“APA KAU GILA!” Wajah Ethan menegang, rahangnya mengeras seperti batu. Dan mata kecoklatan, yang biasanya berkilau penuh pesona, kini menyala-nyala seperti bara api yang siap membakar. Anya terdiam tak bisa berkata melihat wajah Ethan yang sangat marah. “Kau .. kau bercanda, kan?” suara tertahan, ia masih mencoba untuk tidak memarahi Anya yang saat ini masih membutuhkan perawatan. Tangannya mengepal erat, urat-urat di tangannya menonjol. Anya menelan ludah, jantungnya berdebar seakan ingin meledak. Ia tahu Ethan pasti murka dan sulit menerima keputusannya membatalkan kontrak nikah. Tapi, ia tak punya pilihan lain selain menyerah. “Maafkan aku,” jawab Anya dengan suara bergetar dan menundukkan kepala takut melihat wajah marah Ethan. “Dua miliar,” desis Ethan. Seketika Anya mengangka

