit kamu."
"Iya, Rin. Aku akan terus berjuang melawan penyakit ini."
Tidak kuat menahan tangis, akhinya air mata pun jatuh menetes, tanpa diketahui oleh Frans. "Semoga semuanya cepat berlalu ya, Mas. Semoga kamu cepat sembuh."
"Iya, terima kasih ya, Rin."
"Sama-sama, Mas."
"Cuma itu yang mau kamu sampaikan?" Seru Frans memangkasnya obrolan antar Karin dengan Dani.
"Iya aku tau." Setelah bicara dengan Frans, Karin kembali bicara kepada Dani. "Besok aku sama pak Frans akan menikah. Aku meminta restu dari kamu."
"Aku merestui hubungan kalian, Rin. Menikahlah dan hidup bahagia."
"Besok pagi jam sepuluh, kamu bisa hadir kalau mau." Kali ini Frans yang bicara.
"Baik, Pak."
Tidak ada yang perlu lagi dibicarakan, Frans pun mengajak Karin pulang. "Sepertinya pertemuan ini sudah cukup. Ayo kita pulang!"
"Iya, Mas," jawab Karin terus menatap sendu wajah Dani. Setelah Frans menepuk lembut pundaknya, ia pun menoleh ke belakang.
"Kamu duluan ke mobil, nanti aku nyusul," titah Frans.
Tanpa bicara lagi, Karin pun meninggalkan mereka berdua dan masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. Setelah Karin masuk ke dalam mobil, Frans bicara empat mata dengan Dani, pembicaraan yang tidak boleh diketahui oleh Karin.
"Saya akan mengadakan pesta di apartemen, kamu bisa hadir sekalian ajak pacar kamu." Frans bicara setengah berbisik.
"Iya, Pak."
"Saya mau Karin segera melupakan kamu, melupakan masa lalunya."
"Tenang aja, Pak. Nanti saya datang sama pacar saya. Tapi untuk ajak pacar ...."
"Saya tau, nanti saya transfer uangnya."
"Siap, Bos. Saya jamin Karin akan segera melupakan saya dan segera mencintai Anda."
"Harus. Saya nggak bisa menunggu lebih lama lagi, karena sampai sekarang dia masih mengabaikan saya. Mulailah memikirkan cara lain agar Karin cepat melupakan kamu."
"Baik, Pak."
Selesai bicara dengan Dani, Frans pun berlalu pergi dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Dia melihat bekas air mata masih menempel di pipi tirus Karin, punggung tangannya juga tampak basah. Itu artinya saat dia masih di luar, Karin menangis secara diam-diam.
"Kamu menangis?"
Tanpa berkata, Karin menggelengkan kepala, lalu Frans menyerahkan selembar tisu kepadanya. "Hapus air matamu, aku nggak suka kamu menangisi pria lain."
Karin mengambil tisu yang diberikan, lalu mengusap sisa air mata di pipinya, juga pungung tangannya.
"Mas Frans mengerti bagaimana proses perceraian kami, berikan aku waktu untuk menyesuaikan diri."
"Apakah waktu tiga bulan itu nggak cukup buat kamu melupakan mantan suami kamu?"
"Mas Frans nggak pernah jatuh cinta, ya? Orang pacaran aja butuh waktu bertahun-tahun buat melupakan mantannya, menurut Mas Frans aku yang bercerai dan sudah memiliki anak, membutuhkan waktu berapa lama untuk melupakan semuanya? Apakah Mas pikir cukup dengan waktu tiga bulan?"
"Terus mau kamu apa?" Suara Frans membentak. "Kamu akan tetap mencintainya seumur hidup?"
"Akan butuh banyak waktu lebih dari dua tahun dan aku harap Mas Frans bisa mengerti aku."
"Kamu wanita cerdas, Rin. Kamu nggak butuh waktu bertahun-tahun untuk melupakan Dani dan suatu saat kamu pasti tahu mana cinta yang tulus, mana yang hanya modus."
"Mas Frans yakin kalau cinta Mas tulus?"
"Aku nggak perlu menjelaskan apa pun, kamu akan tahu sendiri nanti."
"Dengan meminta aku dari mas Dani aja udah ketahuan bagaimana sifat kamu. Sekarang sok-sokan bilang cinta yang tulus."
"Dan, cinta tidak akan pernah melepaskan pasangan sekalipun nyawa sebagai taruhannya. Sampai sini kamu paham?"
"Mas Dani juga berhak hidup, Mas." Karin bicara sambil menetap wajah Frans dengan penuh keberanian.
"Untuk apa hidup kalau kehilangan orang yang kita cintai? Kalau aku sendiri, lebih baik aku mati dari pada harus kehilangan kamu."
"Kalau begitu, kembalikan aku ke mas Dani!"
"Untuk apa? Kamu sudah dibuang dan hanya aku tempat kamu berlindung."
Saat Karin akan membalas ucapan Frans, Frans memangkasnya. "Hentikan perdebatan ini! Jangan merusak mood aku yang sedang bahagia, Rin. Tolong!"
Karin diam, Frans melanjutkan bicaranya. "Kamu meminta pengertian dari aku? Aku pun meminta itu dari kamu. Tolong hargai aku sebagai calon suami kamu, sedikit saja hargai perasaan aku. Toh, selama ini aku memperlakukan kamu dengan baik. Bisa, kan?"
Yang dikatakan Frans benar. Sejauh ini Frans tidak pernah berbuat macam-macam, dia selalu memberikan yang terbaik, berusaha membuat Karin merasa nyaman. Hanya saja, Karin yang masih mencintai Dani, terkadang melupakan kebaikan itu.
Tidak mau menjawab apa pun, Karin menyandarkan tubuhnya pada sandaran jok, Melihat ke arah luar sambil melingkarkan kedua tangannya di d**a.