Alisa uring-uringan. Bosan katanya setelah dua hari teman-temannya pulang. Ditambah aku mengatakan kalau Roy menyukainya, bukan menyukaiku. Pikiran Roy menyukaiku itu berawal dari pikiran Alisa yang sok tahu, jadi aku ikut berpikir yang enggak-enggak. Bukan masalah sukanya, malunya itu. “Suruh Roy aja dateng buat jemput lo jalan-jalan.” Aku meraih ponsel di atas meja dan mulai merebahkan badan di sofa. “Gue udah bilang, Roy itu bukan tipe gue banget. Lagian dia udah kayak dukun, yang ada dia ntar ngomongin setan teros. Males gue.” “Lha, kan bagus, dia juga bisa ngobatin orang kesurupan, tuh, si Nita aja sembuh.” Alisa mencebik. “Kalau sama Samuel mau? Ntar gue suruh dia telpon kalau mau.” Aku jadi ingat Sam lagi. Tapi Alisa keliatan lagi ngg

