Angin pagi berhembus lebih kencang saat Tiara melesat menembus semak belukar yang setinggi pinggang. Setiap langkahnya terasa berat karena tanah yang licin dan akar pohon yang menjulang tak terduga, namun ia terus memaksakan diri melaju secepat mungkin. Di dadanya, bungkusan kain berisi dokumen-dokumen penting itu terikat rapat, seolah menjadi jantung kedua yang berdetak lebih cepat dari jantungnya sendiri. Jika benda itu jatuh, hilang, atau jatuh ke tangan Reza, maka semua pengorbanan mereka termasuk nyawa Satria yang kini tergantung tipis akan menjadi sia-sia. Di belakangnya, suara teriakan dan gesekan ranting semakin mendekat. “Di sana! Jangan sampai dia lolos!” teriak salah satu pengejar, diikuti oleh suara langkah kaki yang bertambah banyak. Tiara tahu dirinya tidak bisa berlari sela

