Aku membekap mulut kuat-kuat. Di dalam sana, Arman dan Nita sedang ... “Ngapain di sini malem-malem?” Suara seseorang mengejutkanku. Roy? Sontak kutempelkan telunjuk di bibir, dan sedikit mendorong tubuh Roy menjauh. Tapi kedua kakinya menahan kuat. “Ada apa, sih?” tanyanya curiga, namun sesaat kemudian barulah ia sadar apa yang terjadi di dalam sana. “Arman, Nita?” Dua makhluk tak tahu malu itu menoleh secara bersamaan. Kaget bercampur malu keduanya menutupi tubuh masing-masing menggunakan baju yang mereka ambil berserak di lantai. “Roy? Felicia?” ucap keduanya tak kalah terkejut. “Keterlaluan kalian!” teriak Roy dengan telunjuk mengacung tepat di wajah sepasang kekasih tanpa busana itu. Aku pun jijik melihat keduanya. Roy membanting pintu hingga menyuarakan debuman ker

