T 58 Ruang bernuansa hijau terasa hening. Kedua orang yang berada di tempat itu, tidak saling urun suara. Mereka sama-sama mengarahkan pandangan ke televisi yang tergantung di dinding, yang sedang menayangkan berita. Detik berlalu menjadi menit. Pria bersweter hitam motif abstrak, mengecek arloji di pergelangan tangan kiri. Dia mengalihkan perhatian pada perempuan yang rambutnya telah dipangkas pendek, yang balas menatapnya dengan sorot sendu. "Sudah malam. Aku harus pamit," ucap Marcellino. "Makasih udah datang," sahut Tiffany dengan suara pelan. "Sampaikan salamku pada orang tuamu." "Hu um." Tiffany terdiam sejenak, lalu bertanya, "Mas ke sini lagi, kapan?" "Belum tahu. Beberapa hari lagi aku mau kembali ke Darwin." "Yang kemarin, belum selesai?" "Sudah." "Lalu, buat a

